Proyek Tugu Sepeda Rp800 Juta Tuai Kritik

by -

METROPOLITAN – Proyek Tugu Sepeda yang tengah dikerjakan Pemerintah Pro­vinsi (Pemprov) DKI Jakarta menuai kritik. Selain angga­rannya yang mencapai Rp800 juta, fungsi tugu yang dibangun di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, juga diperta­nyakan.

Tidak hanya dari Komunitas Pesepeda Bike 2 Work (B2W), tapi juga dari anggota legisla­tor. Komunitas sepeda di DKI Jakarta Bike 2 Work (B2W) menolak keras pembangunan Tugu Sepeda tersebut.

Ketua Komunitas B2W, Poetoet Soedarjanto, menga­takan, sebelumnya komunitas sepeda tak pernah dilibatkan Pemprov DKI Jakarta dalam pembangunan tugu tersebut. Mereka juga sebelumnya tidak pernah tahu-menahu soal pembangunan tugu tersebut. “Kami tidak pernah tahu sama sekali terkait pembangunan tugu tersebut,” ujarnya.

Poetoet mengatakan, komu­nitasnya tidak setuju dengan pembangunan tugu tersebut. Terlebih, anggarannya mene­lan biaya hingga Rp800 juta di tengah roda perekonomian yang sulit karena pandemi Covid-19.

Menurutnya, pembangunan Tugu Sepeda tidak akan ber­dampak apa-apa dengan pem­budayaan sepeda di Jakarta. “Untuk tugu saya tidak sepakat pembangunannya sih ya. Ng­gak ada pentingnya untuk pembudayaan sepeda. Terle­bih di masa sulit anggaran seperti sekarang,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD DKI dari Fraksi PDI-P, Gilbert Simanjuntak, menuturkan, anggaran pembangunan Tugu Sepeda seharusnya di­kembalikan kepada rakyat. Kendati anggaran pembangu­nan tugu disebut berasal dari pihak ketiga, Gilbert me­nyebut jika dana tersebut tidak bisa digunakan seenaknya.

“Kalaupun itu dana CSR, tapi itu milik DKI, bukan milik pribadi gubernur yang peng­gunaannya seenaknya. Seha­rusnya CSR itu dikembalikan kepada rakyat. Itu fungsi CSR, bukan untuk sesuatu yang terkesan kesenangan pribadi,” tutur Gilbert.

Sementara itu, Wakil Gu­bernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, beralasan membangun Tugu Sepeda di tengah pandemi corona agar masyarakat terdorong untuk hidup sehat. ”Ya justru ka­rena di masa pandemi ini kita ingin mendorong masy­arakat hidup sehat, hidup bersih, lingkungan yang ber­sih, udara yang bersih dengan cara menggunakan sepeda,” ujar Ariza, kemarin.

Tak hanya itu, Riza juga me­nilai adanya tugu tersebut tidak hanya mendorong agar ma­syarakat hidup sehat. Masy­arakat juga bisa terpacu meng­gunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. ”Kita ingin sepeda tidak hanya di­gunakan alat rekreasi, olah­raga, tapi juga alat transpor­tasi,” kata politikus Gerindra tersebut.

Riza juga memastikan kebe­radaan Tugu Sepeda tersebut tidak akan mengundang ke­rumunan. Ia menyebut lokasi yang dipilih sudah diperhitung­kan sehingga nantinya bisa menjadi ikon baru DKI Ja­karta. ”Sudah kita perhitung­kan dengan para konsultan, para ahli (lokasi) tempat yang terbaik tidak mengganggu justru akan menjadi ikon baru di Jakarta dan komitmen kita pada pengguna sepeda dan masyarakat,” ujarnya.

Lalu, Riza juga menjelaskan terkait biaya mencapai Rp 800 juta untuk membangun tugu sepeda tersebut. Ia memasti­kan tidak ada APBN atau APBD yang digunakan untuk membangun tugu tersebut. ”Tugu sepeda ini sekali lagi tidak dibiayai APBN atau APBD tapi oleh swasta pihak ketiga. Jadi bukan dari kami,” ujar Riza. (dtk/tib/els/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *