Corona India Tembus 20 Juta, Ahli: Virusnya Rumit

by -

METROPOLITAN – Tsunami Covid-19 di India (Corona India) masih dalam status mengeri­kan. Tak hanya keterbatasan obat, jumlah tenaga kesehatan juga menga­lami krisis. Kasus Covid-19 yang melon­jak sejak Februari disebabkan varian virus yang lebih menular.

Pada Selasa (4/5) India mengonfirmasi lebih dari 20 juta infeksi vi­rus corona, setelah mencatat 357.229 kasus baru selama 24 jam terakhir. Total kematian men­jadi 222.408 orang.

India menjadi negara kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, yang melewati tong­gak sejarah yang suram. Butuh waktu empat bulan bagi ne­gara Asia Selatan itu untuk menambahkan 10 juta kasus, dibandingkan lebih dari se­puluh bulan untuk 10 juta kasus pertama.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus asal India tersebut kini sudah ada di setidaknya 17 negara. Hal itu diketahui dari 1.200 urutan virus SARS-CoV-2 yang diunggah berba­gai negara di GISAID.

”Sebagian besar diunggah dari India, Inggris, AS, dan Singapura,” bunyi pernyataan WHO seperti dikutip Agence France-Presse.

B.1.617 ditengarai sebagai dalang di balik lonjakan kasus Covid-19 di India. Sebanyak 60 persen penularan di India berasal dari mutasi Covid-19 itu. WHO memasukkan virus tersebut sebagai variant of interest atau jenis yang harus diwaspadai. Dalam arti lain, virus itu berpotensi lebih me­nular dari aslinya. Bisa mem­buat sakit lebih parah dan mungkin mengurangi kemam­puan antibodi dari vaksin.

Direktur Sekolah Pascasar­jana Universitas YARSI, seka­ligus Mantan Direktur WHO SEARO, Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan khusus tentang profil B.1.617 yang memang bermula dari India. Ternyata mutasi ini memang memiliki strain yang rumit.

Sejak akhir April 2021, WHO sudah menggolongkan galur varian B.1.617 ‘naik kelas’ sebagai Variant of Interest (VOI), bersama dengan yaitu B.1.525, B.1.427/ B.1.429, B.1.1.28.2, alias P.2, B.1.1.28.3 alias P.3, B.1.526 dengan E484K atau S477N dan B.1.616. Mu­tasi ini sering juga disebut double mutant (mutasi ganda).

“Dari analisa lebih lanjut maka ternyata varian ini ada berbagai bentuknya pula, se­perti B.1.617.1, B.1.617.2 dan B.1.617.3. Yang B.1.617.1 dan B.1.617.2 pertama kali diiden­tifikasi di India pada Desem­ber 2020 dan jumlahnya juga meningkat sejalan dengan peningkatan kasus yang ada sekarang ini,” jelasnya.

Tiga karakteristik varian ini adalah L452R, P681R, dan E484Q (pada B.1.617.1 dan B.1.617.3). Sebagian mutasi dalam varian B.1.617 ternya­ta sudah pernah dilaporkan pada VOC dan VOI lain ter­dahulu. L452R misalnya juga terdapat pada VOI lain yaitu B.1.427/ B.1.429 yang berhu­bungan dengan peningkatan penularan dan juga sebagian pengurangan netralisasi. P681R juga diduga dapat mening­katkan penularan.

Penelitian lain juga menunjuk­kan bahwa E484Q nampaknya dapat menurunkan netrali­sasi, jadi mungkin saja ber­pengaruh pada efikasi vaksin. Studi awal modelling oleh WHO berdasar sekuens yang dima­sukkan ke GISAID menduga bahwa varian B.1.617 punya kemungkinan berkembang (growth rate) lebih tinggi dari varian lain yang ada di India.

“Sementara B.1.351 memang sudah dikenal sebagai Variant of Concern (VOC) WHO ber­sama B.1.1.7, kedua jenis varian ini kini sudah ada di Indonesia,” kata Prof Tjandra. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *