Nggak Pernah Direvitalisasi, Terminal Bubulak Bogor Kian Kumuh

by -
Kondisi Terminal Bubulak, Kota Bogor, memperhatikan tidak terawat jalanan di dalam penuh dengan lubang. (Foto:Varel-Magang/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Keberadaan Terminal Bubulak, di Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, makin menyedihkan. Kesan kumuh, kotor dan tidak terawat, bak sarang penyamun menjadi pemandangan yang akan anda temui jika berkunjung ke terminal yang dibangun sejak 2001 itu. Bahkan aspal yang ada pun banyak yang berlubang.

Kondisi terminal yang sempat berjaya diawal 2000an ini berubah drastis karena tidak pernah mendapatkan perawatan fisik. Kepala Terminal Bubulak, Sumardhono, mengaku sejak dibangun, terminal tipe C ini tidak pernah direvitalisasi.

“Belum pernah (revitalisasi fisik, red). Kita paling revitalisasi hanya pengaspalan saja, tapi kan sekarang rencananya mau melalui pusat, tapi kita sampai sekarang belum dapat kabar lagi,” katanya kepada Metropolitan.id, Kamis (14/1).

Baca Juga  Pantang Menyerah Di Tengah Persaingan

Terminal kebanggaan warga Bogor Barat ini, pertama kali dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke DKI Jakarta dengan menggunakan transportasi Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB).

Sumardhono menerangkan, terdapat empat trayek APTB yang masih beroperasi hingga kini. Diantaranya adalah Bubulak – Rawamangun, Bubulak – Grogol, Bubulak – Senen dan Bubulak – Blok-M.

“Memang sampai sekarang masih beroperasi, cuma karena Covid-19 yang beroperasi hanya sedikit, selain sewa yang mahal dan penumpang sedikit, jadi PO bus itu prinsipnya yang penting hanya melayani saja,” jelas Sumardhono.

Sedangkan untuk pelayanan angkutan dalam kota (Angkot), Sumardhono mengungkapkan terdapat beberapa angkot yang melayani dari terminal Bubulak. Diantaranya adalah angkot trayek 32, 02, 03 dan 14.

Baca Juga  Wow, Penjualan Pertalite Tembus 5,8 Juta KL

Hanya saja, angkot-angkot tersebut tidak masuk kedalam terminal, karena minim penumpang.

Semakin tergerusnya eksistensi Terminal Bubulak, selain karena adanya pandemi Covid-19. Tapi juga dikarenakan munculnya Terminal Laladon yang hanya berjalan 1,2 kilometer saja dari Terminal Bubulak.

“Sebelum ada terminal Laladon itu kita ramai, jadi angkot itu masuk semua kan ke kita. Tapi karena Laladon lebih strategis jadi pengguna jasa lebih pilih kesana,” ujar Sumardhono. (dil/b/ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *