Kota Bogor Butuh 200 Nakes, Baru Terpenuhi 20 Orang

by -

METROPOLITAN.id – Dalam kondisi darurat, kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menambah tempat tidur pasien Covid-19 rupanya belum sebanding dengan ketersediaan tenaga kesehatan (nakes).

“Jadi saat ini yang kita hadapi bukan hanya masalah oksigen, tapi juga masalah nakes. Ini tantangan kita bagaimana kita bisa mendapat nakes,” kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat meninjau aktivasi dua tempat isolasi pasien di Asrama 5A IPB University Dramaga dan Rumah Sakit (RS) Perluasan di GOR Pajajaran, Senin (5/7).

Dedie menegaskan, saat ini kelengkapan peralatan nakes sudah memadai. Hanya saja tadi, justru Sumber Daya Manusia (SDM) nakesnya yang belum tercukupi. Menurut Dedie, para nakes yang ada saat ini terbagi-bagi tugas.

“Sekarang SDM-nya langka karena kebutuhan-kebutuhannya dimana-mana. Antara lain ada yang menjadi swaber, vaksinator, ditambah kebutuhan-kebutuhan rumah sakit tidak hanya di Bogor tapi seluruh RS di Indonesia,” sambungnya.

Baca Juga  Polisi Menangkap Pelaku Berlian Bernilai Ratusan Juta

Menurut Dedie, saat ini Kota Bogor membutuhkan lebih dari 200 orang nakes. Hingga saat ini, kata dia, mungkin yang baru tercapai hanya sekitar 20 orang saja.

Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mencari sumber-sumber nakes yang kompeten.

“Kalau 200 itu yang untuk kebutuhan isolasi, sementara kebutuhan di RSUD juga tinggi. Semua sama masalahnya, SDM-nya. Aktivasi RSUD dua (RS Perluasan, red) saja mungkin butuh berapa puluh lagi, itu juga belum terpenuhi,” sambung Dedie.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir menambahkan, nakes yang ada saat ini diyakininya masih memiliki moril yang tinggi. Ilham juga menyatakan para nakes masih siap berjuang untuk pelayanan Covid-19.

Baca Juga  Kepadatan Kendaraan Meningkat, Ruas Jalan di Kota Bogor Nggak Nambah-Nambah Sejak 2015

“Hanya memang ini jumlah kecepatan kapasitas penambahan pasien dibandingkan dengan penambahan SDM dan ruangan tidak sebanding. Jadi masih banyak yang positif baru, terutama dari isoman,” jelas Ilham.

Kondisi ini, kata dia memang belum ideal. Seharusnya, satu perawat menangani enam pasien. Apalagi, penanganan pasien Covid-19 lebih berat karena harus menggunakan baju hazmat.

Saat ini, satu perawat melakukan penanganan untuk 15 pasien. Selain itu, kata Ilham, memang kondisi seperti saat ini mengharuskan RSUD meningkatkan kapasitas.

“Kalau SDM kita naikkan dengan kontingensi. Jadi yang rawat inap kita kurangi. Mau tidak mau sekarang hanya tersisa 56 (nakes) untuk rawat umum non-Covid19. Nanti kita target menjadi 341 nakes untuk Covid-19. Kita bertahap dulu,” beber Ilham. (ryn)

Baca Juga  DPRD 'Kekeuh' Tolak Wisata Malam GLOW KRB Beroperasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *