Deswaty Diningsih Pilih Mundur dari Balon Ketua Kadin

by -

METROPOLITAN – Drama menyelimuti proses Musya­warah Kota (Mukota) Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kota Bogor VII yang sedianya dilaksanakan pada 5 April. Salah seorang bakal calon Ketua Kadin Kota Bogor, ya­kni Deswaty Diningsih, me­nyatakan mundur lantaran merasa keluhan dan masukan untuk pelaksanaan Mukota Kota Bogor VII tidak menda­pat respons.

Didampingi Jubir Tim Sukses Noor Rafita, Deswaty menga­takan bahwa melewati satu tahun proses dari perjalanan Mukota Kadin Kota Bogor sudah dilalui begitu banyak lika-liku.

Ia pun membeberkan alasan mundur dari pencalonannya. Ia belum melihat perubahan dari pelaksanaan Mukota. Padahal beberapa waktu lalu dia terus berkoar dan me­minta mediasi menanyakan kejelasan mekanisme pemi­lihan. “Tapi sampai saat ini saya tidak mendapat per­kembangan apa pun,” katanya saat ditemui Metropolitan.

Wanita yang juga wakil ke­tua Kadin Kota Bogor peri­ode 2015-2020 Bidang Pari­wisata ini menjelaskan, ada tiga hal yang harus digaris­bawahi. Di antaranya Pemi­lihan Steering Committee dan Organizing Committee (SC/OC) yang tidak trans­paran, termasuk tidak mel­alui rapat pleno. Pemilihan tersebut sudah berkoordi­nasi dengan pihak Jabar dalam mekanisme pemilihan suara dibatasi yakni hanya 200 orang.

Namun sampai hari ini pa­nitia masih menetapkan se­ratus peserta untuk tiga bakal calon. Artinya, satu bakal calon hanya bisa mem­bawa kurang dari 30 orang. Sementara sekarang yang sudah memiliki KTA atau ca­lon peserta lebih dari 800 bahkan 900 orang.

“Apakah itu bisa terwakili aspirasinya dengan kurang lebih 80 orang yang mewa­kili 800 orang? Saya tidak melihat suatu perjalanan Mukota yang baik dan trans­paran,” jelasnya.

Ia menegaskan, dirinya su­dah belasan tahun berorga­nisasi, di antaranya menjadi ketua IWAPI dua periode dan pengurus kadin tiga periode. “Saya paham betul isi kadin. Kalau misalnya saya ingin maju tapi dibuat celah se­perti ini atau dipersulit, mem­perkecil peluang, saya rasa percuma saya untuk maju,” ujarnya.

Jika nantinya pemilihan dilakukan dengan mekanisme perwakilan hanya satu bakal calon bisa menghadirkan ku­rang dari 30 orang, tentu tidak bisa mewadahi semua aspi­rasi pendukung. “Kalau per­mintaan kami ‘one man one vote’ tidak disetujui, maka kami rasa kami tidak bisa meneruskan,” jelasnya.

Ia mengaku bakal membe­rikan arahan dan pernyataan bagi seluruh timses maupun pendukungnya yang jumlah­nya kurang lebih ada 300 pendukung. “Mereka memi­liki KTA namun dikembalikan ke hak mereka untuk diguna­kan sebagaimana mestinya,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Kota Bogor, Tendi Irianto, berharap Mukota Kadin bisa berjalan sukses. “Soal dina­mika yang terjadi saya rasa wajar-wajar saja,” ujarnya.

Tendi menegaskan, dirinya mengawal Mukota ini berja­lan sesuai AD/ART organi­sasi. Secara kebetulan, ia mengenal para kandidat. “Setelah ditanyakan ke Ketua Kadin Erik Suganda, ternyata ada sistem keterwakilan, yaitu satu orang mewakili sepuluh orang karena keter­batasan saat pandemi,” te­rangnya.

“Tapi tidak punya banyak pilihan. Jika Mukota harus ‘one men one vote’ dibagi beberapa sesi, apakah mun­gkin? Bayangkan jika diizin­kan yang hadir 100 orang, sedangkan pesertanya 1.000 orang, masa digelar 10 kali voting?” pungkasnya. (ryn/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *