Senyum Selma Menanti Uluran Tangan, Nestapa Tinggal di Tengah Ibu Kota

by -166 views

Tinggal tak jauh dari pusat pemerintahan Cibinong, rupanya tidak menjamin setiap warganya bisa mendapat jaminan kesehatan yang mudah. Seperti Salma, anak ketiga dari pasangan Mulyadi (43) dan Masriah (41) yang didiagnosa mengidap penyakit cartoid coavernous fistula orbita kanan. Penyakit itu menyebabkan terjadinya benjolan dari kelopak mata sebelah kanan hingga bagian kepalanya.

MASRIAH menceritakan, saat melahirkan Selma Raina Depya, usianya belum genap sembilan bulan, sehingga proses melahirkannya pun dengan cara dicaesar. ”Jadi, pas lahir itu mata kanannya tidak terbuka. Sampai akhir­nya empat hari disimpan di inkubator, baru kebuka,” ka­tanya.

Lalu ketika usia Selma meng­injak satu tahun, satu benjo­lan mulai nampak dari atas alis mata bagian kanan hing­ga ke bagian kepala. Saat itu Selma didiagnosa mengidap Hemangioma Kapilare. Namun dokter tidak menganjurkan diambil tindakan medis, ka­rena sang anak masih terlalu kecil untuk menjalani ope­rasi.

Tahun berganti tahun, kelu­arga kecil Masriah pindah ke Kampung Pos, RT 05/10, Ke­lurahan Pakansari, Kecama­tan Cibinong, Kabupaten Bogor, empat tahun lalu. Mulyadi yang bekerja sebagai driver mengalami PHK sejak pandemi Covid-19 menghan­tam Bumi Tegar Beriman. Tepat 17 Januari 2021, mata kanan Selma semakin mem­buruk. Mata anak bungsu Mulyadi itu mengalami pem­bengkakan di bagian matanya.

Pembengkakan itu berawal dari mulai munculnya bintik merah di ujung bola mata Selma. Lalu seluruh mata Selma tiba-tiba berwarna merah. Tak lama matanya lebih mononjol keluar. ”Saat kami bawa ke RS Hermina katanya ada pembuluh darah di bagian belakang mata yang pecah, sehingga mendorong mata Selma dan terjadi pem­bengkakan,” jelasnya.

Meski sudah mendapat pen­jelasan dan penanganan awal, Selma tidak bisa mendapatkan perawatan intensif dari RS Hermina lantaran terbatasnya dokter yang menangani. Akhir­nya Selma yang baru berusia delapan tahun ini dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Namun sesampainya di sana, Selma tidak bisa langs­ung mendapatkan perawatan karena masih harus mele­wati masa observasi. ”Bero­bat ke RSCM sudah dua kali, besok yang ketiga. Ka­lau di RS Hermina sudah enam kali,” ungkapnya.

Saat ini Mulyadi sendiri mengaku kesulitan biaya un­tuk berobat sang buah hati. Sebab, ia sudah tidak beker­ja dan tidak memiliki penda­patan tetap. Ongkos untuk berobat sang anak sejauh ini ia dapat dari berjualan minyak sayur. ”Ongkos cuma cukup untuk naik kereta, tapi Selma ngeluh terus, capek harus pindah-pindah kan. Ya mau bagaimana lagi,” terangnya.

Saat ditemui Metropolitan, Selma nampak lemah dan lesu. Anak perempuan yang bercita-cita menjadi dokter itu ternyata belum makan selama dua hari. Ia menga­ku tidak mau makan tanpa alasan jelas. Namun ia sel­alu minum jus mangga fa­voritnya sebagai pengganti nasi. ”Suka jus mangga dan alpukat. Tapi, nggak mau makan,” ujarnya.

Selma pun hanya mengang­guk saat diminta tetap tabah dan tersenyum saat Tim Metropolitan pergi mening­galkan rumahnya yang ma­sih mengontrak.(dil/c/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *