Proyek Pedestrian Senilai Rp23,8 Miliar Molor, Warga dan Pedagang Disalahkan

by -

METROPOLITAN.id – Proyek pembangunan pedestrian di Jalan Edi Yoso, Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor dipastikan molor. Saat ini, proyek Rp23,8 miliar yang ditargetkan rampung akhir Desember 2020 ini progres pembangunannya baru mencapai 70 persen.

“Kalau mengacu kepada kontrak kerja, seharusnya pekerjaan pembangunan pedestrian ini bisa selesai 110 hari kerja atau sampai akhir Desember kemarin. Karena pekerjaannya belum selesai, makanya pembangunan ini dilanjutkan atau diluncurkan pada 2021,” kata Pelaksana Bina Teknik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor, Aldino Putra Perdana, belum lama ini.

Pemegang proyek dikenakan adendum berupa penambahan waktu kerja hingga 50 hari ke depan terhitung dari akhir Desember 2020.

Selain itu, pihak pekerja bakal dikenakan denda sebesar Rp21 juta per hari selama masa perpanjangan kontrak kerja berlangsung.

Baca Juga  Kenalkan Capres Nomor Satu ke Pedagang Pasar

“Karena ini diluncurkan, konsekuensinya pekerja bakal kena denda kerja setiap harinya. Kalau dihitung dari besaran anggaran kemungkinan dendanya sekitar Rp21 juta per hari,” bebernya.

Ada beberapa hal yang dijadikan alasan pekerjaan menjadi molor. Selain sempitnya waktu pengerjaan yang hanya 110 hari kerja, Aldino menyebut keterlambatan pembangunan pedestrian lantaran banyaknya pedagang di sepanjang lokasi pengerjaan.

Para pedagang dianggap kurang begitu merespon imbauan dan pemberitahuan dari pemerintah, sehingga pemberitahuan dilakukan secara manual.

Bahkan para pedagang, pemilik ruko dan warga disebut berbondong-bondong mengajukan pembukaan jalan untuk akses masyarakat sekitar dan pengunjung ruko.

“Banyak juga yang mengajukan bukaan jalan. Hal ini juga yang membuat pembangunan pedestrian terkendala,” ujarnya.

Tak hanya itu, Aldino mengaku keberadaan pasar tumpah di kawasan Stadion Pakansari juga menjadi kendala.

Baca Juga  Tni Ad Bantu Petani Olah Lahan Sawah

“Karena pada saat ada pedagang kaki lima dan pasar tumpah di Sabtu dan Minggu, pihak pekerja tidak bisa melakukan pembangunan pedestrian. Jadi waktu kerja efektif hanya lima hari dalam sepekan,” terangnya.

Sementara itu, Site Engineer pembangunan pedestrian, Zeina Tri Pamungkas juga menyalahkan pengajuan pembukaan jalan yang dilakukan masyarakat dan para pemilik kios. Hal itu ia sebut menjadi salah satu kendala pembangunan pedestrian tersebut.

“Masyarakat mengajukannya tidak serentak dan berangsur-angsur, itu yang membuat kami cukup kerepotan. Ditambah lagi dengan adanya pasar tumpah di kawasan Pakansari setiap akhir pekan, ini membuat kami tidak bisa bekerja,” katanya.

Padahal, pemegang proyek menyanggupi kontrak kerja pembangunan pedestrian dijadwalkan berlangsung 110 hari kerja. Namun alasan-alasan itu dianggap mengurangi waktu kerja pihaknya.

“110 hari kerja itu termasuk Sabtu dan Minggu. Tapi nyatanya kami bekerja tidak 110 hari, karena pada Sabtu dan Minggu kami tidak bisa melakukan pembangunan. Setidaknya ada 24 hari kerja, yang terbuang akibat dari adanya pasar tumpah di kawasan Stadion Pakansari,” bebernya.

Baca Juga  HUT ke-56 Golkar, Wanhai Dapat Kejutan dari Kader dan Pengurus

Pihaknya mengaku sudah berkirim surat kepada Dinas Perhubungan dan Satpol-PP Kabupaten Bogor kaitan keberadaan pasar tumpah tersebut. Namun sampai saat ini, belum ada solusi dari kedua instansi tersebut.

“Semoga saja bisa ada solusi dari pemerintah untuk permasalahan pasar tumpah ini. Karena ini tentu merugikan kami, yang seharusnya kami bekerja satu pekan selama tujuh hari, kami hanya bekerja selama lima hari, karena Sabtu dan Minggu kami tidak bisa bekerja karena adanya pasar tumpah ini,” kilahnya. (ogi/b/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *