Covid-19 Kabupaten Bogor Tertinggi di Jabar

by -
Foto: Infografis/ Ini Penjelasan Lengkap Mutasi Covid-19

METROPOLITAN – Rendahnya angka kepatuhan ma­syarakat akan penerapan protokol kesehatan, rupanya menjadi penyebab tingkat penularan Covid-19 sangat tinggi. Hal itu membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Jawa Barat (Jabar) menggelar Operasi Yustisi di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi.

Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Satpol PP Ja­bar Jejen Hendra Permana mengaku pihaknya mengge­lar Operasi Yustisi di perba­tasan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor karena tingkat kepatuhan masyarakat di Kabupaten Bogor sangat rendah. Sehingga berpotensi masif terjadi penularan Co­vid-19.

“Perbatasan kota/kabupaten dan provinsi itu kewenangan Satpol PP provinsi. Sehingga kita melakukan Operasi Yusti­si di sini,” katanya kepada Metropolitan, Kamis (10/6).

Baca Juga  B117 Varian Baru Covid-19 Sudah Masuk Bogor, Ini Pesan Bupati

Jejen Hendra mengungkap­kan, tingkat kepatuhan ma­syarakat di Kabupaten Bogor masih di bawah 70 persen dibandingkan kota atau ka­bupaten yang lainnya. Se­hingga, ia menggelar sosiali­sasi dan edukasi kepada masyarakat di lokasi-lokasi yang kerap dikunjungi.

“Hasil evaluasi pemprov beberapa hari lalu, rata-rata angka penularan Covid-19 ini 1.700. Dan tingkat kepa­tuhan masyarakat akan pro­tokol kesehatan ini harusnya rata-rata di atas 80 persen. Tapi di Kabupaten Bogor masih di bawah 70 persen,” bebernya.

Pemerintah Kabupaten (Pem­kab) Bogor tengah berusaha keras menurunkan angka penularan Covid-19 usai klas­ter buka bersama di Kecama­tan Parungpanjang mem­buat masyarakat kembali panik akan penularan Co­vid-19.

Bahkan, baru-baru ini Bu­pati Bogor Ade Yasin men­gungkapkan bahwa Kabupa­ten Bogor berada di tingkat pertama dalam kasus penu­laran Covid-19. Meski tidak menyebutkan angkanya se­cara rinci, Ade Yasin berharap masyarakat lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga  Pulang Pelesiran, Anggota Dewan Reaktif Covid-19

“Memang kasus penularan di Kabupaten Bogor ini ter­tinggi di Jabar. Ini harus men­jadi perhatian kita semua,” ujarnya.

Meski memiliki angka pe­nularan tertinggi, Ade Yasin sempat terheran-heran ka­rena melihat jumlah hunian pasien di rumah sakit sang­atlah sedikit. Sehingga ia menduga banyak masyarakat Kabupaten Bogor yang terpa­par Covid dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Ini yang lebih bahaya ka­rena tidak ketahuan kalau OTG itu. Kalau protokol kesehatan­nya ditetapkan dengan baik, kasus penularan pun dapat dikendalikan,” pungkasnya. (mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *