Kota Bogor Hentikan Sementara Kebijakan Ganjil Genap, Ini Tanggapan PHRI

by -
Ketua PHRI Kota Bogor Yuno Abeta Lahay. (Foto:Ist)

METROPOLITAN.id- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memutuskan menghentikan sementara kebijakan Ganjil Genap di Kota Bogor pada dua akhir pekan mendatang. Hal itu pun disambut baik oleh pelaku sektor ekonomi, salah satunya Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor.

Ketua BPC PHRI Kota Bogor Yuno Abeta Lahay mengatakan, pihaknya menyambut baik dan antusias terhadap keputusan penyetopan sementara kebijakan Ganjil Genap di Kota Bogor selama dua akhir pekan kedepan.

Menurutnya, penghapusan Ganjil Genap di Kota Bogor akan punya dampak positif bagi dunia pariwisata beberapa waktu kedepan.

Sebab kebijakan Ganjil Genap secara nyata menurunkan pendapatan para pengusaha hotel dan restoran.

“Ganjil Genap itu nyata-nyata menurunkan pendapatan hotel dan restoran. Saya selalu menyarankan pihak anggota (PHRI) untuk tetap kreaktif dan juga meningkatkan pendapatan dengan cara menyesuaikan dengan aturan,” tandasnya.

Baca Juga  Masa Sulit Akibat Corona, Tuquh.co Siap Penuhi Kebutuhan Masyarakat

Ia pun meminta dukungan untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dengan harapan memberikan fasiltas-fasilitas protokol kesehatan (prokes), seperti bantuan cairan hand sanitizer, alat seperti skoisner serta dana hibah dari kementrian yang di salurkan oleh Pemkot. Bogor.

Ia mengakui penerapan Ganjil Genap di Kota Bogor menimbulkan dampak terhadap menurunnya pengunjung restoran dan hotel sebanyak 80 hingga 90 persen

Yuno memerinci, sejak awal pandemi, jumlah penurunan pengunjung hotel dan restoran terjadi sebanyak 80 sampai 90 persen.

Namun di akhir tahun 2020, sekitar bulan September hingga November, terjadi peningkatan di kisaran 50-60 persen sampai sekarang.

“Dari data yang tertera jumlah pengunjung di awal masa pandemi terjadi penurunan drastis pada hotel dan restoran sebanyak 80 sampai 90 persen.

Baca Juga  Lulusan Sdn Pengadilan 5 Tidak Diwajibkan Masuk Smpn

Tetapi di akhir tahun 2020 sekitar bulan September, Oktober hingga November bahkan sampai sekarang Alhamdullillah ada sedikit peningkatan mencapai 50 sampai 60 persen,” paparnya.

Meskipun pandemi masih meluas di Indonesia dan dunia, tetapi berbagai masalah dan persoalan mampu diatasi dengan berbagai cara.

“Saat ini di masa sulit dengan berkurangnya kedatangan, tetapi juga ada investasi-investasi yang dibutuhkan, supaya hotel dan restoran kembali beroprasional. Sangat dibutuhkan sekali peningkatan biaya dan juga efesiensi operasional maupun tenaga kerja,” tuntas Yuno. (cr1/b/ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.