Halu Hibah Rp2 Triliun, Akidi Tio Terancam Pasal Penghinaan Negara

by -
TANGKAP : Personel Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) tangkap Heriyati, salah seorang anak pemberi dana hibah Rp 2 triliun yang ditujukan untuk penanganan Covid-19, atas nama almarhum Akidi Tio, Senin (2/8). (Tangkapan layar Youtube/ist)

METROPOLITAN – Anak bungsu almarhum Akidi Tio, Heriyanti, dijemput jajaran Polda Sumatera Selatan. Penjem­putan itu terkait dana hibah Rp2 triliun untuk proses penanggulangan Covid-19.

Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Eko Indra Heri, mem­benarkan bahwa Heriyanti sudah diamankan. Saat ini ia tengah menjalani pemeriksa­an.

Kepala bidang Humas Polda Sumatera Selatan, Komisaris Besar Supriadi, mengaku po­lisi belum menetapkan siapa pun menjadi tersangka dalam polemik sumbangan Covid-19 sebesar Rp2 triliun dari kelu­arga Akidi Tio. ”Belum ada tersangka karena kami masih memeriksa keduanya,” kata Supriadi, Senin (2/8).

Menurut Supriadi, paling tidak ada dua orang yang saat ini sedang diperiksa penyidik. Mereka adalah Heriyati yang merupakan anak bungsu dari Akidi dan Hardi Darma­wan yang merupakan dokter keluarga.

Sebelumnya, Polda Suma­tera Selatan memastikan tak ada duit Rp2 triliun di rekening Bank Mandiri anak Akidi Tio, Heriyati. ”Sama sekali tidak ada nominal uang yang dis­umbangkan itu,” kata Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Sumsel, Komisaris Be­sar Ratno Kuncoro, Senin (2/8).

Ia mengatakan, polisi sudah mengecek ke rekening kelu­arga Akidi. Mendapati tak ada uang sebesar itu, polisi ke­mudian membawa Heriyati. ”Langsung dibawa dari Bank Mandiri setelah mengecek,” kata Ratno.

Sebelumnya, keluarga Aki­di Tio memberikan hibah bantuan penanganan Covid-19 sebesar Rp2 triliun. Simbo­lisasi penyerahan ini bahkan dihadiri Gubernur Sumatera Selatan dan kapolda Suma­tera Selatan.

Ia mengaku polisi masih mendalami motif rencana pemberian dana bantuan penanganan Covid ini. Ia me­nyebut keluarga Akidi ini bisa dikenakan Pasal 15 dan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. ”Pasal penghinaan negara dengan ancaman sepuluh tahun,” katanya.

Pusat Pelaporan dan Anali­sis Transaksi Keuangan (PPATK) angkat bicara ter­kait rencana sumbangan yang mencapai Rp2 triliun dari keluarga almarhum Akidi Tio untuk membantu penanganan Covid-19. Hal ini setelah ramai diperbincangkan publik ter­kait sosok keluarga pengu­saha asal Aceh, almarhum Akidi Tio, yang ingin meny­umbangkan bantuan bernilai fantastis.

Bantuan itu mulanya akan diserahkan ke Kapolda Su­matera Selatan (Sumsel), Irjen Eko Indra Heri, pada Senin (26/7) yang merupakan rekan dekat almarhum Akidi Tio. Tetapi justru kini, muncul kabar rencana bantuan Rp2 triliun itu adalah kabar bohong alias hoaks.

“Kita harus melihat dahulu apakah sumbangan itu hanya sebatas pernyataan atau ko­mitmen, atau nantinya benar-benar akan terjadi penyerahan uang atau aset,” kata Kepala PPATK, Dian Ediana Rae, ke­pada JawaPos.com, Senin (2/8).

Dian menyampaikan, jika bantuan itu nantinya benar diberikan PPATK akan secara langsung menelusuri sumber dana maupun penggunaan­nya. Melihat dana yang dis­umbangkan bernilai triliunan rupiah.

“Tentu saja PPATK sesuai tugas dan fungsinya akan tetap melakukan analisis dan pemeriksaan terkait sumber dana yang dihibahkan mau­pun penggunaanya nanti. Ini dimaksudkan untuk kehati-hatian dan memas­tikan bahwa uang yang di­berikan atau dihibahkan itu benar-benar berasal dari sumber yang dapat diper­tanggung-jawabkan, walau­pun uang itu diniatkan dis­umbangkan untuk kepen­tingan publik,” cetus Dian.

Menurutnya, apabila uang tersebut diberikan melalui individu pejabat negara, tentu sebagai pejabat publik wajib melaporkan kepada KPK maupun penyumbang, dan calon penerima. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.