Pengusaha Karaoke di Bogor Siap-siap Gulung Tikar

by -

Selama pandemi Covid-19 melanda, sudah jarang terdengar nyanyian tembang kenangan dari balik ruangan tempat karaoke di Kota Bogor. Kini jam operasional sejumlah tempat hiburan dibatasi. Bahkan diberikan stigma sebagai tempat paling rawan terjadinya penularan Covid-19. Alhasil, sejumlah tempat karaoke di Kota Bogor pun terancam gulung tikar.

SEPERTI yang dialami Oki, salah satu pemilik tempat karaoke keluarga di Kota Bogor. Oki mengaku men­galami kerugian yang cukup besar. Ia terpaksa harus me­nanggung beban pembaya­ran pajak, gaji karyawan, sewa gedung sampai listrik. Sementara pemasukan yang ia terima pas-pasan.

Apalagi jika mengingat saat awal pandemi, yaitu Maret hingga Oktober 2020. Bisnis miliknya ini sudah berdiri sejak 2013 dan tidak pernah tutup. Namun akhirnya pintu karaoke miliknya di kawasan Sukasari, Kecama­tan Bogor Timur, Kota Bogor ini harus digembok.

”Kita semua kaget, takut, bingung harus ngapain. Pas awal pandemi itu kita benar-benar buta dan pemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB dan kita harus tutup berminggu-minggu tanpa ada kejelasan kapan akan berakhir,” ujar Oki kepada Metropolitan, Rabu (10/2).

Seiring berubahnya kebi­jakan yang dikeluarkan Pe­merintah Pusat dan Pemerin­tah Kota (Pemkot) Bogor, tempat karaoke yang memi­liki 24 ruangan ini pun kem­bali beroperasi. Tapi apa daya, hilangnya pemasukan, mem­buat Oki harus memutar otak agar tidak mengalami keru­gian. Ia memutuskan hanya mengoperasikan delapan ruangan yang ada dan me­mangkas jumlah karyawan. ”Dari total 22 karyawan, se­karang tinggal 8,” ungkapnya.

Baca Juga  Asyik... 69 Tempat Karaoke Sudah Diizinkan Beroperasi

Bicara soal pendapatan, bisnis karaoke awalnya cukup menjanjikan. Bayangkan, ia bisa meraup omzet sebesar Rp250 juta setiap bulannya sebelum pandemi melanda. Namun sejak Covid-19, om­zetnya menurun drastis hingga 80 persen. Sedangkan pengeluaran setiap bulannya minimal Rp70 juta.

”Selama pandemi peng­eluaran setiap bulan pasti Rp70 juta-an. Itu untuk list­rik, gaji karyawan, belanja modal dan perawatan alat. Tapi memang paling berat itu listri. Walaupun nggak kita pakai ada biaya mini­malnya kan,” beber Oki.

Oki pun berharap pandemi Covid-19 segera berlalu. Tapi hal yang paling ia nan­tikan adalah adanya uluran tangan dari pemerintah ter­kait pelonggaran pembaya­ran pajak dan bantuan biaya listrik. Sebab, Oki sendiri saat ini tengah dipusingkan dengan biaya sewa gedung yang harus ia bayar akhir Februari nanti. Ia mengaku harus merogoh kocek sebe­sar Rp175 juta agar bisa men­jalankan bisnisnya di kawa­san Sukasari untuk setahun ke depan.

Baca Juga  Pemkot Bekasi Ingin Uji Coba Buka Tempat Karaoke

”Saya harap ada perhatian dari pemerintah, terutama untuk pengusaha tempat hiburan. Intinya, tempat hi­buran itu diberikan bantuan hibah tambahan modal. Se­lama delapan bulan vakum tidak ada penghasilan, tidak ada kompensasi apa pun. Meski pajak tidak ditarik karena tidak ada laporan pajak karena tidak opera­sional, biaya seperti listrik dan air sangat membebani,” keluhnya panjang lebar.

Kisah serupa dialami pe­milik bisnis karaoke yang enggan namanya dikorankan. Meski sudah mengampany­ekan tempat hiburan yang patuh akan protokol kese­hatan (prokes), kenyataannya masyarakat masih takut da­tang ke tempat hiburan ka­rena stigma yang diberikan pemerintah dan pakar kese­hatan. ”Orang-orang takut ke sini, padahal prokes kita dijalani. Kita merasa stigma masyarakat itu cukup nega­tif ke tempat hiburan,” ujar­nya.

Ia mengungkapkan, prokes yang sudah diterapkan di tempat karaoke miliknya, di antaranya pengecekan suhu tubuh, pembatasan jumlah pengunjung di dalam ruangan, pembersihan menggunakan disinfektan setiap ruangan usai digunakan dan melaku­kan rapid test kepada seluruh karyawan setiap bulannya.

Soal omzet, ia mengaku ke­hilangan 60 persen selama pandemi. ”Intinya, omzet kita turun hampir 60 persenan. Hampir Rp180 jutaan hilang. Pengeluaran sebulan untuk listrik saja abodemen Rp5 jutaan. Kalau ditotal bisa Rp50 sampai Rp80 jutaan. Kalau begini terus kita siap-siap gulung tikar,” keluhnya.

Baca Juga  Kacau, Saat Corona Rumah di Parungpanjang Malah Dibuat Tempat Karaokean

Harapannya juga sama se­perti Oki. Yakni mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa subsidi listrik dan air agar tidak terlalu mem­bebani biaya pengeluaran. ”Kita kan penyumbang pajak terbesar. Kita membantu pembangunan Kota Bogor. Giliran begini tidak diper­hatikan. Kita minta ke depan ada perhatian dari pemkot maupun pusat,” terangnya.

Jika menelisik ucapan pa­ra pengusaha karaoke, Penda­patan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor 2020 dari sektor pajak hiburan tercatat ada Rp10 miliar yang masuk ke Kota Bogor.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Anne D Rulianti, mengaku sudah memberikan bantuan kepada pengusaha bisnis hiburan untuk mendukung prokes yang dijalankan di tempat usahanya.

Sebab, menurut Anne, ka­lau bantuan hibah pariwi­sata belum ada kebijakan dari kementerian terkait karena bantuan Rp73 miliar sebelumnya hanya diperun­tukkan bagi pengusaha bis­nis hotel dan restoran. ”Ke­bijakan kita telah memberi­kan rekomendasi untuk tetap menjalankan usahanya dengan prokes yang ketat, menyesuaikan dengan atu­ran PSBB/PPKM,” ujarnya. (dil/c/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.