Mantan Pengamen tanpa Empat Jari asal Bogor Jadi Bos Gitar, Omzet Rp300 Juta Ekspor ke Luar Negeri

by -

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Perumpamaan itu menggambarkan perjuangan Tonny Mahardia. Di tengah keterbatasan, pria asal Cileungsi, Kabupaten Bogor, itu mampu menjadi bos gitar.

MULANYA, Tonny hanyalah seo­rang pengamen jalanan. Kondisi fisik pria 35 tahun itu juga tak sem­purna, ia tak lagi memiliki empat jari pada tangan kirinya. Namun, kegigihan yang dila­kukan Tonny ber­buah manis. Kini ia memiliki toko gitar sendiri dan berpenghasilan Rp300 juta per bulan.

Perjalanan karier Tonny bermula di 2004, ketika ia bekerja di sebuah perusa­haan metal. Tonny mampu beradaptasi dengan baik di perusahaan tersebut, bisa dikatakan kariernya cukup moncer kala itu. Namun sayang, kejadian nahas me­nimpanya tepat ketika genap dua tahun bekerja. Tonny harus merelakan empat jari tangannya terputus mesin.

Usai kejadian malang terse­but, Tonny Mahardika beru­saha keras mengalahkan trauma yang membekas di dalam dirinya. ”Saya merasa sebagai orang yang tidak berguna ketika saya menga­lami kecelakaan itu. Saya harus meng-encourage diri saya bahwa diri saya itu ber­harga,” ujar Tonny.

Dua tahun usai kecelakaan itu terjadi, pabrik tempat Tonny bekerja melakukan PHK besar-besaran, Tonny men­jadi salah satu korban PHK tersebut. Sejak saat itu, Tonny pun beralih profesi menjadi seorang pengamen untuk menyambung hidup.

Baca Juga  Pengamen di Pasar Cibinong Kepergok Maling Motor, Nyaris Diamuk Massa

Tonny memilih profesi ini lantaran mudah, sembari ia mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Namun kondisi fisiknya tampaknya menyu­litkan untuknya mendapat pekerjaan.

Suatu ketika, Tonny merasa mendapatkan peringatan untuk tidak mengamen lagi. Di hari itu ia menemukan sebuah selebaran dari diler motor, di dalamnya bertulis­kan promo untuk kredit mo­tor dengan uang muka yang kecil, yakni Rp500 ribu.

Dari situ ia berpikir, angku­tan umum yang menjadi sa­sarannya untuk ngamen akan berkurang seiring bertambah­nya kepemilikan motor yang murah meriah.

”Nah di situ saya pikir ini banyak orang bakal punya motor nih, angkutan umum pasti bakal kurang, tempat ngamen saya hilang dong. Nggak bisa jadi pengamen lagi kalau gini,” tutur Tonny.

Tak butuh waktu lama, otak encernya berhasil mengelu­arkan ide cemerlang. Ia memu­tuskan menjadi pedagang suku cadang motor. Dengan gigih ia naik-turun kereta, memanggul dan menjajakan onderdil dari bengkel ke beng­kel yang ada di sekitar stasiun.

Bisnisnya moncer. Dalam kurun waktu empat bulan saja ia sudah mampu mem­beli motor baru dengan cash. Aset yang dijualnya pun sudah pernah mencapai 100 juta.

Pada saat itu Tonny sudah sangat optimis barangnya akan laku, sehingga hampir seluruh uangnya dibelanjakan mem­beli stok dan hanya menyisa­kan Rp1,2 juta untuk pegang­annya.

Baca Juga  Pengamen Diamankan Karna Memaksa Penumpang Bus

Sebagian dari uangnya itu digunakan untuk membayar kost senilai Rp500 ribu. Oto­matis sisa uang di tangannya tinggal Rp700 ribu.

Namun, kesuksesan yang ia raih tersebut tak bertahan lama. Sekitar tahun 2015, Tonny menghadapi serangan dari kompetitor yang men­jual barang impor dan mela­kukan perang harga. Hal ini membuat pelanggan Tonny menghilang. Padahal Tonny baru saja membelanjakan uangnya hingga puluhan juta guna membeli stok barang baru.

Singkat cerita, Tonny pun mulai bangkit dan menghibur diri dengan mengunjungi warnet. Saat itu, Tonny iseng mencari informasi bisnis yang bisa ia geluti di internet.

Tonny menemukan beber­apa platform e-commerce. Di 2015, platform e-commerce tak sebanyak sekarang, bah­kan bisa dibilang masih ter­golong dunia baru.

Tonny mulai mempelajari seluk beluk bisnis online ter­sebut. Namun, ia terkendala dengan produk apa yang akan ia jual, lantaran sparepart motor miliknya tak cocok di­jual eceran secara online.

Ia terus berpikir hingga akhir­nya menemukan ide untuk berjualan gitar. Ia memilih gitar lantaran ia sudah paham seluk beluk alat musik petik ini. Tanpa pikir panjang, Tonny membeli tiga buah gitar di salah satu agen pen­jual alat musik. Ia merelakan uang terakhir yang ia miliki.

Baca Juga  Kronologi Curanmor di Pasar Cibinong, Pelaku Ketahuan Gara-gara Balik Lagi Saat Ngamen

Tonny langsung memasarkan gitar tersebut di toko online miliknya. Bak gayung bersam­but, dagangannya laris manis. Sejak saat itu, dirinya mulai fokus untuk menekuni bidang bisnis satu ini.

Tonny mengawali kariernya di bisnis e- commerce secara bertahap. Mulai dari reseller, naik menjadi agen, kemudian distributor, dan kini ia berani memproduksi produk gitarnya sendiri.

Toko gitarnya terus ber­kembang, bahkan diminati pesohor Tanah Air. Omzet yang Tonny peroleh mencapai Rp300 juta dalam sebulan.

Tak ada yang menyangka jika pengamen tanpa empat jari ini mampu meraih kesuksesan di tengah keter­batasan. Kini Tonny telah bertransformasi menjadi sa­lah satu profil orang sukses Indonesia yang sangat inspra­tif.

Kini Tonny mengaku cukup senang dengan jalannya usa­ha gitar miliknya. Ia mengung­kapkan rencana ke depannya adalah membawa gitar pro­duknya bisa didistribusikan ke luar negeri. Ia sudah me­nargetkan lima negara, mulai dari Australia, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, dan Chi­na. ”Dari Australia ini dia su­dah terima sampel dari kita, sudah oke, tinggal tunggu lockdown-lockdown saja se­lesai di sana,” tandas Tonny. (kum/dtk/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *