Sepuluh Kebijakan Merdeka Belajar tak Sentuh Riil Pendidikan

by -

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai sepuluh kebijakan Merdeka Belajar yang telah digulirkan Kemendikbudristek selama ini belum menyentuh masalah riil pendidikan di Indonesia, baik masalah mengenai infrastruktur dan sarana, mutu guru hingga akses.

DEWAN Pakar P2G, Anggi Afriansyah, menyebutkan berdasarkan data BPS 2020 masih ada lebih dari 70% ru­ang kelas setiap jenjang pen­didikan yang kondisinya rusak ringan, sedang maupun berat. Lalu ada 20,10% SD tidak pu­nya sumber air yang layak atau belum memiliki sumber air.

”Selain itu, tidak sampai 80% sekolah di setiap jenjang pendidikan yang memiliki toilet terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan. Lalu 74,18% SMP tidak me­miliki akses terhadap tempat cuci tangan,” kata Anggi da­lam keterangan pers yang diterima, Minggu (2/5).

Dia mengatakan, data BPS pada 2020 juga menunjukkan bahwa kesenjangan Angka Partisipasi Murni (APM) an­tara daerah perkotaan dengan perdesaan juga masih besar. Semakin tinggi jenjang pen­didikannya, maka semakin tinggi pula kesenjangannya.

”Begitu pula dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masih di angka 8,90 tahun. Artinya, rata-rata anak Indo­nesia bersekolah hanya sam­pai kelas 9 SMP. Tampak pula ketimpangan RLS di pedesaan yang hanya men­capai 7,66 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga  Ajak Ortu Dukung Pendidikan Karakter

Lalu terkait mutu guru, la­njut Anggi, data Bank Dunia 2020 menyatakan tingkat pengetahuan guru Indonesia di bidang matematika dan bahasa Indonesia masih di bawah minimum. Bahkan, untuk pedagogis skornya lebih parah lagi karena sang­at rendah.

Dia menuturkan Uji Kom­petensi Guru (UKG) pun masih di bawah standar mi­nimum dengan skor di bawah 65 dari skala 0–100. Tak heran perolehan skor PISA Indo­nesia juga selalu di bawah rata-rata negara OECD untuk tiga bidang yaitu matema­tika, sains, dan literasi.

”Lebih tragis lagi untuk bi­dang literasi, skor Indonesia 2018 sama persis dengan pertama kali kita ikut PISA 2000, yakni 371. Anggaran digelontorkan sudah triliunan rupiah sejak 2000, namun hasil PISA kita merosot,” kata Anggi yang juga peneliti LIPI.

Baca Juga  Maju Lagi, Apendi Janjikan Desa Nomor Satu Di Cigudeg

Pihak P2G menilai Kemen­dikbudristek selama ini kurang melibatkan semua stakehol­ders dalam mendesain kebi­jakan. Hal ini mengakibatkan banyak polemik terjadi di masyarakat, di mana berda­sarkan catatan P2G setidaknya ada tujuh kebijakan yang menjadi polemik.

Pertama, polemik Program Organisasi Penggerak (POP) yang membuat PGRI, NU dan Muhammadiyah mundur dari keterlibatannya. Kedua, polemik terkait hak merek Merdeka Belajar yang ter­nyata merupakan duplikasi dari mereka dagang PT Se­kolah Cikal.

Selanjutnya yaitu polemik tentang hilangnya mata pe­lajaran sejarah dalam ren­cana desain penyederha­naan kurikulum. Keempat, proses penyederhanaan kurikulum pun dituding tidak transparan dan melibatkan semua pemangku kepen­tingan di dunia pendidikan.

Polemik kelima terkait tidak ada frasa ’agama’ dalam Peta Jalan Pendidikan yang didesain Kemendikbud. Ke­enam, polemik hilangnya Pancasila dan Bahasa Indo­nesia dalam Peraturan Pe­merintah (PP) Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Baca Juga  Sejahterakan Warga Desa

Sementara yang terjadi akhir-akhir ini adalah tidak adanya beberapa tokoh nasional dalam entri Kamus Sejarah Indonesia yang disusun Ke­mendikbud. Tokoh ini an­tara lain Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid. Nama Abu Bakar Baasyir malah justru ada dalam lema.

”P2G menilai Nadiem dan Kemendikbud justru yang belum merdeka sesungguh­nya dalam merencanakan dan mendesain kebijakan pendidikan nasional,” ujar Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Z Haeri.

Menurut Iman, Kemendik­bud masih sangat bergantung pada peran dari jaringan sekolah swasta tertentu yang selama ini sudah membangun hubungan kelembagaan. Ja­ringan sekolah ini yang sel­alu dilibatkan dalam setiap program, khususnya pendi­dikan dasar dan menengah.

”Tercatat sejak kasus Mer­deka Belajar sebagai merek dagang, kemudian POP, Ases­men Nasional, termasuk program-program yang meng­gunakan istilah ’penggerak’,” ucap dia.(vn/yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *