Kondisi Kian Kumuh, Terminal Bubulak Bogor Jadi ‘Kuburan’ Bus PDJT

by -
Kondisi Terminal Bubulak kian kumuh karena jadi 'kuburan' bus PDJT. (Foto:Varel-Magang/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Sengkarut persoalan di Terminal Bubulak tidak hanya berhenti soal belum pernah direvitalisasi sehingga terlihat sangat kumuh dan tak terurus itu.

Terminal yang dijadikan sebagai pool bus Trans Pakuan milik Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) itu juga sekarang bak kuburan bus yang terbengkalai.

Lusinan bus Trans Pakuan hanya terparkir di sudut terminal dan menanti untuk dibesituakan. Sebab PDJT sendiri tengah berada diambang kepailitan, jika DPRD Kota Bogor tidak menyetujui restrukturisasi perusahaan pelat merah itu.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor mengklaim punya skenario untuk mengembalikan Terminal Bubulak ke masa jayanya. Wacana terminal batas kota yang ingin menyatukan terminal Bubulak dan Laladong bagaikan dongeng belaka.

Tapi rencana pembangunan Park and Ride jelas menjadi langkah serius yang akan diambil oleh Dishub Kota Bogor. Sebab pemerintah pusat sudah melakukan pengecekan lapangan pada Kamis (14/1), untuk segera merealisasikan pembangunan Park and Ride di perbatasan Kota Bogor itu.

“Melalui BPTJ saat ini tengah dibuat DED (Detail Engineering Design, red) pembangunan Park and Ride dan kita tengah menunggu hasil final,” ujar Sekretaris Dishub Kota Bogor, Agus Suprapto.

Sedangkan untuk menyelamatkan PDJT, Kepala Dishub Kota Bogor Eko Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah pusat melalui Badan Pengeloloa Transporatasi Jabodetabek (BPTJ) mengaku siap memberikan bantuan sebesar Rp81 miliar melalui program Buy The Service (BTS) atau disebut sebagai subsidi untuk pengoperasian bus Trans Pakuan dan siap disalurkan tahun depan.

Baca Juga  Setengah Hati Kelola Transportasi

“Kita sudah hitung dari Dishub dan konsep yang siap itu dari Dishub Kota Bogor. Jadi BTS ini tahun depan sudah diagendakan seperti itu,” kata pria yang akrab disapa Danjen.

Lebih lanjut, Danjen menjelaskan, BTS ini rencananya akan diterima oleh Pemkot Bogor untuk lima koridor pelayanan angkutan kota.

Diantaranya adalah koridor satu dengan jumlah 15 bus, yang mencangkup layanan dari Baranangsiang sampai ke Cisarua.

Lalu, koridor dua dengan jumlah 10 bus yang mencangkup layanan dari Baranangsiang sampai ke Dramaga.

Koridor tiga dengan jumlah 10 bus yang mencangkup layanan dari Baranangsiang sampai ke Cibinong.

Koridor tujuh dengan jumlah tujuh bus yang mencangkup layanan dari Baranangsiang sampai ke Sentuk City.

Koridor delapan dengan jumlah 10 bus yang mencangkup layanan dari Bubulak sampai ke Ciawi.

Terakhir, koridor Sembilan dengan jumlah 10 bus yang mencangkup layanan dari Bubulak sampai ke Ciawi via Lawang Gintung.

“Jadi Pemerintah itu membeli layanan. Kami juga sedang merayu pemerintah pusat agar bantuan ini bisa untuk PSO bus. Jadi berapa pun jumlah penumpang, itu sudah dihitung,” ungkapnya.

Baca Juga  Abah Heri Galang Dukungan Sambil Bantu Warga

Sebab, berdasarkan Pasal 5, Peraturan Menteri Perhubungan nomor 9 tahun 2020, tentang pemberian subsidi angkutan umum perkotaan, menyebutkan bahwa subsidi angkutan umum diberikan kepada trayek tertentu. Selain itu, didalam pasal 10 juga disebutkan, bantuan diberikan kepada perusahaan angkutan umum melalui proses pemilihan dan pelelangan diikuti oleh badan usaha berbadan hukum yang bergerak di bidang angkutan umum.

Sehingga dengan begitu, Pemkot Bogor pun berencana memajukan PDJT dan menunjuk lima koridor bus trans pakuan, yang akan didanai oleh BTS.

Sebelumnya, keberadaan Terminal Bubulak di Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, makin menyedihkan. Kesan kumuh, kotor dan tidak terawat, bak sarang penyamun menjadi pemandangan yang akan anda temui jika berkunjung ke terminal yang dibangun sejak 2001 itu. Bahkan aspal yang ada pun banyak yang berlubang.

Kondisi terminal yang sempat berjaya diawal 2000-an ini berubah drastis karena tidak pernah mendapatkan perawatan fisik. Kepala Terminal Bubulak, Sumardhono mengaku sejak dibangun, terminal tipe C ini tidak pernah direvitalisasi.

“Belum pernah (revitalisasi fisik, red). Kita paling revitalisasi hanya pengaspalan saja, tapi kan sekarang rencananya mau melalui pusat, tapi kita sampai sekarang belum dapat kabar lagi,” katanya kepada Metropolitan.id, Kamis (14/1).

Baca Juga  Ariel Noah Ganti Rambut Sesuai Mood

Terminal kebanggaan warga Bogor Barat ini, pertama kali dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke DKI Jakarta dengan menggunakan transportasi Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB).

Sumardhono menerangkan, terdapat empat trayek APTB yang masih beroperasi hingga kini. Diantaranya adalah Bubulak – Rawamangun, Bubulak – Grogol, Bubulak – Senen dan Bubulak – Blok-M.

“Memang sampai sekarang masih beroperasi, cuma karena Covid-19 yang beroperasi hanya sedikit, selain sewa yang mahal dan penumpang sedikit, jadi PO bus itu prinsipnya yang penting hanya melayani saja,” jelas Sumardhono.

Sedangkan untuk pelayanan angkutan dalam kota (Angkot), Sumardhono mengungkapkan terdapat beberapa angkot yang melayani dari terminal Bubulak. Diantaranya adalah angkot trayek 32, 02, 03 dan 14.

Hanya saja, angkot-angkot tersebut tidak masuk kedalam terminal karena minim penumpang.

Semakin tergerusnya eksistensi Terminal Bubulak selain karena adanya pandemi Covid-19, tapi juga dikarenakan munculnya Terminal Laladon yang hanya berjalan 1,2 kilometer saja dari Terminal Bubulak.

“Sebelum ada terminal Laladon itu kita ramai, jadi angkot itu masuk semua kan ke kita. Tapi karena Laladon lebih strategis jadi pengguna jasa lebih pilih kesana,” ujar Sumardhono. (dil/b/ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *