Strategi Dinkes Atasi Covid-19 Bareng RS se-Kota Bogor Diapresiasi

by -
Ketua GMKB R Ridho. (Foto:dok pribadi)

METROPOLITAN.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor telah melakukan berbagai terobosan dan langkah strategis terkait upaya penanganan di tengah permasalahan pandemi Covid-19.

“Informasi dari relawan kesehatan kami, Dinkes telah menggerakkan dan membangun sinergitas RS swasta di Kota Bogor dengan mendorong penambahan kapasitas ruang isolasi, dengan konversi 35 persen tempat tidur rawat inap dijadikan tempat tidur isolasi penanganan Covid-19,” kata Ketua Gerakan Masyarakat Kota Bogor (GMKB) R. Ridho.

Menurutnya, langkah strategis yang ditempuh Dinkes itu ternyata mendapat respon yang baik dari RS swasta di Kota Bogor. Dari konversi yang dilakukan, pihaknya mencatat ada penambahan hampir 782 tempat tidur isolasi yang tersebar di RS swasta.

“Langkah ini patut diapreasi, laporan dari para relawan dilapangan, beberapa RS swasta pun menyambut baik. Bahkan menyetujui tempat tidurnya untuk isolasi Covid-19. Contohnya, RS Ummi yang menambah jumlah tempat tidur dan ICU-nya serta RS swasta lainnya,” ucapnya.

Selain itu, untuk pelayanan kesehatan Ibu dan Anak di Kota Bogor, Dinkes telah mendorong RSIA Sawojajar untuk melayani covid 19.

Baca Juga  Geng Motor Pelaku Curas Bogor Diringkus di Tasikmalaya

“Bisa kita lihat, saat ini RSIA Sawojajar telah menyediakan ruang operasi tekanan negatif dan ruang bersalin tekanan negatif, NICU dan ruang isolasi ” tanda Ridho.

Selain itu, Dinkes melalui program Kesehatan Ibu dan Anak telah melalukan Rapid dan swab gratis bagi ibu hamil di setiap tri semester

“Tdak hanya itu saja, Dinkes pun merangkul RS pemerintah yang ada di Kota Bogor, seperti RS Marzuki Mahdi meminta untuk menambah tempat tidur isolasi covid-19 dan ICU yang sekarang sedang dalam proses, dan yg sudah operasional yairu 125 tempat tidur dan 76 tempat tidur,” paparnya.

Dari laporan relawan kesehatannya, RS MM akan mengkonversi tempat tidur isolasi menjadi 210 tempat tidur. Lalu RS Hermina, menambah ICU isolasi menjadi 10 bed dan saat ini menjadi RS dengan ICU isolasi covid-19 terbanyak.

Baca Juga  Terdampak Proyek Rel Ganda, Jembatan Paledang Bogor Siap Dibongkar, Ini Rekayasa Lalu Lintasnya

“Lalu RS UMI total 182 bed. Padahal Maret 2020 awal pandemi hanya punya 2 bed isolasi. Pada Januari 2021 menambah ruang isolasi menjadi 66 bed. Saat ini menambah 1 ICU isolasi,” tukasnya.

“Kemudian RS Mulia Pajajaran total 108 bed, saat ini menambah ruang isolasi 57 bed, bahkan mengkonverai ruang VIP menjadi ruang isolasi. Sama seperti RS UMMI yang mengkonversi ruang VIP menjadi ruang isolasi covid-19,” jelas Ridho.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengapresiasi upaya yang dilakukan Dinkes Kota Bogor terkait konversi minimal 35 persen tempat tidur atau bed yang ada di RS-RS menjadi tempat tidur pasien Covid-19.

Buatnya, kolaborasi antar RS dalam penanganan Covid-19 di Kota Bogor tentu sangat baik, apalagi tak kurang ada 21 RS yang tersebar di Kota Hujan.

Baca Juga  Siap Beraksi Kembali, PSB Bakal Luncurkan Maskot Baru

“Betul. Kita minta mereka untuk memodifikasi ruang di masing-masing RS agar menjadi ruang bertekanan negatif dan menambah kapasitas utk rawat padien Covid-19, termasuk ICU dan ICCU khusus Covid-19,” kata Dedie.

Ia menambahkan, tak kurang dari 21 RS yang ada di Kota Bogor, menerapkan kebijakan serupa dalam penanganan Covid-19.

“Total 21 RS, termasuk RSUD Kota Bogor,” tegasnya.

“Soal minim anggaran, ya anggaran mah ada. Namun masalah penambahan ruang perawatan pasien Covid-19 bukan hanya masalah teknis dan anggaran saja, tapi juga masalah dukungan tenaga kesehatan dan dokter serta peralatan penunjang. Intinya kolaborasi antar RS tentu lebih baik apalagi di Kota Bogor ada 21 RS,” tutupnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *