Kulepas Dirimu karena Aku tak Mau Jadi yang Kedua (1)

by -

Kulepas Dirimu karena Aku tak Mau Jadi yang Kedua (1)

INI kisahku yang begitu rumit aku jalani, tetapi di dalam suatu cerita kehidupan pasti akan selalu ada hikmahnya. Dahulu saat aku masih SMA, aku mengenal cowok yang menurut aku dia sempurna. Bagai­mana tidak, dia cowok yang kalem, baik, perawakannya juga ganteng, dan perhatian. Lambat laun, aku mulai mengetahui tentang identitasnya. Mulai dari tempat tinggalnya, tempat dia sekolah, dan siapa orang tuanya. Bayangkan, betapa senangnya aku menge­tahui identitasnya.

Pagi itu, saat aku mau berangkat sekolah tidak aku sangka cowok itu ada di pinggir jalan. Sepertinya dia sedang menunggu bus, biasalah pada zaman itu belum ba­nyak yang mempunyai sepeda motor. Ha­tiku dag dig dug tak karuan, seperti mau copot saat melihatnya. Dia sekolah di Betal, Nguntoronadi beda jalur dengan aku, kalau aku arah Tirtomoyo.

Tetapi, tak disangka lagi, bus yang aku tumpangi berhenti di depannya untuk menunggu penumpang lain. Tidak lama kemudian ada seorang cewek naik ke bus yang aku tumpangi sekarang. Cewek itu adalah adik kelasku. Meskipun kami beda satu tingkat, tetapi kami begitu akrab ber­teman. Lalu aku cerita, tentang cowok yang aku suka itu, dan ternyata adik kelasku ini punya nomor HP cowok yang aku suka itu.

Melalui nomor HP yang aku minta dari adik kelasku itu, aku bisa berkomunikasi dengan cowok itu. Lama-lama aku nyaman dengan gurauan dan perhatiannya. Dan mungkin cowok itu juga penasaran dengan aku, hingga dia mencariku ke kampung tempat aku tinggal. Akhirnya kami bertemu, dan singkat cerita kita resmi pacaran wak­tu itu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama, dan baru kali ini aku merasakannya. Hubungan ini kami jalani sampai bertahun-tahun, lebih tepatnya mungkin sekitar 2 tahun.

Hari itu terdengar desas desus teman, sahabat, bahkan tetangga aku, yang men­ceritakan bahwa dia (pacar aku) masih mempunyai pacar sebelum berpacaran denganku. Hatiku bagaikan tersambar pe­tir, begitu sakit bagai tersayat pisau,

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *