Vincent Prijadi, Pelukis Penyandang Autisme yang Punya Galeri dan Koleksi 190 Lukisan Hasil Karya Sendiri

by -

Ide membuka galeri terlintas di benak sang ayah saat melihat kamar Vincent Prijadi Purwono sudah penuh dengan lukisan karyanya. Keinginan tersebut terwujud tiga bulan lalu. Kini, ada lebih dari 190 lukisan berbagai rupa dan ukuran yang dipamerkan di galeri itu.

RATUSAN lukisan di kanvas langsung terlihat begitu me­masuki Vinautism Gallery, CitraLand, Surabaya. Lukisan-lukisan itu dipajang di dinding. Ada juga instalasi berbagai bentuk dan rupa yang dipa­merkan di ruangan bertembok putih itu. Seluruhnya adalah karya Vincent. Ya, remaja 17 tahun tersebut baru saja mem­buka galeri seni yang menam­pung karya seni rupa miliknya.

Tepatnya pada 29 Maret lalu, galeri itu dibuka untuk umum. Pengunjung yang te­lah melakukan reservasi bisa menikmati karya Vincent di tiga lantai. Karya-karya ter­sebut beraliran pop-art. May­oritas bertema transportasi. Misalnya, kereta api dan pe­sawat. “Dari SD memang suka melukis itu, terutama kereta api,” ujar Vincent saat diwawancarai, Kamis (1/7).

Sang ayah, Rudy Purwono Prijadi, menjelaskan gagasan berdirinya galeri. Ide itu terlin­tas pada Juni 2018. Dia melihat kamar Vincent penuh dengan lukisan karyanya. Rudy lalu berkeinginan untuk mendiri­kan galeri khusus. Cita-cita itu direalisasikan dengan men­gumpulkan satu per satu karya Vincent sejak 2018.

Kini, galeri tersebut penuh dengan karya Vincent selama tiga tahun terakhir. Bukan hanya lukisan di kanvas. Ada juga aneka gambar digital yang berasal dari lukisan Vincent. Awalnya karya-karya itu hanya berada di lantai 3. Lantai 1 dan 2 biasa digunakan Vincent untuk bersekolah secara ho­meschooling. Sejak pandemi, kegiatan homeschooling di­tiadakan. Karena itu, tiga lantai dipakai untuk mema­merkan karya.

Vincent memang bersekolah di rumah sejak lulus SMP pada 2018. Orang tuanya memutuskan hal tersebut agar Vincent bisa mengembangkan bakatnya. Terlebih, Vincent didiagnosis sebagai penyan­dang autisme sejak usia 13 bulan. Awalnya, keluarga syok mendengar diagnosis tersebut. Seiring berjalannya waktu, Rudy dan sang istri Margie Sofia Prijadi memperhatikan Vincent memiliki bakat ter­pendam. “Dari kecil Vincent suka melukis. Sebaiknya dia fokus ke sana dan kami beru­saha fasilitasi,” papar Rudy.

Keputusan kedua orang tua Vincent tampaknya tepat. Sejak 2018, Vincent mengukir sejumlah prestasi di bidang seni rupa. Misalnya, mengik­uti dua puluh agenda pame­ran tunggal maupun bersama di dalam dan luar negeri. Di antaranya, pameran tunggal bertema Cinta Kereta Api di Stasiun Kereta Api Gubeng pada 2019. Pada 2020, lukisan­nya berjudul My Transporta­tion terpilih untuk dipamer­kan di Hopkins Art Center, Minnesota, Amerika Serikat. Karya itu juga menjadi peme­nang ketiga kategori lukisan akrilik dalam agenda tersebut. Saat pandemi, Vincent juga tak berhenti menghasilkan karya untuk galerinya.

Rudy berharap galeri itu bisa menginspirasi orang tua yang memiliki anak berkebu­tuhan khusus agar harapan mereka semakin terbuka lebar. Serta meyakinkan bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki kesempatan yang sama dengan anak lainnya. Terutama untuk mendapat pendidikan sesuai kebutuhan mereka.

Vinautism Gallery juga me­mamerkan aneka suvenir dengan rupa lukisan Vincent. Misalnya, kaus, jersey sepeda, dan mug. Ke depan, Rudy ingin membuka kesempatan kepada pelukis lain untuk me­mamerkan karyanya di sana. Tujuannya, masyarakat bisa menikmati karya seni di ga­leri standar nasional. “Semo­ga pandemi cepat berlalu dan harapan itu segera terwujud,” pungkasnya. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *