Masih Jauh! Trem bakal Beroperasi 2024

by -
Ilustrasi Trem

METROPOLITAN – Pemerin­tah Kota (Pemkot) Bogor terus mematangkan rencana pembangunan moda trans­portasi Trem di Kota Bogor. Dengan target operasional Trem, Pemkot Bogor bersama PT KAI dan PT Iroda melaku­kan pembahasan terkait pen­danaan dan integrasi rencana rute Trem dengan Stasiun Bogor di Balai Kota Bogor.

“Kami membahas terkait studi kelayakan Trem yang terintegrasi dengan kebutuhan-kebutuhan PT KAI,” ujar Ke­pala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bap­peda) Kota Bogor, Rudy Mas­hudi.

Ia mengungkapkan, pem­bahasan rute sudah selesai kali ini lebih pada integrasi rute Trem dengan stasiun kereta api, MRT, Stasiun Bogor dan konektivitas dengan be­berapa moda transportasi lainnya. Pihaknya juga mem­bahas terkait anggaran membangun Trem yang mem­butuhkan dana sekitar Rp1,9 triliun.

”Jadi, kemungkinan Trem baru bisa mengaspal pada 2024. Maka dari itu, kita ma­sih melakukan pembahasan secara insentif dengan pihak terkait. Sedangkan soal ang­garan kami mencari dengan dua cara, yakni government funding atau corporate fun­ding. Corporate funding lebih diperuntukkan mengembang­kan TOD (Transit Oriented Development) di Kota Bogor, di mana regulasi dan perwali­nya sedang disusun,” bebernya.

Baca Juga  Studi Kelayakan Beres, Ini Jalan-Jalan di Kota Bogor yang Bakal Dilalui Trem, Kepala Bappeda : Satu Koridor Sepanjang 8 Kilometer

Anggaran Rp1,9 triliun ini dibutuhkan untuk membangun Trem dan memperkuat kelem­bagaan PDJT. Rencana me­luncurnya Trem di Kota Bogor ditarget harus beroperasi pada 2024. “Rute Trem-nya dari Baranangsiang ke Otista, Juanda, Kapten Muslihat, Nyi Raja Permas, MA Salmun, Sawojajar, ke Sudirman balik lagi Otista. Ini koridor satu yang akan diproses dulu,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pemkot Bogor telah menyambangi salah satu titik lokasi yang renca­nanya dijadikan Depo Trem. Di antaranya lahan milik Jasa Marga di sisi Tol Jagorawi, lalu Stasiun Bogor dan lahan milik salah satu pengembang perumahan di kawasan Tanah­baru, Kecamatan Bogor Uta­ra atau tepatnya di sebelah gardu induk PLN.

“Kami sudah meninjau salah satu titik, yakni di kawasan Tanah Baru atau tepatnya dekat Gardu Induk PLN. Di sana ada lahan milik peru­mahan yang masih kosong. Tapi tentu saja itu harus me­nempuh studi kelayakan ter­lebih dulu,” kata Rudy.

Berdasarkan kajian yang dilakukan Colas Rail, agar Trem bisa beroperasi di Kota Bogor harus didukung fasilitas se­perti depo dan tempat peme­liharaan. Di mana saat ini lokasinya sedang dikaji. Depo Trem sendiri ditengarai mem­butuhkan luasan lahan 5 hingga 10 hektare dan lahan di kawasan Tanahbaru terse­but memungkinkan untuk dijadikan depo. “Dari hasil pembicaraan dengan peng­embang perumahan tersebut, dalam site plan mereka me­mang sudah ada frontage sepanjang 10 meter,” ujarnya.

Baca Juga  Butuh Biaya Hampir Rp2 T, Kota Bogor Pamer Rencana Trem Pakuan di Depan Menteri Erick Thohir

Rudy menegaskan, peng­embang menyambut baik serta sempat menanyakan bagaimana pola yang diguna­kan. “Apakah ganti untung, ganti rugi atau sewa. Tetapi urusan tersebut tetap harus menempuh mekanisme appraisal dan studi kelayakan untuk memutuskan, jadi atau tidaknya,” bebernya.

Kendati demikian, Pemkot Bogor tak mau terburu-buru memutuskan, mengingat ma­sih ada beberapa opsi lokasi penempatan Depo Trem. “Sedang dikaji beberapa tem­pat. Bisa di stasiun, bisa juga di lahan Jasa Marga sepanjang Tol Jagorawi. Ya, kita cari dulu yang layak. Kami masih lakukan penjajakan dengan berbagai pihak, termasuk Jasa Marga,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bo­gor Bima Arya dan beberapa pejabat Kota Bogor meny­ambangi Menteri BUMN Er­ick Thohir. Dalam kunjungan­nya itu, Bima mengaku mela­kukan pembahasan terkait skema pendanaan dan pembangunan Trem di Kota Bogor. Di mana untuk skema pembayaran diketahui ada dua opsi yang dimiliki.

Baca Juga  Diprediksi Telan Biaya Rp1,8 T, Pemkot Bogor Bahas Regulasi Teknis Operasional Trem dengan PT KAI

Pertama adalah opsi corpo­rate funding yang pendanaan­nya 100 persen dari corpo­rate. Sebab, Anggaran Penda­patan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor tak mun­gkin bisa menanggung beban biayanya. ”Ada opsi combine structure funding juga. Jadi mengombi-nasikan antara anggaran bantuan dari pe­merintah pusat dengan cor­porate,” kata Bima.

Saat ini di bawah pimpinan Erick Thohir, Bima mengaku sudah membentuk tim pembangunan Trem Kota Bogor. ”Jadi, kolaborasi an­tara unsur BUMN dan Pe­merintah Kota (Pemkot) Bo­gor akan terus bekerja untuk memastikan tahapannya berjalan secara cepat,” ujarnya.

Untuk itu, Feasibility Study (FS) yang saat ini tengah di­kerjakan tim pembangunan Trem Kota Bogor direncanakan rampung pada Juni. Dari situ akan diketahui bagaimana nanti skema pembayaran dan siapa operator Trem di Kota Bogor. ”Saya juga sudah lapor­kan Trem kepada presiden dan presiden mendukung penuh serta meminta diakselerasikan dengan kementerian-kemen­terian terkait,” ungkapnya. (ryn/ mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *