Kurangnya Edukasi Seks Sebabkan Tingginya Angka Aborsi

by -

Masa remaja ditandai dengan banyaknya rasa ingin tahu pada dirinya dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Saat ini tingkat kasus perilaku seksual pranikah cukup tinggi, seperti yang pernah penulis baca dalam beberapa artikel terkait kurangnya seks edukasi menyebabkan perilaku remaja yang menyimpang.

Oleh : Rika Nurul Azizah

Seks edukasi saat ini bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan, bahkan jika didiamkan dan diabaikan kita semua itu akan berdampak buruk pada keberlangsungan hidup remaja. Seks edukasi dapat di berikan oleh para orang tua, guru dan pelayanan kesehatan setempat.

Pada usia remaja sendiri sedang berada di fase malas mendengarkan nasihat orang lain apa lagi jika yang disampaikan membosankan. Maka dari itu disinilah tugas untuk menyampaikan seks edukasi dengan menarik perhatian dan tidak membosankan.

Mereka yang telah mendapatkan seks edukasi akan lebih bijak dalam bertindak, apalagi terkait perilaku seksual. Mereka juga bisa memilih yang mana yang baik dan yang buruk serta bisa memperkirakan hal apa saja yang kiranya hanya dapat merusak masa depan mereka sendiri.

Baca Juga  Dokter Aborsi 903 Janin, Pasien Rata-rata Hamil di Luar Nikah

Walaupun tidak menutup kemungkinan pula bahwa ada saja remaja yang walaupun sudah mendapatkan seks edukasi serta mengetahui dampak-dampak dari seks pranikah namun tetap saja melakukannya.

Bahkan tidak jarang mereka yang sudah paham dengan seks edukasi malah lebih mahir dalam berperilaku seks pranikah, misalnya memakai pengaman atau melakukan diwaktu-waktu tertentu agar sang perempuan tidak hamil.

Sebenarnya semuanya kembali lagi pada pribadi masing-masing, namun sangat disayangkan pada usia remaja melakukan hal yang tidak bermanfaat. Dampak dari perilaku seks pranikah tentunya adalah kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual dan gangguan mental. Mereka yang sering melakukan seks pranikah tidak menutup kemungkinan akan mengalami kehamilan.

Mungkin sebagian dari mereka akan melanjutkan kehamilannya namun tidak sedikit juga diantara mereka yang memilih jalan untuk menggugurkan kandungan mereka dengan apapun caranya. Mereka yang memilih untuk menggugurkan kehamilannya biasanya meminum obat-obatan, jejamuan, pergi ke paraji (dukun beranak) atau mendatangi bidan yang masih menerima aborsi seperti itu.

Aborsi sebenarnya diperbolehkan tapi jika itu mengancam sang ibu dan bayinya atau yang sering dikenal dengan aborsi non sukarela. Aborsi seperti ini akan dilakukan oleh bidan atau dokter yang berpengalaman dan tentunya juga dengan persetujuan keluarga.

Baca Juga  Belanda Akan Galang Dana Terkait Aborsi

Namun aborsi yang tidak diperbolehkan dan dapat dikenakan hukum pidana. Tindak pidana aborsi dimasukkan ke dalam Bab XII Buku II KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa yaitu pada Pasal 346, 347, 348, 349 KUHP, selain itu juga diatur dalam Pasal 299 KUHP. Tetapi Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan secara khusus mengatur tentang pengecualian larangan aborsi.

Tentu saja aborsi bukan hanya termasuk hal yang dapat dikenai pidana namun juga dapat membahayakan diri sendiri seperti pendarahan hebat bahkan kematian. Seperti yang pernah penulis baca dari salah satu artikel yang menunjukan bahwa masih ada saja bidan yang membantu pasiennya aborsi padahal tidak ada indikasi kesehatan yang membahayakan sang ibu dan bayinya tersebut. Hal seperti itu tentu saja akan dikenai hukuman sebagaimana seharusnya hukum berjalan.

Bahaya lain dari perilaku seks pranikah adalah penyakit menular seksual yang akan  terjadi pada mereka yang sering berganti-ganti pasangan dan tidak memperhatikan kebersihan bagian reproduksinya sehingga dapat menyebabkan terjadinya penyakit tersebut.

Baca Juga  Dihamili Pacar, Aku Terpaksa Pilih Aborsi (1)

Yang terakhir adalah gangguan mental, ini dapat terjadi karena banyak ditemukan kekerasan seksual yang dialami oleh seorang perempuan dari kekasihnya sendiri. Itu biasa terjadi ketika mereka memang sudah biasa melakukan hubungan seksual namun pada satu waktu didapati sang perempuan menolak untuk melakukannya, maka saat itu sang kekasih akan marah dan melakukan kekerasan pada perempuannya. Hal ini biasa terjadi di kota-kota besar dan pedesaan. Yang seperti ini jika terus dibiarkan akan menyebabkan gangguan mental mereka.

Pada akhirnya seks edukasi memang bukan hal yang dapat menghentikan perilaku seks pranikah pada remaja dalam waktu singkat, namun seks edukasi dapat menjadi upaya pencegahan untuk para remaja dan siapa saja agar dijauhkan dari bahaya aborsi dan dampak lain yang juga dapat merugikan masa depan remaja itu sendiri. (*)

*) penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *