Sehari, 5 Pasien Covid-19 di Bogor Meninggal saat Isoman di Rumah

by -
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Rino Indira didampingi Dirum Rivelino Rizky dan Dirtek Ardani Yusuf. (Ryn/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Kasus pasien Covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (Isoman) di Kota Bogor masih terus terjadi saat ini. Tercatat, selama sepuluh hari terakhir ini ada 52 orang pasien Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani Isoman di rumah.

Kepastian itu disampaikan langsung Ketua Koordinator Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan.

Menurutnya, sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor membuka layanan hotline untuk melakukan pemulasaran jenazah Covid-19 pada Minggu (4-13/7), pihaknya sudah menangani 52 pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani Isoman di kediamannya masing-masing.

Artinya, jika dihitung rata-rata ada lima pasien Covid-19 yang meninggal dunia perharinya. “52 jenazah yang kita tangani. Kemarin 8 jenazah dalam 1 hari,” kata Rino yang juga Dirut PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Rabu (14/7).

Baca Juga  Begini Reaksi KSP Saat Teten Masduki Dituduh Otaki Demo di Rumah SBY

Selama PPKM Kota Bogor, dijelaskannya, Tim Pemulasaran dibantu Polmas Bogor Raya, BPBD, PC NU, Baznas, Masjid Agung, bersama pihak-pihak lainnya dalam menangani jenazah yang meninggal saat isoman.

Meski kasus kematian karena isoman terus meningkat di Kota Bogor, dilanjutkan Rino, sejauh ini pihaknya masih dapat menangani dengan baik dari sisi pemulasaran atau saat pemakaman jenazah.

“Alhamdulillah masih kita bisa tangani, pekan kemarin kami juga melatih masyarakat tata cara pemulasaran pasien Covid-19,” ucapnya.

Hal itu sangat membantu Pemkot Bogor ketika ada warga yang meninggal karena terpapar Covid-19. Sehingga, dapat ditangani tanpa khawatir terpapar virus corona.

Selain menyiapkan ketersediaan liang lahat di empat TPU yang ditunjuk khusus Covid-19, dirinya juga harus memastikan ketersediaan peti jenazah setiap harinya. “Sampe hari ini kita telah siapkan 70 peti Jenazah,” imbuh Rino.

Baca Juga  Kasus Covid-19 Kota Bogor Meningkat, Bima Arya: Simulasi PTM Distop, Mobilitas Warga Dikurangi

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menjelaskan, tingginya kasus pasien isoman terjadi karena pada umumnya kondisi mereka mengalami penurunan saturasi oksigen sehingga nyawanya tidak terselamatkan.

“Pada umumnya sih mereka awalnya tidak ada gejala, tentu awalnya gejala ringan, tetapi lambat laun penurunan saturasi ini menjadi sangat cepat tadinya yang standarnya kan 90, bisa tiba-tiba turun ke 60,” kata Dedie.

“Nah pada saat di bawah 9 (saturasi oksigen) ini kan sudah pada posisi kedaruratan,” ujarnya. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published.