Portofolio BPJS Ketenagakerjaan Berbeda dari Jiwasraya

by -
Fitzgerald Stevan Purba

METROPOLITAN.ID  – Penyidikan Kejagung RI atas BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) soal dugaan pengelolaan dana di bursa saham ramai jadi perhatian publik. Analis dan Pengamat Pasar Modal Fitzgerald Stevan Purba menyoroti terkait perbedaan pengelolaan dana antara BPJAMSOSTEK dan Jiwasraya.

“Pandangan kami terhadap kondisi kedua yang sangat kontras ini adalah portfolio BPJAMSOSTEK seharusnya dapat dipertanggungjawabkan lebih baik ketimbang portfolio Jiwasraya. Faktor risiko, yang ditunjukkan dengan perbedaan kinerja dengan indeks LQ-45 seharusnya lebih kecil pada BPJAMSOSTEK ketimbang Jiwasraya, dikarenakan 98% saham BPJAMSOSTEK adalah LQ-45. Sedangkan saham Jiwasraya hanya 5% yang LQ-45. Selama setiap saham diperoleh dengan harga wajar pada setiap sesi perdagangan maka akuntabilitasnya seharusnya jelas,” tandas Purba.

Menurut dia, saham LQ-45 adalah saham-saham yang listed di Bursa Efek Indonesia yang dimasukkan ke dalam suatu indeks yang disebut indeks LQ-45. Indeks ini diupdate dua kali dalam setahun terkait saham-saham mana saja yang masuk didalamnya hingga berjumlah 45. “Salah satu kriteria yang menentukan saham masuk dalam indeks ini adalah likuiditas, atau dalam hal ini kecepatan investor dalam mengumpulkan atau melepaskan suatu saham setiap sesi perdagangan. Semakin cepat tentunya semakin baik, terutama dalam persepsi investor besar atau institusional yang memiliki portfolio dalam jumlah sangat besar yang harus diinvestasikan,” bebernya kepada awak media.

Indeks LQ-45, beserta saham-saham didalamnya, lanjut Purba, tidak dapat dijadikan patokan baik atau buruk. Baik atau buruknya suatu saham ditentukan kinerja harga dari masing-masing saham tersebut. Selama harga semakin naik tentunya akan dikatakan investor baik, sebaliknya jika kinerja harga sahamnya turun terus maka dikatan buruk. Kinerja harga suatu saham bergantung pada kinerja keuangan riil emitennya, atau perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Semakin baik kinerja keuangan suatu emiten maka lazimnya akan tercermin dalam kinerja harga sahamnya yang semakin naik. “Dengan kata lain, dengan semakin cerah prospek suatu perusahaan, kinerja keuangan semakin baik, maka investor akan memilih untuk membeli saham emiten dengan harapan bahwa di masa yang akan datang perusahaan akan semakin baik, ataupun semakin besar. Hal ini tentunya akan tercermin pada harga saham emiten tersebut yang semakin naik,” jelasanya lagi.

Disinggung mengenai instansi pemerintah atau badan hukum publik, menggunakan saham LQ45 apakah bisa dikatakan aman. Purba berpandangan,banyak pengelolaan dana institusional yang besar, baik yang milik pemerintah ataupun yang bukan milik pemerintah, mengutamakan pembelian saham-saham LQ-45 didalam kebijakan internal pengelolaan dananya dikarenakan likuiditasnya. Soal saham aman [dari kinerja buruk hingga berakibat kepailitan emiten,red], kembali lagi pada kinerja keuangan masing-masing emiten dan bagaimana si pengelola dana dapat mengantisipasi segala risiko terkait kinerja keuangan dari emiten tersebut.

“Kondisi saat ini dari IHSG ataupun LQ-45 yang berkinerja positif dari awal tahun belum tentu tercermin pada portfolio pengelolaan dana setiap pengelola yang ada. Unrealized loss dapat saja terjadi dikarenakan si pengelola kebetulan memiliki persentase besar dari portfolio pada saham-saham ataupun sektor yang tidak berkinerja baik seperti LQ-45 secara keseluruhan,” jelasnya lagi.

Lebih jauh Purba menerangkan, unrealized loss merupakan potensial kerugian yang kita miliki dikarenakan harga pembelian kita masih lebih tinggi ketimbang harga pasar saat ini. Namun, unrealized loss yang terjadi pada kepemilikan suatu saham ini dapat saja berbalik menjadi unrealized profit dan sebaliknya dapat juga menjadi unrealized loss yang semakin memburuk yang kembali lagi bergantung pada kinerja keuangan emitennya. Selama kita dalam kondisi unrealized loss masih memilih untuk tetap memegang saham tersebut maka unrealized loss ini belum terealisasi. Hanya saat kita memilih untuk melepas saham tersebut dalam kondisi masih unrealized loss, maka kerugian kita sudan realisasi, atau pasti rugi.

Terkait BPJAMSOSTEK yang disebut menaruh saham pada jenis LQ45 sebesar 98 persen, Purba mengatakan, secara kinerja jika memiliki komposisi portfolio yang merupakan 98% saham LQ-45, maka kinerja portfolio seharusnya akan menyerupai kinerja LQ-45. Selain faktor yang sudah disebutkan tadi, yakni persentase besar pada saham ataupun sector yang salah, bisa saja kinerja berbeda dikarenakan harga rata-rata perolehan dari masing-masing saham dan timing beli dari masing-masing saham.

“Jika si Pengelola memilih untuk membeli ketika harga masih pada level tinggi dengan jumlah sangat banyak akan mempengaruhi kinerja secara keseluruhan. Sebaliknya ketika timing si pengelola membeli saat kondisi level harga lagi pada terendahnya maka kinerjanya akan jauh lebih baik,” tegasnya.

Ada faktor penentu dimana mungkin saja si pengelola memiliki investasi dalam jumlah signifikan pada saham-saham yang keluar dari indeks LQ-45 sehingga menarik turun kinerja si pengelola. “Agar lebih dapat dipastikan apakah kondisi unrealized loss saat ini wajar, maka harus melihat juga kewajaran harga perolehan dari setiap saham yang dimilikinya,” sambungnya.

Melalui Deputi Direktur Bidang Humas dan Antara Lembaga BPJAMSOSTEK Irvansyah Utoh Banja menjelaskan, per 31 Desember 2020, sebanyak 98% dari portofolio Saham BPJAMSOSTEK ditempatkan pada saham LQ45 sehingga kualitas aset investasi sangat baik. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.