Setoran Laba Paling Minim, Pasar Pakuan Jaya Sebut Masih Ada Kewajiban Bayar Hutang Pajak

by -
Direksi Perumda Pasar Pakuan Jaya.

METROPOLITAN.id – Dari empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang ada di Kota Bogor, rupanya Perumda Pasar Pakuan Jaya menjadi yang setoran pembagian laba (deviden) paling kecil dibanding BUMD lain pada 2020 lalu.

Tahun lalu, Perumda Pasar Pakuan Jaya ‘hanya’ menyetor uang Rp175 juta atau 14,71 persen dari target Rp1,1 miliar. Sedangkan secara keseluruhan, empat BUMD yang beroperasi menyumbangkan deviden Rp31 miliar.

Kecilnya deviden itu pun jadi sorotan. Apalagi rupanya sudah dua tahun berturut-turut para bos pasar ini tidak bisa menyumbangkan deviden sesuai target.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Umum Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Jenal Abidin mengungkapkan, minimnya deviden yang diberikan oleh perusahaannya karena masih adanya kewajiban bagi perusahaannya membayarkan hutang pajak.

“Salah satu kenapa kita belum optimal karena kita masih melakukan pencicilan hutang pajak,” ungkap Jenal kepada Metropolitan.id, Kamis (15/4).

Baca Juga  Beres Divaksin, Guru : Kami Rindu Tatap Muka dengan Siswa

Lebih lanjut, Jenal pun membeberkan bahwa pembayaran hutang pajak dilakukan setiap bulan dengan nominal Rp100 hingga Rp150 juta.

Namun, ia belum bisa menjawab ketika ditanyakan berapa beban hutang yang harus dilunasi oleh Perumda PPJ dan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Perumda PPJ untuk bisa beroperasi dalam kondisi normal.

“Kita nanti akan hitung dulu tepatnya berapa, tapi yang jelas kita masih melakukan cicilan hutang setiap bulan. Kita setiap bulan bayar. Kadang kita bayar diangka Rp150 juta, ya Rp100 sampai Rp150 juta lah kita lakukan pembayaran hutang pajak. Itu kan hutang dari lama,” cetusnya.

Terkait dengan deviden yang diberikan oleh Perumda PPJ kepada Pemkot Bogor, Jenal mengatakan bahwa pihaknya tengah mencoba merangkak naik dari keterpurukan. Di mana pada 2018 pihaknya masih mengalami minus pendapatan.

Baca Juga  Bima Puji Kinerja Disperumkim

Tapi, ia mengatakan pada 2019 dan 2020 pihaknya sudah bisa mengantongi keuntungan, bahkan mengalami peningkatan.

“Sebenarnya di saat 2018 perusahaan ini masih rugi, tapi itu sudahlah masa lalu ya. Nah sekarang di 2020 kita mengalami kenaikan laba, laba kita udah Rp559,6 juta. Naik dari 2019 ke 2020 itu 75 persen naiknya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk langkah antisipasi kebocoran pendapatan, Jenal menerangkan pihaknya sudah memulai pembayaran iuran kios secara digital dengan menggunakan Cash Management Sistem (CMS) di pasar Sukasari, kemudian Pasar Gunung Batu, Plaza Bogor dan blok G Pasar Kebon Kembang.

“Menyusul nanti blok F nantinya CMS ini akan kita jadikan sistem pembayaran digital untuk meminimalisir adanya kebocoran,” tukasnya.

Diketahui pada 2020 lalu, dari empat BUMD yang beroperasi di Kota Bogor bagi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan yaitu bagian laba atas penyertaan modal pada BUMD tahun 2020, terealisasi Rp31,9 miliar atau 95,25 persen dari target Rp33,5 miliar.

Baca Juga  Pemimpin Berkualitas Lahir dari Pilkada Damai

Sekretaris Bapenda Kota Bogor Lia Kania Dewi menjabarkan, dari deviden yang disumbangkan, Perumda Tirta Pakuan menempati urutan pertama dengan realisasi deviden sebesar Rp22,9 miliar atau 100 persen.

Lalu di urutan kedua ada BJB dengan realisasi deviden sebesar Rp4,3 miliar atau 98,31 persen dan di urutan ketiga ada Perumda Bank Kota Bogor dengan realisasi deviden sebesar Rp4,4 miliar atau 89,92 persen.

“Untuk Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ), realisasi deviden di 2020 sebesar Rp175 juta atau 14,71 persen dari target Rp1,1 miliar,” pungkasnya. (dil/c/ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *