Pedagang Timun Suri di Bojonggede Menjerit, Hujan dan Covid Bikin Sepi Pembeli

by -

METROPOLITAN.id – Sudah menjadi pemandangan umum pedagang timur suri bermunculan saat Ramadan. Namun rupanya, sejumlah pedagang timun suri di wilayah Bojonggede, Kabupaten Bogor malah ‘menjerit’. Penjualannya anjlok sejak hari pertama Ramadan.

Seorang pedagang timun suri, Erick (40), mengaku Ramadan kali ini ia kurang beruntung. Sejak awal Ramadan, dagangannya yang biasa dipajang di pinggir Jalan Raya Bojonggede sepi pembeli.

Menurutnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan Ramadan sebelumnya yang biasanya ramai di awal puasa.

Erik menduga ada dua faktor yang menyebabkan dagangannya sepi pembeli. Pertama curah hujan yang hampir mengguyur wilayah Bojonggede setiap harinya, terlebih sore hari. Faktor kedua, ia menganggap Covid-19 membuat daya beli berkurang dan masih banyak yang takut keluar rumah.

“Hari pertama kan hujan terus, ditambah lagi sore sore harinya pembeli itu kurang. Kondisinya juga sekarang masih pandemi, jadinya sepi parah,” kata Erik saat ditemui di lapaknya, Jumat (16/4).

Baca Juga  Nggak Punya Gedung, UPT Pendidikan Numpang Di SD Klapanunggal

Tak hanya itu, intensitas hujan tinggi juga mempengaruhi kualitas timun suri yang dijajakannya. Cuaca huja membuat timun suri cepat membusuk sehingga harus dijual cepat. Sementara pembeli cenderung sepi.

Akibatnya, banyak timun suri yang keburu busuk. Jika demikian, Erik terpaksa membuangnya karena sudah tidak layak untuk dijual.

“Banyak yang kebuang, yang sudah engga bagus saya pisahin aja dan saya masukin kekeranjang. Ini juga sebagai bukti ke bos kalau ada yang tidak layak untuk dijual,” ungkapnya.

Erik biasanya menjual timun suri mulai harga Rp10 ribu untuk ukuran sedang hingga Rp20 ribu untuk ukuran besar. Tak jarang, ayah dua anak ini juga menjual dagangannya dengan selisih keuntungan yang kecil dibanding biasanya. Hal itu dilakukan agar tak banyak dagangannya yang busuk dan ia tetap bisa membawa uang untuk anak istrinya.

Baca Juga  Berkiprah sebagai Seniman, Lestarikan Kesenian Gambang Kromong

“Yang laku terjual paling banyak cuma 20-30 buah per hari. Sedangkan stok datang terus dari bos, sudah tiga kali datang. Hari pertama 150 buah, kemarin 200, sekarang cuma 100 buah. Tapi yang saya pajang 28 buah aja, takutnya miris lagi kalau dipajang semuanya. Mudah-mudahan sekarang engga hujan, tetap cerah seperti ini. Tapi saya sih bersyukur aja meskipun pada akhirnya hasilnya akan anjlok lagi. Saya enggak berharap banyak yang penting barokah aja sedapatnya kayak gimana,” terang Erik.

Jika dibanding Ramadan sebelumnya, Erik mengaku penjualannya jauh berbeda. Di awal-awal Ramadan tahun lalu, dagangannya banyak diburu pembeli meskipun pada saat itu sudah terjadi pandemi.

Baca Juga  Kecamatan Kemang Bidik Perusahaan Bodong

“Bulan puasa tahun lalu dagangan habis, kalau sekarang susah,” tuturnya.

Saat ini, ia hanya berharap hujan tidak turun di sore hari. Sehingga, banyak masyarakat yang keluar untuk mencari makanan berbuka, seperti timun suri. Selain timun suri, Erik juga menjual pisang dan ubi dari pedagang lain yang menitip. (vir/c/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *