Temuan Terowongan Kuno di Bogor Mirip yang Ada di Klaten, Sukabumi dan Bekasi

by -

METROPOLITAN.id – Temuan terowongan kuno di bawah saluran air atau drainase di sekitaran Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, disebut mirip dengan yang ada di beberapa daerah. Secara kasat mata, terowongan tersebut memiliki kemiripan dengan yang ada di Sukabumi, Klaten dan Bekasi.

“Saluran yang langsung dicek ini secara kasat mata memiliki kemiripan dengan yang ada di Sukabumi, Klaten dan di Bekasi,” ujar Wali Kota Bogor usai mengecek langsung kondisi saluran, Sabtu (28/8).

Sementara itu, berdasarkan informasi salah satu petugas Dinas PUPR yang mengeruk sedimentasi pada titik yang lokasinya dekat dengan Dipo Stasiun Bogor, saluran yang ditemukan seperti ruang yang mirip bak kontrol. Lebarnya mencapai 2 meter dengam panjang 10 meter dan tinggi sekitar 1 meter.

Temuan terowongan kuno ini juga diduga merupakan peninggalan zaman belanda.

Baca Juga  HKN ke-57, Bima Arya Ingatkan Masalah Kesehatan di Kota Bogor Bukan Hanya Covid-19

Bima Arya mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), terowongan kuno tersebut diduga sebagai bangunan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda.

Untuk menindaklanjuti temuan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) menggandeng Universitas Pakuan (Unpak) dan IPB University.

“Setelah kita cek di dinas terkait, memang terlihat ada peta saluran bawah tanah yang dibangun pada zaman Belanda,” terangnya.

Menurut Bima Arya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan fungsi saluran, apakah hanya saluran air atau memiliki fungsi-fungsi lain.

Untuk lebih memastikannya, Bima mengaku telah berkomunikasi dengan pihak Universitas Pakuan (Unpak) dan IPB University. Tujuannya, mendeteksi luas dan panjang saluran tersebut dengan menggunakan alat yang menunjang.

Baca Juga  Garuda Pesta Gol!

Selain ingin memastikan fungsi saluran, Bima Arya juga menginginkan agar dilakukan kajian agar dapat diketahui apakah saluran bawah tanah tersebut memungkinkan untuk direvitalisasi dan digunakan kembali.

Bima Arya menjelaskan, tahun 2016 Kota Bogor sudah memiliki masterplan drainase. Karenanya, saluran bawah tanah yang ditemukan harus disesuaikan, mengingat lokasi penemuan termasuk dalam kawasan yang akan ditata pembangunan alun-alun, masjid agung dan pengembangan Stasiun Bogor.

“Jadi otomatis drainasenya harus rapi. Saya ingin sedimentasinya digali dan dikeruk secara bertahap sampai sejauh mana dan apakah bisa difungsikan kembali sebagai saluran air. Kita akan lihat fungsinya untuk apa,” ungkapnya.

Saluran bawah tanah yang memiliki kedalaman 2-3 meter dari permukaan tanah ini tidak menutup kemungkinan terkoneksi dengan saluran lainnya, seperti yang di Istana Bogor dan lainnya. (*/fin)

Baca Juga  Masuk Polres Bogor Wajib Pakai Aplikasi PeduliLindungi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *