Sekolah Tatap Muka di Ujung Tanduk

by -77 views

Di tengah kegembiraan sejumlah siswa Kabupaten Bogor mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM), muncul kabar tidak mengenakkan. Kegiatan belajar di kelas yang sudah berjalan tiga pekan itu memunculkan kasus siswa positif Covid-19 yang sempat mengikuti PTM. Tak tanggung, dua kasus sekaligus ditemukan dalam dua sekolah berbeda, hingga PTM terancam dibatalkan.

KEDUA sekolah itu berada di wilayah Barat Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Leuwiliang dan Tenjolaya. Siswa yang terkonfirmasi po­sitif Covid-19 saat menggelar PTM itu berada di tingkatan SMA.

Kasi Pengawasan KCD Wi­layah I Kabupaten Bogor, Ridwan Mujani, membenar­kan informasi tersebut. Ia menyebut khusus siswa SMA di Leuwiliang, yang bersang­kutan diduga terpapar di luar sekolah namun sempat ikut uji coba PTM Terbatas di sekolahnya. “Iya, memang benar ada satu orang terpa­par dengan status awalnya tanpa gejala. Tapi sekarang sudah dilakukan isolasi man­diri,” kata Ridwan.

Ridwan mengaku saat ini pihaknya terus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan sekolah. Sebab, se­mentara ini belajar kembali dilakukan secara daring. “Ka­susnya seminggu yang lalu, dan si anak terpapar di luar sekolah,” ujarnya. “Begitu mendengar laporan, langsung kita sterilisasi ke murid lain untuk mencegah penyebaran­nya. Kita juga memberhenti­kan PTM selama dua minggu, sampai sekarang belum di­buka,” sambungnya.

Ketika ditanya kasus lain, Ridwan mencatat total ada dua kasus murid terpapar Covid-19 di sekolah yang ber­beda, dan keduanya berada di wilayah Bogor Barat. “Itu kasus pertama di SMA juga di Kecamatan Tenjolaya, se­karang sudah aman,” imbuh­nya.

Baca Juga  Wanita yang Kucinta Lebih Memilih Pria Mapan (Habis)

Saat ini pihak KCD masih melakukan pendataan karena tidak semua SMA maupun SMK menggelar PTM. “Total hanya ada 64 sekolah, SMA 32, dan SMK 32 dari jumlah sekolah tingkat atas ada 80 sekolah,” tuturnya.

Ia menjelaskan dilanjutkan atau tidaknya PTM di Kabu­paten Bogor merupakan ke­bijakan dan hasil evaluasi Tim Satgas Kabupaten Bogor yang diketuai bupati Bogor. “Saat ini saya menunggu monef dari semua tim, dan hasilnya akan dilaporkan ke Satgas Kabupaten Bogor. Setelah itu hasilnya bagaimana? Apakah dilanjut atau tidak. Besok baru kita plenokan. Karena mone­fnya hari kemarin dan seka­rang,” ujarnya.

Sementara itu, Sekdisdik Kabupaten Bogor Atis Tar­diana mengaku belum menda­pat laporan dari tingkat SD maupun MTs adanya kasus Covid-19. “Alhamdulillah, untuk SD sampai MTs belum ada (kasus Covid-19, red). Dan kalau terjadi, artinya PTM harus dibatalkan kembali dan semua murid belajar daring lagi,” katanya.

Baca Juga  Disdik Gelar Sertijab 27 Kepala SD

Hal senada diungkapkan Camat Leuwiliang Daswara. Ia mengaku belum menda­patkan informasi mengenai siswa SMA yang terpapar Co­vid-19. ”Saya belum ada be­rita kalau ada siswa SMA Leuwiliang yang diduga ter­papar Covid-19,” ujarnya.

Meski demikian, ia menga­ku bakal memerintahkan kasi Kesehatan dan Pendidi­kan Kecamatan Leuwiliang untuk mencari tahu infor­masi tersebut kepada pihak-pihak sekolah. ”Saya sudah memerintah kasi Kesehatan dan Pendidikan untuk ber­koordinasi dengan pihak se­kolah,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Leuwiliang James menyebut belum ada kepastian adanya siswa SMA Leuwiliang yang terpapar Covid-19. Sebab, pihak sekolah baru melakukan pemeriksaan antibodi ke tiga siswanya. ”Belum pasti ter­papar Covid-19. Rencananya besok kita bakal ke sekolah,” katanya.

Baca Juga  Fokus Turunkan Angka Putus Sekolah

Di tempat berbeda, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Ra­kyat Daerah (DPRD) Kabu­paten Bogor Agus Salim me­nilai harusnya persoalan ini sudah diperhitungkan sejak dini oleh dinas maupun Sat­gas Kabupaten Bogor. Selain itu juga harus dipertimbang­kan berbagai antisipasinya. “Kami berharap satgas atau Dinas Pendidikan sudah me­nyiapkan itu semua,” harapnya.

Di sisi lain, Koordinator Na­sional P2G Satriwan Salim mengkritisi jumlah sekolah yang diizinkan menggelar simulasi PTM di Kabupaten Bogor. Sebab, 170 sekolah yang menggelar PTM itu sebagai uji coba yang sangat massal dan besar. Mengingat jumlah total sekolah di Kabupaten Bogor sendiri yakni sekitar 230 sekolah.

Fakta tersebut menunjukkan uji coba dilakukan serentak terhadap 70 sampai 80 persen sekolah. “Akibatnya, uji coba seperti itu justru berpotensi mengancam keselamatan guru dan warga sekolah se­cara massal. Guru dan tenaga kependidikan dipaksa masuk sekolah tatap muka, meskipun belum mendapatkan vaksi­nasi,” tandasnya. (jp/rb/rex/c/ rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *