Kolaborasi Seni Indonesia dan Singapura, Ukir Coretan di Bawah Matahari yang Sama

by -

Jika Anda sedang berada di Jakarta, cobalah mampir ke M Bloc Space, Kebayoran Baru. Mural bertema ‘Under the Same Sun’ atau ‘Di Bawah Matahari yang Sama’ sedang dipamerkan di sana. Karya ini merupakan hasil kolaborasi antara seniman Indonesia Stereoflow (Adi Dharma) dan seniman Singapura Zero (Zulkarnaen Othman).

UNDER The Same Sun’ menjadi wujud kesa­tuan karya seni antara Indonesia dan Singapura. Sebagian mural ‘Under The Same Sun’ dipamerkan di Jakarta, setengahnya lagi di Singapura, tepatnya di Kampong Gelam Bali Lane. Dua karya tersebut lantas disatukan secara digital agar dapat dinik­mati secara utuh. ­

Untuk dapat melihat akti­vasi digital mural tersebut, pengunjung dapat mengguna­kan fasilitas Augmented Rea­lity (AR) demi mendapatkan pengalaman imajinatif yang lebih baik. Karya ’Under The Same Sun’ ini sendiri meru­pakan hasil dari kampanye bertajuk ‘SingapoReimagine’, sebuah kampanye promosi pariwisata Singapura.

Terpisah secara geografis, Stereoflow maupun Zero men­gusung tema tentang ber­mimpi di bawah matahari yang sama. Zero menggambar bulatan kuning yang tampak seperti matahari. Menurut dia, pandemi sudah memengaruhi dunia dari berbagai sisi. Mu­lai kesehatan, ekonomi, hing­ga sosial.

“Singapura dan Indonesia berada di bawah matahari yang sama. Tidak ada yang beda antara kemurungan, kesakitan, dan kecemasan yang kita alami,” katanya saat konfe­rensi pers Kamis lalu (8/4).

Matahari menjadi simbol tentang harapan-harapan hidup di kemudian hari. Di bawah sinar matahari yang sama, penduduk Singapura, Indonesia, dan seluruh dunia menyimpan tujuan dan ke­inginan yang sama: kekuatan, ketabahan, dan kewarasan dalam menghadapi keadaan yang sulit.

Hingga akhirnya, kesulitan-kesulitan itu mampu mem­bawa semua orang pada titik yang lebih baik. “Mudah-mudahan matahari ini me­nyinari harapan-harapan kita untuk bersatu, bersama-sama bertahan, hingga akhirnya kita semua bisa melewati kon­disi ini,” imbuh Stereoflow.

Pada Maret lalu, ia dan Zero melakukan brainstorming tentang konsep hingga me­rancang desain untuk mural puzzle tersebut. Koordinasi dilakukan jarak jauh antarke­dua negara. Stereoflow ke­mudian mengerjakan mural bagian Indonesia dalam waktu tiga hari, sementara Zero mengerjakan mural sisi Singapura selama tujuh hari. Kondisi cuaca yang berbeda di masing-masing negara turut memengaruhi waktu penyelesaian yang berbeda antar kedua seniman tersebut. Namun, secara total, ’Under The Same Sun’ dapat terse­lesaikan dalam kurun waktu sebulan.

Ikon gapura dan candi khas Indonesia serta Marina Bay dan Gardens by The Bay di­tambahkan sebagai elemen utama untuk menggabungkan kedua sisi mural. Keduanya merupakan tetenger khas Indonesia dan Singapura.

Zero kemudian memberi ide untuk menambahkan elemen-elemen khasnya pada mural sisi Indonesia yang dibuat Stereoflow. Remix karya ter­sebut tak begitu sulit dilaku­kan. Sebab, Zero maupun Stereoflow telah saling menge­nal sejak lama.

Chemistry antara keduanya membuat pengerjaan mural ‘Under The Same Sun’ dapat terselesaikan dengan baik. “Kalau dilihat dari warnanya, tidak banyak perbedaan. Baik saya maupun Stereoflow ba­nyak menggunakan warna yang bright. Yakni, pink dan blue,” jelas Zero. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *