Pasar Pakuan Jaya Diterpa Isu Terima Pungli di Teras Surken

by -
Direksi Perumda Pasar Pakuan Jaya saat ditemui awak media. (Foto:Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Pakuan Jaya diterpa isu tak sedap. Perusahaan pelat merah milik Kota Bogor itu dikabarkan menerima pungutan liar (pungli) dari pedagang di Teras Surken. Direktur Utama (Dirut) Perumda Pasar Pakuan Jaya Muzakkir pun membantah kabar tersebut dan tengah menyiapkan untuk melakukan laporan ke kepolisian.

“Kami sudah turun ke lapangan dan bisa kami buktikan tim internal kami tidak ada yang terlibat pungli itu, sebab memang untuk berjualan di Teras Surken tidak ada biaya. Tidak ada serupiahpun kami pungut dari pedagang,” katanya kepada awak media, Selasa (23/2).

Ia menegaskan, sejak awal untuk masuk ke Teras Surken tidaklah dipungut biaya. Hanya memang ada syarat administrasi tertentu seperti mengutakaman pedagang kuliner di kawasan Suryakencana, lalu kategori UMKM, jenis makanan yang khas dan ‘legend’, serta tidak ada jenis makanan yang sama dalam Teras Surken.

Baca Juga  Ditebas Celurit, ’Gladiator’ Pelajar Meregang Nyawa

Dari laporan pedagang yang jadi korban, tak tanggung-tanggung untuk masuk ke Teras Suken dimintai uang hingga Rp18 juta.

“Yang kena pungli itu bisa disebut kena penipuan, ada oknum yang meminta uang dengan menjanjikan bisa berjualan di Teras Surken, kami coba cek ke salah satu pedagang, memang ada penjual disana ada yang membayar sebesar Rp18 juta. Pedagang itu di janjikan bisa mendapatlan tempat di teras surken, tapi hal itu terjadi sebelum pedagang tersebut sebelum mendapat tempat,” ujarnya.

Pihaknya pun sudah meminta saran kepada kepolisian untuk langkah membuat laporan. Ia menegaskan baik korban maupun Perumda Pasar Pakuan Jaya bisa menjadi pelapor. Hanya saja, pedagang tetap akan harus dimintai keterangan sebagai saksi. Direksi pun bersiap untuk melakukan pelaporan apabila pedagang yang dirugikan akibat pungli tersebut siap menjadi saksi utama.

Baca Juga  Roda Enam atau Lebih ’Haram’ Masuk Puncak

“Sesuai intruksi pimpinan, kami akan proses kasus itu dengan melapor kepada polisi agar ada efek jera terhadap oknum tersebut. Kami sempat bicara dengan pedagang yang terkena pungli dan membenarkan hal itu. Tetapi ketika kami bilang akan diproses, pedagang ada rasa ketakutan dari korban, sehingga pedagang yang menjadi korban tersebut tidak mau jadi saksi. Ini yang sedang kami upayakan agar laporan kuat dan ada pembuktian,” tukasnya.

“Ini perlu pembuktian, karena jika ingin berjualan disana versi si pedagang yang menjadi korban harus ada pembayaran. Tetapi ketika dia berjualan, ternyata mendapat informasi dari pedagang lain tidak di pungut biaya sepeserpun. Untuk teras Surken ini memang kami mengedepankan sosial untuk membantu UMKM dan pedang kecil karena dari bagi hasil yang kami dapat sebesar 20 persen, belum bisa menutupi operasional. Meski begitu kami tidak menyerah dan tetap memperjuangkan teras Surken ini,” pungkasnya.

Baca Juga  Ada Kawat Di Perut Saya…

Di sisi lain, Muzakkir mengakui pihaknya masih belum puas terhadap perkembangan operasional Teras Surken. Apalagi saat launching juga berbarengan dengan pandemi Covid-19, yang dilanjutkan dengan pembatasan melalui PSBB. Sehingga membatasi operasional Teras Surken dan tidak bisa buka hingga malam hari.

“Kendala lain itu soal parkir. Akses mobil, susah cari parkir. Lalu konsep payung ini kalau hujan ya bubar. Kami sedang negosiasi dengan pemberi CSR supaya bisa singkronkan konsep yang ada, merubah demi kenyamanan,” tegasnya.

“Sekarang kan Kita korbankan kenyamanan itu. Kita utamakan masuk PKL sebanyak-banyaknya. Sebetulnya kalau dari kelayakan hanya 20-25 pedagang saja. Ini PR kedepan, kami rombak supaya bisa ramai. Tentu melibatkan beberapa SKPD di Pemkot Bogor juga,” tuntas Muzakkir. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *