PN Bogor Gelar Sidang Lanjutan Pemalsuan Berkas Izin RS di Bogor, Rina Juliana jadi Saksi Mahkota Terdakwa Fikri Salim

by -132 views
Suasana sidang lanjutan kasus pemalsuan berkas izin RS di Kota Bogor yang digelar PN Bogor, Selasa (19/1). (Foto:Ryan/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Pengadilan Negeri (PN) Bogor kembali menggelar sidang perkara dugaan pemalsuan berkas pengajuan izin Rumah Sakit (RS) Graha Medika Kota Bogor, dengan terdakwa Fikri Salim dan Rina Juliana, Selasa (19/1).

Pada sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Arya Putera Negara itu dimulai sekitar pukul 11:00 WIB dan beragendakan pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Yakni Rina Juliana dihadirkan menjadi saksi mahkota atas terdakwa Fikri Salim.

Dihadapan majelis hakim, Rina menerangkan bahwa ja mengenal dengan Fikri Salim pada saat mendampingi Slamet Isnanto untuk pengurusan perizinan pembangunan rumah sakit.

“Iya, saya kenal, dari pak Isnanto. Pada akhir tahun 2015, pak Isnanto minta didampingi untuk bertemu dengan pak Fikri. Pada saat itu pak Isnanto diminta untuk membantu mengurus perizinan Rumah Sakit Graha Medika di Kota Bogor,” katanya.

Rina pun menerima jasa pengurusan perizinan sekitar 20 item. Berkas-berkas dibutuhkan dalam permohonan perizinan di DPMPTSP didapat dari Isnanto.

Ketua majelis hakim kemudian menanyakan perihal surat kuasa dalam pengurusan perizinan, Rina menyatakan ada. Pada saat itu, kata Rina, Isnanto yang meminta dirinya menandatangani surat kuasa.

Permohonan perizinan itu diiajukan atas nama PT Muhammad Medika Abadi. Selain rumah sakit, Rina juga mendapat permintaan untuk pengurusan perizinan hotel Family yang lokasinya dekat dengan rumah sakit.
“Yang meminta bapak Fikri Salim,” ujarnya.

Baca Juga  Pledoi Ditolak, Terdakwa Kasus RS Graha Medika Bogor Kekeuh Nggak Terima Tuntutan Jaksa

Rina menjelaskan, dalam berkas dan gambar rumah sakit yang diterima untuk permohonan awal empat lantai dan 2 basemen. Permohonan awal disampaikannya telah selesai.

Lalu, sambung Rina, ada pengurusan IMB perluasan untuk rumah sakit dengan penambahan dua lantai atas permintaan Fikri. Untuk pembiayaan IMB perluasan tersebut sekitar Rp30 juta dan dinyatakan telah selesai.

“Untuk surat kuasa (hotel Family) pada saat itu saya lupa,” ujarnya.

Rina mengaku menerima sejumlah uang untuk pengurusan perizinan per item dari Isnanto. Sedangkan dari Fikri sendiri diakuinya tidak ada.

Dalam persidangan, JPU membacakan hasil lab Bareskrim Mabes Polri terhadap beberapa lembar berkas, diantaranya tanda terima IPPT, surat kuasa dan surat pernyataan disimpulkan bahwa tanda tangan Dr Lucky Azizah merupakan tanda tangan karang atau berbeda dengan aslinya.

Selain itu, JPU juga memperlihatkan bukti dalam berkas perkara berupa rekening atas nama Rina Yuliana.

Terkait Sertifikat Laik Fungsi (SLF), Rina mengatakan dokumen dimaksud tidak keluar karena tugasnya hanya sampai penyelesaian IMB rumah sakit.

Ia lalu menjelaskan, setelah disurvei dengan dihadiri instansi terkait, bangunan tidak sesuai dengan IMB dan ada banyak revisi bangunan. Salah satunya siteplan.

Baca Juga  PN Bogor Gelar Sidang Terdakwa Fikri Salim, Hadirkan Saksi dari JPU

“Pada tahun 2019 itu bapak Fikri menghubungi untuk diminta membantu pengurusan izin operasional. Namun disitu saya menjelaskan sebelum mengurus izin operasional itu harus mengurus laik fungsi,” jelasnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum Fikri Salim kepada saksi mempertanyakan perihal kerjasama pengurusan perizinan dengan Isnanto.

“Saya berkerja kepada pak Isnanto kurang lebih dari tahun 2013. Untuk pengurusan perizinan rumah sakit kurang lebih sekitar satu tahun. Hotel Family terpisah,” jawab Rina.

Kepada penasehat hukum, Rina juga mengatakan ia menerima uang jasa secara tunai. Sedangkan untuk surat kuasa menerima dari Isnanto yang kemudian ditandatanganinya.

Dalam persidangan tersebut, terdakwa Fikri Salim juga banyak melontarkan pertanyaan kepada Rina. Dia juga menyatakan keberatan dengan keterangan saksi saat ditanya ketua hakim.

“Intinya saya keberatan bahwa saya tidak mengurus atau mengetahui berkas-berkas yang diserahkan oleh Isnanto ke Rina. Saya hanya membantu dari segi pendanaan saja. Dan pak hakim, bahwa yang memohon direktur bukan Dr Lucky,” kata Fikri.

Sidang pun sempat diskors beberapa jam. Lalu dilanjut dengan pemeriksaan saksi Fikri Salim atas terdakwa Rina Yuliana.

Fikri mengaku memalsukan sejumlah kuitansi sebagai tanda bukti transaksi.

Baca Juga  PN Bogor Gelar Sidang Kasus RS Graha Medika, Fikri Salim Dituntut 8 Tahun Penjara

“Yang didikte itu hanya untuk pembuatan beberapa kwitansi untuk pencairan dana perizinan. Kalau untuk bon barang material yang dibeli asli dari toko,” katanya.
Fikri juga mengaku pernah diminta untuk memberikan uang kepada Rina sebesar Rp30 juta untuk survei agar proses berjalan lancar.

Dalam proses pembangunan RS Graha Medika, Fikri mengaku tidak memiliki SK atau surat tugas dari PT Muhamad Medika Abadi.

Lalu hakim meminta jaksa untuk menunjukan sejumlah dokumen yang berupa Surat Keputusan (SK) penunjukan Fikri Salim dari PT Muhamad Medika Abadi untuk mengurus proyek RS Graha Medika Abadi dengan 7 lantai dan basemant serta mengurus segala perizinan RS tersebut.

“Tidak pernah yang mulia,” ucap Fikri.

Tak hanya itu, Fikri juga mengaku tidak pernah menyuruh Junaedi membuat rekening BCA atas nama PT.

Namun Fikri memerintahkan Junaedi mengirimkan uang ke beberapa rekening keluarganya salah satunya Sadam Firdaus, keponakan dari Fikri Salim. Selain itu dihadapan Majlis Hakim Fikri juga menyuruh Junaedi membayar mobil dan pembayaran rekening listrik apartemen atas nama Wulan.

“Itu apartemen yang ditempati saya,” tandasnya.

Sidang pun baru selesai sekitar pukul 18:00 WIB dan akan dilanjutkan dengan agenda sidang pemeriksaan saksi kembali. (ryn)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *