Berkarier di Luar Jadi Jalan Keluar, ‘Ekspor’ Indonesia Tersebar dari Azerbaijan sampai Guatemala

by -

Ada pemain asal Indonesia, ada yang keturunan Indonesia, dan ada pula pelatih dari Indonesia di skuat bulutangkis sejumlah negara lain. Kerasnya persaingan di dalam negeri membuat berkarier di luar negeri menjadi jalan keluar.

ADA Flandy Limpele di balik keberhasilan Aaron Chia/Soh Wooi Yik merebut perunggu ganda putra. Ada Muamar Qadafi di belakang kejutan Kevin Cordon menembus se­mifinal tunggal putra.

Di ajang badminton Olimpi­ade Tokyo 2020, daftar itu masih bisa diperpanjang di deretan pemain. Ada Setyana Mapasa yang menjadi andalan Australia di ganda putri ber­pasangan dengan Gronya Somerville. Juga Ade Resky Dwicahyo yang mewakili Azer­baijan di tunggal putra.

Ini baru yang tampil di pentas Olimpiade. Di luar peserta ajang empat tahunan itu, ma­sih sangat banyak pemain dan pelatih Indonesia yang ber­kiprah di semua benua.

benua yang sangat akrab dengan bulutangkis seperti Asia dan Eropa hingga yang terbilang masih asing dengan olahraga tepuk bulu itu se­perti Amerika dan Afrika.

”Banyak, Mas. Ada beberapa teman Indonesia yang melatih di sana,” kata Qadafi ketika ditanya Jawa Pos tentang kiprah pelatih dan pemain Indonesia di Amerika Tengah dan Selatan.

Di antara yang banyak itu ada Deariska Putri Medita, alum­nus PB Djarum, yang melatih di Peru bersama sang suami. Ada pula Tedy Supriyadi, je­bolan PB Djarum juga, yang menjadi sparring partner tim­nas Kanada di Olimpiade 2020.

Baca Juga  Pertumbuhan Ekspor dan Impor Melesat, Menko Airlangga: Neraca Perdagangan Kembali Surplus

Bisa dibilang kalau Brasil ada­lah pengekspor pemain dan pelatih sepak bola terbesar di dunia, untuk bulutangkis sta­tus itu dipegang Indonesia. Dengan kalimat lain, Indone­sia memegang peran penting dalam persebaran badminton di penjuru bumi.

Dan, menurut Program Direc­tor Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin, itu lumrah terjadi. Sebab, per­saingan di dalam negeri sang­at ketat.

”Mereka kan juga butuh pe­kerjaan. Dengan keahlian bulutangkis itu, banyak tawa­ran yang datang dari negara yang bulutangkisnya kurang maju,” kata Yoppy kepada Jawa Pos.

Yoppy mengungkapkan, pi­haknya sering dimintai re­komendasi pemain atau pe­latih yang ingin berkarier ke luar negeri. Selain ekspor, ada yang datang ke Indonesia un­tuk menimba ilmu. Misalnya, untuk sparring partner. Pi­haknya hanya bergerak seba­gai fasilitator.

”Kalau ada tawaran, kemu­dian pelatih itu cocok, kami hanya menjembatani mereka. Awalnya biasanya sparring partner, kemudian asisten pelatih. Setelah tahu kualitas­nya, bisa diangkat jadi pelatih,” lanjut Yoppy.

Mulyo Handoyo yang kini ber­kiprah di Singapura membe­narkan bahwa persaingan di Idonesia sebagai salah satu raksasa bulutangkis dunia sangat ketat. Banyak pemain yang sebenarnya berkualitas, tapi tidak mendapat tempat. Begitu juga pelatih.

Baca Juga  Satpol PP Raup Puluhan Juta dari Pelanggar PPKM Darurat di Kota Bogor

”Bermain atau melatih di luar negeri adalah salah satu jalan keluar,” kata pelatih yang mem­bawa Taufik Hidayat merebut emas tunggal putra Olimpiade Athena 2004 itu.

Rionny Mainaky yang saat ini menjabat sebagai Kabidbin­pres PP PBSI juga pernah menjadi pelatih ganda putra Jepang. Di bawah asuhan Ri­onny, Jepang berhasil menem­patkan dua pasangan dalam sepuluh besar dunia. Pada 2019, dia kembali ke Indone­sia dan menjadi pelatih tung­gal putri

Kakaknya, Rexy Mainaky, juga punya karier mentereng di luar negeri. Perebut emas ganda putra Olimpiade At­lanta 1996 bersama Ricky Sub­agja itu pernah melatih Ing­gris pada 2001–2005. Di bawah asuhannya, Inggris bisa meraih perak pada Olimpiade Athena 2004 melalui Nathan Robert­son/Gail Emms.

Kemudian, dia pindah ke Ma­laysia pada 2005–2011. Berla­njut ke Filipina. Sempat pulang dan menjabat sebagai Kabid­binpres PP PBSI 2012–2016, Rexy beralih ke Thailand sam­pai sekarang.

Menurutnya, yang paling sulit ketika pindah negara dalam melatih adalah soal adaptasi kultur setempat. Terutama soal bahasa, apalagi di negara-negara yang tidak akrab dengan bahasa Inggris. Misalnya, yang dialaminya di Thailand.

”Kalau salah sebut atau beda intonasi, sudah beda. Usia segini susah juga kalau belajar lagi,” kata adik pelatih ganda campuran Richard Mainaky tersebut.

Agus Dwi Santoso yang pernah melatih di Korea Selatan dan kini menangani tunggal putra India senada dengan Rexy. Dibutuhkan setidaknya 2–3 bulan untuk adaptasi.

Baca Juga  Sukses Ekspor Manggis, Kabupaten Bogor Di Apresiasi

”Saya yang harus aktif, men­catat kata-kata dengan ba­hasa Inggris yang simpel dan mudah dimengerti. Untungnya bahasa bulutangkis itu uni­versal,” kata Agus.

Bulutangkis di Olimpiade 2020 juga diramaikan dua pemain keturunan Indonesia, Lianne Tan (Belgia) dan Ng Ka Long Angus (Hongkong). Pelatih Lianne juga berasal dari Indo­nesia, Bagus Ade Candra.

Sedangkan mereka yang asal Indonesia, tapi kemudian membela negara lain, kata Yoppy, biasanya berstatus pe­main residen. Biasanya me­reka minta rekomendasi dari federasi untuk membela ne­gara tertentu. Tapi, statusnya tetap WNI (warga negara In­donesia).

”Cuma, biasanya pemain itu sudah lama menetap di ne­gara sana, bisa jadi menikah dengan orang sana, akhirnya pindah kewarganegaraan,” ujarnya.

Keinginan kembali ke tanah air tentu saja masih meng­gelora. Qadafi yang habis kontraknya dengan Guate­mala memilih pulang kampung dulu. Mulyo juga mengaku siap kapan saja dibutuhkan. ”Tergantung PBSI,” katanya.

Demikian pula Agus yang ter­catat pernah melatih pelatnas pada 1997–2003 dan 2010–2013. ”Tapi, kalau di dalam negeri itu adalah pengabdian, bukan soal gaji. Kalau di luar negeri itu tergantung standar kita ngasih harga berapa,” ujarnya. (feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.