Ada Program Bagi-Bagi Kontrasepsi, Disdalduk KB Nggak Punya Data Kongkret Angka Kehamilan

by -
ILUSTRASI. (ist)

METROPOLITAN.id – Di tengah pandemi, angka kehamilan di Kota Bogor masih cukup tinggi. Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, sejak awal hingga pertengahan tahun 2021 saja angka kehamilan sudah mencapai 11 ribu.

Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (Disdalduk-KB), punya program berperan aktif menyalurkan bantuan alat kontrasepsi secara gratis, yang bersumber dari pemerintah pusat.

Meskipun ada program tersebut, program tersebut dianggap kurang efektif karena Disdalduk KB rupanya tidak memiliki data kongkret soal angka kehamilan di Kota Bogor.

Alasannya, hanya Dinkes yang punya data angka kehamilan. Hal itu diungkapkan Kepala Disdalduk KB Kota Bogor Rakhmawati.

“Kalau (data jumlah) bumil (ibu hamil, red) dan ibu menyusui masih di Dinkes, kalau kita hanya membantu penggerakan saja. Jadi mengenai data itu adanya di Dinkes,” saat dikonfirmasi, Selasa (14/09).

Baca Juga  PPKM Level 1, Perumda Tirta Pakuan Buka Kembali Layanan Pembayaran

Menurutnya, bantuan alat kontrasepsi itu disalurkan ke masyarakat melalui 54 fasilitas kesehatan (faskes). Namun dia mengetahui detail jumlahnya alokais masing-masing faskes karena cukup banyak.

“Bantuan itu disalurkan ke 54 faskes, jatahnya sesuai dengan surat permohonan atau permintaan,” papar mantan kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor itu.

Ia menjelaskan, bantuan alat kontrasepsi tersebut diperoleh dari gudang BKKBN ke gudang Disdalduk-KB, lalu di sebar sesuai dengan surat permohonan dari fasilitas kesehatan yang sudah teregister sebagai fasilitas kesehatan yang melayani alat kontrasepsi.

Selain kegiatan rutin pelayanan KB, alat kontrasepsi di alokasikan pada fasilitas kesehatan pada saat ada kegiatan momentum.

Seperti kegiatan momentum hari keluarga nasional, hari jadi kota bogor, hari Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan dan lain lain.

“Kalau alat kontrasepsi itu dari BKKBN melalui anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK), peruntukannya juga sudah di tentukan oleh BKKBN pusat, jadi jumlahnya sama seluruh Indonesia. Kita hanya melaksanakan saja,” jelasnya.

Baca Juga  Geram Masih Ada THM di Bogor Buka saat Ramadan, Bima Arya : Cabut Izinnya dan Tutup Permanen Saja!

Bahkan, sambung dia, petunjuk teknis (juknis) detail barang-barangnya juga sudah di kasih dari BKKBN pusat.

“Yang IUD kit dan implant kit juga semua di-pagu dari sana,” tukas Rakhmawati.

Sebelumnya, Sekretaris Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan bahwa jumlah angka kehamilan di Kota Bogor pada tahun 2021 masih terus meningkat.

Tercatat hingga sejak Januari hingga Juli lalu saja, angka kehamilan terdata sudah mencapai 11.758 kehamilan. Dari estimasi sasaran sejumlah 19.238 kehamilan.

“Sedangkan pada tahun 2020, angka kehamilan terdata berjumlah 20.605 orang. Dari estimasi 20.902 kehamilan,” katanya, Selasa (14/9).

Meski begitu, pihaknya juga berupaya untuk mengendalikan angka kehamilan di Kota Bogor dengan berbagai cara.

Mulai dari edukasi, konseling, mengadakan pelayanan Keluarga Berencana (KB) lewat pelayanan rutin di semua puskesmas se-Kota Bogor, bidan praktek mandiri hingga Safari KB dengan penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang, yang dinilai efektif menekan kehamilan.

Baca Juga  Jaring Talenta Musik, Pemenang Workshop ke Jakarta

Untuk edukasi, kata dia, dilakukan kepada pasangan usia subur dan dijelaskan upaya menekan kehamilan lewat program KB.

“Sedangkan untuk konseling dilakukan pada remaja untuk mencegah terjadinya pernikahan dini,” tandasnya.

Diketahui, pengadaan alat kontarasepsi di Kota Bogor sendiri seluruhnya dipenuhi oleh BKKBN Pusat melalui BKKBN Provinsi Jawa Barat. Alat kontrasepsi yang di sediakan adalah IUD, implant, suntik, pil dan kondom.

Sedangkan alat penunjang pelayanan KB berupa IUD kit dan Implant, pengadaannya di lakukan Dinas Dalduk KB Kota Bogor dengan dana yang berasal dari Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Kesehatan-Keluarga Berencana. Dengan jumlah pengadaan untuk tahun 2021 adalah 27 unit IUD kit dan 27 Unit Implant kit , dengan total anggaran Rp.307,3 juta. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.