Geng Motor Serang Kampung Di Bogor, Terlibat Cekcok Tewas Dibacok

by -

Nasib nahas dialami RH. Remaja 20 tahun itu mere­gang nyawa usai terlibat cekcok dengan geng motor. Ia meninggal dunia setelah dibacok menggunakan senjata tajam (sajam) yang mengenai sejumlah tubuhnya.

KEJADIAN itu terungkap saat Polresta Bogor Kota mengge­lar konferensi pers di kawasan Jalan Suryakencana, Kota Bo­gor, kemarin. RH meregang nyawa setelah terlibat cekcok di gerbang Perumahan Bukit Kencana Permai, Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah­sareal, pada akhir Februari.

Kapolresta Bogor Kota Kom­bes Pol Susatyo Purnomo Condro menjelaskan tawuran antarkelompok atau geng mo­tor yang menyebabkan satu korban meninggal dunia itu terjadi pada Minggu (21/2) sekitar pukul 04:00 WIB. “Te­lah terjadi tindak pidana ke­kerasan bersama-sama yang mengakibatkan korban RH meninggal dunia,” kata Susa­tyo.

Setelah mendapat laporan tersebut, petugas Polresta Bogor Kota langsung mela­kukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan peme­riksaan sejumlah saksi, ter­masuk memburu pelaku. “Dalam tempo lima hari, para pelaku berhasil ditangkap Opsnal Reskrim dan Timsus Kujang Polresta Bogor Kota,” katanya.

Dari keterangan pelaku, ke­jadian itu berawal saat korban RH dan adik korban bernama RZ, serta saksi Alung datang ke lapangan hewan Cilebut. Di sana mereka berbincang sambil minum-minuman ke­ras jenis ciu. Kemudian me­reka pindah ke daerah Pa­buaran, di mana tempat nong­krong kelompok WFC.

Baca Juga  Geng Motor Musuh Bersama

“Di sana keduanya melanjut­kan minum-minuman keras bersama rekannya. Tak lama, ada kabar penyerangan ke anak WFC. Kemudian anak-anak WFC mengambil sajam yang berada di kardus seperti tas raket,” ucapnya.

Kemudian korban dan anak WFC yang lainnya berjalan menuju gerbang Perumahan Bukit Kencana Permai, tepat­nya di Jalan Raya Kencana, No 2, RT 01/02, Kelurahan Ken­cana, Kecamatan Tanahsa­real.

Susatyo mengatakan, me­reka sengaja menuju tempat tersebut untuk mengadang orang yang akan menyerang anak WFC. Sesampainya di tempat kejadian, terjadilah bentrok yang diduga dari anak Gang Jarum atau anak Pabua­ran.

“Pada saat terjadinya tawuran, korban terjatuh dan dikelilingi para pelaku. Selanjutnya kor­ban dibacok pelaku MF (21) menggunakan celurit ke arah tangan kanan atau siku korban,” bebernya.

Sedangkan pelaku AH (22) membacok bagian kaki korban dan pelaku DW menggunakan celurit membacok secara bru­tal ke arah tubuh korban. “Dua pelaku lainnya, AR dan A, se­dang dalam pengejaran. Ke­duanya juga terlibat saat penyerangan terjadi,” ujarnya.

Baca Juga  Ini Tarif Penari Erotis Klub Motor

“RH mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia ketika dalam perjalanan menu­ju RS Islam Kota Bogor. Jadi ini motifnya ingin menunjuk­kan kelompok yang paling jago dan berani, antarkelom­pok,” jelasnya.

Atas kejadian tersebut, pela­ku dijerat pasal berlapis, 170 ayat (1) dan (2) ke-3 KUHPi­dana, dengan ancaman pi­dana penjara paling lama 12 tahun, serta Pasal 351 ayat (3) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun penjara.

Tak hanya mengamankan tiga pelaku tindak tawuran yang menyebabkan satu orang me­ninggal dunia. Polresta Bogor Kota juga turut membekuk tiga remaja yang kedapatan membawa sajam. Dari tangan pelaku, petugas berhasil menga­mankan 38 bilah sajam, mulai dari celurit, parang, golok hingga grim ripper.

Susatyo menuturkan, pem­uda yang kedapatan mem­bawa sajam diamankan dalam operasi gabungan pemeliha­raan keamanan dan ketertiban. Sajam-sajam tersebut terindi­kasi untuk aksi tawuran. Selain itu, untuk jaga-jaga apabila ada yang lawan menyerang atau memalak.

Para pelaku diamankan di antaranya di Jalan Sholeh Is­kandar, Jalan Wangun, Air Mancur hingga Jalan Cilendek. “Ini operasi yang dilakukan dari 14 Februari sampai 6 Ma­ret 2021. Hal ini dilakukan untuk menciptakan situasi Kota Bogor yang kondusif. Lokasi diprioritaskan di wi­layah yang mengundang ter­jadinya kerawanan antarkelom­pok atau geng,” imbuhnya.

Baca Juga  Geng Motor Kembali Beraksi di Bogor

Dari total keseluruhan enam remaja yang diamankan, em­pat orang berstatus sebagai pelajar dengan satu di anta­ranya putus sekolah. Sedang­kan pemuda lainnya bekerja sebagai pelayan toko hingga buruh lepas.

“Rata-rata masih berusia muda. Mereka yang diaman­kan masih tahap proses se­suai dengan Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1951, yang sudah tertera bahwa itu menyatakan ancaman hukum penjara setinggi-tingginya selama sepuluh tahun,” be­bernya.

Di sisi lain, kapolresta ber­harap para orang tua ikut an­dil memantau aktivitas anaknya saat menggunakan media sosial. “Saya berharap para orang tua juga aktif memoni­tor anaknya, agar hal yang saat ini terungkap tidak terulang kembali,” harapnya.

“Saya juga ingatkan, kelom­pok yang sudah kami identi­fikasi yang sering melakukan kekerasan, membawa sajam, segera hentikan karena tim kami saat ini sudah mengi­dentifikasi kalian. Akan saya tindak tegas,” tandas Susatyo. (rb/cr1/c/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *