Mal Pilih Tutup 100 Persen

by -

METROPOLITAN – Bertahan di tengah ketidakpastian eko­nomi bukanlah hal mudah. Apalagi jika bisnis yang di­kelola bertumpu pada mobi­litas masyarakat. Para pelaku industri membutuhkan ke­pastian dari regulator untuk bisa tetap beroperasi.

Direktur Marketing Pakuwon Sutandi Purnomosidi me­nyatakan bahwa optimisme pelaku ritel dan pengelola pusat perbelanjaan bergantung pada angka kunjungan. Ka­rena itu, ia bersyukur saat kondisi membaik pada kuar­tal II dan mal boleh berope­rasi normal. “Sebagai pusat perbelanjaan, kami selalu taati protokol kesehatan. Ka­rena kami sendiri takut ope­rasional dibatasi lagi,” ungkap pria yang juga ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja In­donesia (APPBI) Jawa Timur itu.

Ia menyatakan bahwa ki­nerja pengelola mal biasanya terpangkas hingga 50 persen saat diberlakukannya pem­batasan atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masy­arakat (PPKM). Itu terjadi pada Mei 2020 dan Januari 2021. Namun, Sutandi menga­ku saat ini angka kunjungan berangsur membaik.

Baca Juga  Wanita Telanjang Dada di Mal Bekasi Jadi Misteri

Pembatasan jam operasional sangat berpengaruh pada ki­nerja mal. Hingga Rabu (30/6), pemerintah masih mengizin­kan pusat perbelanjaan bero­perasi sampai pukul 20:00 WIB. Namun, penyedia makan dan minum hanya boleh melayani dine in hingga pukul 17:00 WIB. “Kalau sampai 17:00 WIB, ar­tinya pengunjung bisa berku­rang sampai tinggal 10 persen. Daripada rugi, lebih baik kami tutup saja sampai kebijakannya dicabut. Yang jadi korban akhir­nya pekerja di mal,” tegas Su­tandi.

Ia menyatakan bahwa pen­gusaha butuh ketegasan dan konsistensi pemerintah dari pusat hingga daerah. Ia me­minta aturan diberlakukan secara adil. Misalnya, insiden penyekatan Bangkalan. Ia menilai tindakan Pemerintah Kota Surabaya sudah benar. Namun, karena didemo, pe­merintah provinsi malah membubarkan upaya itu. Jika hal tersebut tidak segera dia­tasi, ia khawatir pelaku indu­stri ritel dan pusat perbelan­jaan bakal menderita. Semen­tara itu, waktu yang diperlu­kan untuk bisa pulih jauh lebih lambat. “Setelah sekian lama, kami akhirnya bisa mendapatkan 80 persen pen­gunjung. Kalau kembali ke nol lagi, bisa jadi banyak yang menyerah,” tandasnya. (jp/ feb/run)

Baca Juga  Asik, Bayar Pajak hingga Bikin SKCK Kini Bisa Sambil Jalan-jalan di AEON Mall

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *