Fans Madrid Gigit Jari

by -

METROPOLITAN – Musim 2020/21 resmi berakhir untuk Real Madrid. Musim ini bisa dikatakan jadi musim yang paling ingin dilupakan El Real. Tim yang bermarkas di Ibu Kota Real Madrid itu resmi mengakhiri musim 2020/21 kemarin malam, saat mereka menang melawan Villarreal dengan skor 2-1.

Hasil itu membuat Real Madrid mengakhiri musim sebagai runner up La Liga. Itu berarti mereka gagal un­tuk mempertahankan gelar juara mereka musim lalu. Kegagalan mempertahankan gelar juara La Liga itu bukan satu-satunya nestapa yang dirasakan Real Madrid. Ada sejumlah kepahitan yang harus dirasakan El Real se­panjang tahun ini.

Kepahitan pertama yang dirasakan Real Madrid ada­lah kegagalan mereka men­jadi juara La Liga di musim ini. Mereka bersaing ketat dengan Atletico Madrid hingga jornada ke-38 La Liga. Jika Atletico Madrid terpeleset melawan Real Val­ladolid dan Madrid menang melawan Villarreal, maka Los Blancos yang akan menjadi juara.

Baca Juga  Jika Ingin Kembali Latih Madrid, Zidane Minta Dua Pemain Dijual dan Lima Didatangkan

Skenario impian itu nyaris terjadi, saat Real Valladolid unggul terlebih dahulu me­lawan Atletico Madrid. Namun ternyata sang tetangga malah comeback 2-1 atas Vallado­lid dan akhirnya mengunci gelar juara. Sungguh cara yang menyakitkan untuk gagal juara.

Kegagalan Real Madrid menjuarai La Liga itu mem­buat El Real resmi mengakhi­ri musim tanpa gelar juara. Di ajang Copa Del Rey, Real Madrid dikalahkan Alcoyano di babak 32 besar. Di Super­copa de Espana, mereka kalah melawan Athletic Bil­bao di semi final.

Di Liga Champions, lebih nelangsa lagi. Mereka dikal­hkan Chelsea di semi final. Sehingga tidak ada satu pun tambahan trofi juara di le­mari juara Real Madrid saat ini.

Saking banyaknya cedera yang dialami Real Madrid, Zidane sampai frustrasi ka­rena jumlah skuatnya yang sangat terbatas. Alhasil ia memilih mengorbitkan be­berapa pemain muda dari tim Castilla Real Madrid.

Absennya sejumlah pemain El Real ini sedikit banyak membuat Real Madrid tidak bisa tampil konsisten sejak awal musim. Salah satu yang jadi nestapa Real Madrid di musim 2020/21 ini adalah para pemain muda mereka yang tidak bisa menggantikan peran para pemain inti yang cedera.

Baca Juga  Madrid bakal Belanja Besar-besaran

Pemain-pemain yang di­harapkan jadi pembeda se­perti Vinicius jr, Rodrygo, dan Marco Asensio justru tidak berdaya sepanjang musim ini. Alhasil Real Madrid tidak punya pembeda selain Karim Benzema di saat-saat kru­sial.

Salah satu hal yang paling bikin fans Madrid gigit jari di musim ini adalah Eden Hazard yang makan gaji buta. Eden Hazard didatan­gkan Real Madrid dengan harga 100 juta Euro di musim panas 2019 dengan harapan bisa menjadi pembeda baru bagi El Real pasca ditinggal Cristiano Ronaldo. Namun apa kenyatannya? Hazard hanya jadi beban klub.

Gara-gara cedera berkepan­jangan, ia hanya 21 kali ber­main untuk Real Madrid. Dari 21 penampilan itu ia hanya membuat empat gol dan satu assist. Sungguh cara yang buruk untuk buang-buang uang. Salah satu nestapa terbesar Real Mad­rid di laga ini adalah kega­galan proyek European Super League (ESL) yang mereka gagas.

Baca Juga  Untuk Bursa transfer Januari, Presiden Madrid persiapkan Rp1,5 Triliun

Florentino Perez yang men­jadi salah satu otak di balik turnamen ini. Ia dan sebelas klub top Eropa lainnya resmi meluncurkan turnamen itu dengan harapan bisa mem­perbaiki pendapatan klub.

Namun malah Real Madrid ’dikhianati’ karena sembilan klub lainnya memilih mundur akibat mendapatkan desakan yang bertubi-tubi baik dari UEFA dan federasi setempat. Jadi Madrid yang tetap berta­han dengan rencana ini malah namanya tercoreng.

Keputusan Real Madrid untuk tetap bertahan dengan rencana ESL ini menimbul­kan masalah baru. UEFA dilaporkan tengah melakukan proses investigasi kepada Madrid dan dua klub lainnya yang ngotot bertahan dengan rencanna melanjutkan ESL ini. (bol/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.