Jumlah Pengunjung Anjlok, Ratusan Hotel di Bogor Terancam Bangkrut

by -

METROPOLITAN.id – Pandemi yang tak kunjung usai membuat ratusan hotel dan restoran di Kabupaten Bogor terancam gulung tikar. Adanya kebijakan soal pembatasan penyelenggarakan kegiatan-kegiatan dianggap berpengaruh pada rendahnya okupansi hotel saat ini.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor Budi Sulystio mengatakan, dari keanggotaan PHRI di Kabupaten Bogor 120 hotel dan restoran saat ini terseok-seok untuk beroperasi. Bahkan menurut Budi, tidak menutup kemungkinan bakal gulung tikar hotel dan restoran yang ada di Kabupaten Bogor jika kondisinya terus seperti ini.

“Sekarang hotel dan restoran sudah bisa operasional saja alhamdulilah. Karena okupansi paling tinggi hanya 10 persen saja,” paparnya.

Dari 120 anggotanya tersebut, Budi mengaku pihaknya belum menerima ada laporan soal hotel atau restoran yang benar-benar bankrut. Karena selama ini hotel-hotel tersebut masih beroperasi dengan berbagai keterbatasan.

Baca Juga  Fiks, Pemkot Bogor Nggak Perpanjang Operasional RS Lapangan

“Memang ada triknya agar kita tetap bertahan, karena tidak bisa dipungkiri kebutuhan operasional hotel itu sangat besar,” kata dia.

Meski memiliki mendapatan yang minim, Budi mengaku tidak mendapatkan keringanan dari Pemerintah daerah soal pembayaran pajak. Meskipun pajak tersebut dibayarkan sesuai dengan jumlah pengujung. Bahkan dana hibah yang diberikan oleh pemerintah pun tak cukup membantu hotel-hotel yang mendapatkannya.

“Jangankan bayar pajak, bayar gaji karywan aja kita susah. Dapat dana hibah pun kan disesuaikan dengan pajak hotel, nah sekarang jumlah pengunjung sedikit ya pajaknya pun tak besar, begitu juga dengan dana hibahnya. Tapi kita tetap syukuri,” ungkapnya.

Budi juga mengaku merasa risih dengan keberadaan vila-vila yang menyewakan kamar dengan jumlah banyak. Karena keberadaan vila tersebut menurutnya menggung okupansi hotel yang ada di kawasan puncak.

Baca Juga  Sutradara Bollywood Nyaris Dihakimi Massa

“Izin kita jelas penginapan, kita juga jelas bayar pajak. Kalau mereka bukan penginapan karena hunian bisa. Tapi kenyataanya mereka menyewakan kamar lebih banyak dari kita,” ungkapnya. (mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *