Dua Pekan PPKM di Kota Bogor, Angka Covid-19 Tembus 1.291 Kasus

by -
Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim saat diwawancarai awak media. (foto:Naurah-Magang/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Penambahan kasus positif Covid-19 selama dua pekan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM di Kota Bogor tahap pertama (11-25 Januari 2021), menyentuh angka 1.291 kasus.

Tak hanya itu, penambahan harian di Kota Bogor juga sempat mencapai pada titik tertinggi, dimana dalam sehari terkonfirmasi ada 120 kasus positif Covid-19 saat PPKM di Kota Bogor.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 Kota Bogor, Dedie Rachim menuturkan, penerapan PPKM salah satu upaya untuk mencegah penularan lebih luas. Sebab berdasarkan prediksi pakar epidemiologi pada tahun lalu, kasus positif di Kota Bogor pada 2021 ini akan menyentuh 70.000 kasus terkonfirmasi positif, jika tidak bisa dikontrol oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Baca Juga  Makna Isra Mikraj, SDN Polsat Siap Perkuat Akidah Islam

“Prediksi kasus bila tanpa PPKM justru diatas angka sekarang,” ujar Dedie kepada Metropolitan.id, Senin (25/1).

Saat ini rata-rata penambahan kasus positif di Kota Bogor selama dua pekan PPKM setiap harinya sekitar 92. Berdasarkan catatan Satgas Covid-19 Kota Bogor, total kasus terkonfirmasi positif ada 7.507 orang, dengan rincian 1.427 orang dinyatakan masih sakit, 5.931 orang dinyatakan sudah sembuh dan 149 orang meninggal dunia.

Dari banyaknya kasus positif Covid-19 di Kota Bogor, Dedie pun mengungkapkan kalau klaster keluarga masih menjadi momok bagi Pemkot Bogor, dimana klaster keluarga menjadi penyumbang kasus positif Covid-19 terbanyak.

“Penambahan kasus terbanyak masih di klaster keluarga karena bisa jadi mereka yang melakukan isolasi mandiri di rumah kondisi kediaman kurang memadai atau masih belum disiplinnya anggota keluarga sehingga terpapar di rumah,” ungkap Dedie.

Baca Juga  Haduh, Gedung Dewan Rp72 Miliar Bocor

Lebih lanjut Dedie mengungkapkan untuk menekan angka penularan dari klaster keluarga, Pemkot Bogor masih mencari hotel untuk dijadikan sebagai tempat isolasi bagi pasien OTG.

Meski sudah membangun pembicaraan dengan pihak hotel melalui Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Dedie mengaku masih ada pertimbangan khusus untuk menunjuk hotel sebagai tempat isolasi pasiem Covid-19.

“Semua hotel sudah komunikasi lewat PHRI. Tapi permasalahannya itu banyak, terkait management gedung, sirkulasi udara, tenaga pelayan, kitchen dan pengelolaan limbah medis. Sehingga perlu pertimbangan-pertimbangan khusus,” pungkasnya. (dil/b/ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *