Sidak di Mal, 17 Orang Melanggar

by -

METROPOLITAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggelar inspeksi mendadak alias sidak Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Mal Jambu Dua, Kota Bogor, Rabu (9/6). Hasilnya, 17 orang kedapatan melanggar dan 5 di antaranya wajib push-up.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno, mengatakan, sidak ini merupakan puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diselenggarakan pada 31 Mei 2021. Setidaknya ada 17 pelanggar yang terjaring dan dilakukan penindakan.

“KTR ini kegiatan rutin. Kita bekerja sama dengan Satpol PP. Jadi, sidak ini seharusnya rutin. Kegiatan ini juga kami gabungkan dengan mobil curhat untuk pemeriksaan kesehatan,” terang Retno di halaman Mal Jambu Dua, Kota Bogor, Rabu (9/6).

Baca Juga  Usmar Sidak Masjid Agung

Tak hanya itu, sidak KTR ini juga melibatkan petugas ga­bungan, yakni Satpol PP, Ba­penda, Disparbud, Disperda­gin, kecamatan hingga pus­kesmas. Retno menegaskan, semua pihak harus bisa me­nyosialisasikan, melakukan pengawasan dan mengingat­kan. “Karena mengubah pe­rilaku itu harus berkesinam­bungan,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya, menuturkan, berdasarkan hasil sidak, ting­kat kepatuhan pengunjung sudah relatif tinggi, sehingga hanya sedikit yang terjaring. “Ini kegiatan rutin dan sudah diselenggarakan secara koor­dinatif dengan kepolisian dan pengadilan. Sekarang saya lihat tingkat kepatuhannya tinggi, tidak terlalu banyak, kebanyakan sopir angkot me­mang sedari dulu,” kata Bima.

Bima Arya memastikan, tar­get sidak itu sekaligus sosia­lisasi dan menyadarkan ke­pada warga bahwa Kota Bogor konsisten dengan Perda KTR.

Baca Juga  Dewan Geram Mal Boxies Berdusta?

Di lokasi yang sama, Ke­pala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Kota Bogor, Asep Setia Permana, mengatakan, untuk sidak KTR kali ini ada 17 pelanggar yang kedapatan merokok. Namun hanya 12 yang diputus untuk didenda dan 5 lainnya diberi peringa­tan karena mampu mem­bayar denda.

”Dendanya Rp50.000 per orang. Yang lima orang ka­rena ketidakmampuannya, jadi hanya diberikan pembi­naan dan push-up. Tapi tetap kami catat. Jadi, saat nanti melanggar akan kena huku­man, baik denda maupun kurungan,” katanya.

Sekadar diketahui, dari sekian banyak kendaraan yang melin­tas hanya 20 persen yang ke­dapatan melanggar. Sisanya patuh. “Karena mungkin efek dari sosialisasi dengan menem­pel stiker KTR di angkutan umum, Alhamdulillah tingkat kepatuhannya 80 persen,” tan­dasnya. (rez/yok/py

Baca Juga  Tak Ada Kepsek, Kaget Lihat Siswa ‘Nyeker’ di Kelas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *