Sakitnya ‘Diduitin’, Juru Parkir Nyentrik Batin

by -

METROPOLITAN – Bak jatuh tertimpa tangga. Perumpamaan itu tengah dialami Mahfud, juru parkir nyentrik yang terkenal di Kota Bogor. Pria 49 tahun yang sempat menghilang dari jalanan lan­taran sakit selama empat bulan itu mengalami hal yang tidak mengenakkan. Ia mengaku dirugikan lantaran ada yayasan yang mengumpulkan donasi dengan mengatas­namakan dirinya.

Saat ia sakit, ada yayasan yang mengumpulkan donasi untuk Mahfud. Tak tanggung-tanggung, jumlah yang dikumpulkan sekelompok anak muda pada Yayasan Kita Bisa Indonesia itu disebut men­capai Rp431 juta.

Namun, nyatanya Mahfud hanya menerima sekitar Rp30 juta, yang hanya cukup untuk biaya pengobatan jalan se­lama sakit sejak September 2020 itu. Bahkan tidak men­cukupi untuk obat dan biaya sehari-hari karena mengang­gur sejak sakit.

Hal itu diungkapkan Direk­tur Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners, R Anggi Triana Ismail. Menurutnya, atas kejadian itu Mahfud me­minta bantuan hukum guna menuntut keadilan.

“Semangat itu tidak sesuai harapan. Donasi yang terkum­pul hampir setengah miliar itu tidak sepenuhnya sampai ke tangan Pak Mahfud. Yaya­san hanya menyerahkan se­bagian donasi itu kurang lebih Rp30 juta,” katanya kepada Metropolitan.id, Rabu (24/3).

Baca Juga  Juru Parkir Belajar Mesin TPE

Menurutnya, dari keterang­an Mahfud, biaya itu hanya habis untuk pengobatan jalan dan belum beli obat serta ke­butuhan sehari-harinya. Sebab, saat sakit selama empat bulan lebih, Mahfud tidak ada pe­masukan sama sekali.

“Ini tindakan tidak manu­siawi. Bagaimanapun klien kami merupakan subjek pe­nerima manfaat dari sumbangan yang terkumpul melalui yayasan. Seyogyanya yayasan menyerahkan se­muanya ke Pak Mahfud guna kebutuhan pengobatan dan kebutuhan sehari-hari,” ucap­nya.

“Ini kan tidak. Tanpa mem­berikan penjelasan yang kon­kret dari yayasan kepada Pak Mahfud, jelas ini dugaan perbuatan yang bersifat me­lawan hukum,” sambung Anggi. Ia menambahkan, berangkat dari Undang-Un­dang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang/ Barang, jelas pemanfaatannya semata untuk kesejahteraan bagi yang membutuhkan.

“Sudah jatuh tertimpa tang­ga pula klien kita ini. Hal ini sudah tak bisa ditolerir lagi. Kami akan sikapi dengan te­gas yayasan ini yang diduga telah melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum ini,” tegasnya.

“Logikanya kalau mem­bantu ya ringankan kondisi klien kami, jangan membe­rikan beban yang semakin berat. Bukannya sembuh, bisa mati klien kami. Kami akan buat perhitungan ke­pada yayasan ini,” ujarnya.

Baca Juga  Juru Parkir Belajar Mesin TPE

Sementara itu, Head of Brand Communication Kitabisa.com Iqbal Hariadi mengaku pihaknya mencoba mengklarifikasi be­berapa hal. Sebenarnya, pada Maret 2021 pihaknya sudah melakukan pertemuan antara Pemkot Bogor, Kitabisa.com, Angela sebagai penggalang dana, dan pihak keluarga atau perwakilan Mahfud.

”Kami mendiskusikan dana untuk dialokasikan sesuai RAB. Disepakati detail dana untuk apa saja. Penyaluran donasi secara bertahap. Dari Kita­bisa.com sendiri menyalurkan bertahap serta laporan len­gkapnya untuk menjaga ama­nah para donatur dan ini disepakati berbagai pihak. Jadi memang pencairan se­suai kebutuhan,” tuturnya.

VP of Trust and Operation Kitabisa.com, Jaka Wiradisuria, mengaku pihaknya akan me­nyegerakan pencairan tapi bukan terkait munculnya berita. ”Tapi memang untuk proseduralnya agar menjaga amanah dari para donatur,” tambahnya.

Terpisah, pihak penggalang dana, Angela Eka Mahanani, menjelaskan pada awal mu­la pihaknya menggalang dana berawal dari 28 Novem­ber 2020. Pihaknya mengga­lang dana untuk membantu Mahfud karena dilihat sudah lama tidak muncul di Jalan Sancang, Kota Bogor.

Baca Juga  Juru Parkir Belajar Mesin TPE

”Setelah tahu Pak Mahfud sakit, kami berinisiatif mela­kukan penggalangan dana. Saya dan tim saya membuat penggalangan dana di platform Kitabisa.com. Ternyata dana melebihi ekspektasi, sangat besar. Menjadi viral dengan 9.000 donatur. Selama ini kami berhubungan baik dengan keluarga, baik mela­lui WhatsApp atau berkunjung langsung. Kami secara ber­kala berkunjung ke Pak Mah­fud. Kami menjaga amanah donatur,” tuturnya.

Angela menjelaskan pada 23 Maret 2021 sudah bertemu Mahfud untuk medical check up di RS Siloam Bogor, seka­ligus melakukan penjadwalan check up selanjutnya. ”Tadi kami sudah berkomunikasi dengan istri Pak Mahfud. Be­liau bingung dengan berita atau informasi yang beredar, padahal keluarga memahami prosedur yang ada,”jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, sudah satu bulan lebih Mah­fud tergolek lemas di atas kasurnya. Penyakit lambung yang menyerangnya mem­buat pria yang terkenal dengan gaya nyentriknya dalam men­gatur lalu lintas di Jalan San­cang, Kecamatan Bogor Tengah, itu tak bisa lagi mem­berikan warna di jalanan Kota Bogor. (ryn/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.