Dampak Insiden SDN Otista, DPRD Minta Pemkot Bogor Evaluasi Serapan Anggaran

by -

METROPOLITAN – Am­bruknya atap ruang kelas SDN Otista, Kota Bogor, beberapa waktu lalu, mendapat sorotan Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto. Menurutnya, ada tiga langkah strategis yang ha­rus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pendidikan untuk me­nyelesaikan permasalahan ini.

Pertama, Disdik perlu mela­kukan pemeriksaan dan pe­metaan ke seluruh bangunan sekolah di Kota Bogor. Sebab selama kurang lebih dua tahun, bangunan sekolah tidak di­gunakan akibat pandemi. “Hal ini penting untuk memastikan jaminan keselamatan proses belajar menjelang PTM. Yang rusak bisa segera diajukan untuk perbaikan,” kata Atang, Senin (20/9).

Kedua, ia menyarankan Dis­dik Kota Bogor agar melaku­kan evaluasi terhadap serapan anggaran perbaikan sekolah-sekolah dalam beberapa tahun terakhir. Baik yang tidak ter­serap karena gagal tender ataupun penyebab lainnya.

Sehingga kejadian atap am­bruk karena tidak terlaksana­nya perbaikan bisa diantisi­pasi dan diminimalisasi.

Baca Juga  Enggak Ada Angin dan Hujan, Bangunan SDN Otista Bogor Mendadak Ambruk

“Seingat saya pada 2020 dan 2021 sudah dianggarkan un­tuk perbaikan beberapa se­kolah. Namun, beberapa gagal dilaksanakan. Jangan sampai kegagalan ini terus berulang sehingga menyebab­kan kerusakan bertambah dan berbahaya bagi keselamatan jiwa,” ujar politisi PKS itu.

Ketiga, ia meminta Disdik Kota Bogor memetakan ke­butuhan sekolah baru, baik jenjang SD, SMP maupun SMA. Atang menekankan bahwa masalah pembangunan se­kolah baru ini harus menjadi prioritas. “Mengingat jumlah penduduk bertambah, seko­lah juga perlu ditambah. Apa­lagi rata-rata angka belajar kita belum sampai 12 tahun. Terlebih dengan sistem zo­nasi, banyak siswa yang tidak tertampung akibat sekolah banyak terkonsentrasi di per­kotaan,” jelasnya.

Khusus untuk kerusakan ke­las di SDN Otista, Atang me­nyarankan agar pemerintah cepat lakukan perbaikan dengan menggunakan dana Biaya Tidak Terduga (BTT). Hal ini untuk meminimalisasi kerusakan yang ditakutkan merembet ke ru­angan lainnya.

Baca Juga  SDN Otista Gencarkan Sekolah Bersih

Jika menunggu perbaikan menggunakan APBD Peru­bahan 2021, akan memakan waktu yang lama karena bi­rokrasi yang ada.

“Kalau menunggu anggaran Perubahan APBD 2021 dik­hawatirkan lama dan tidak keburu dilaksanakan. Sebab masih ada tahapan pemba­hasan sampai dengan pene­tapan. Ditambah lagi proses evaluasi gubernur, penjabaran APBD dan lainnya. Yang pas­ti membutuhkan waktu. Jika dengan dana BTT, bisa langs­ung diproses dari sekarang dan masih ada waktu sampai akhir Desember nanti,” pa­parnya.

Sebelumnya, tersisa tiga bulan jelang akhir tahun, realisasi tender barang dan jasa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mencapai 110 paket atau 70 persen dari total 159 paket yang ditenderkan tahun anggaran 2021 dengan nilai kontrak Rp172 miliar. Dari jumlah itu, beberapa paket proyek bernilai hampir Rp6 miliar dinyatakan gagal lelang.

Baca Juga  SDN Otista Roboh, Mau Masuk Keburu Ambruk

Kepala Bagian Pengadaan Barang Jasa Setda Kota Bogor Henny Nurliani menuturkan, sejauh ini ada tujuh paket yang dinyatakan gagal tender. Ada paket yang gagal lelang lalu dikembalikan ke SKPD ter­kait untuk dikaji kembali atau tindak lanjutnya seperti apa. Jika dijumlah, beberapa paket gagal tender itu mencapai angka Rp5,99 miliar.

Di antaranya, revitalisasi Gedung SDN Pamoyanan 2 dan SDN Cibeureum 2 dari Dinas Pendidikan (Disdik), dengan masing-masing seni­lai Rp1,06 miliar dan Rp959 juta. Menurutnya, kedua pa­ket itu sulit ditender ulang lantaran rencana pekerjaan menelan waktu 120 hari. Se­hingga tidak cukup waktu jika harus ditender ulang.

”Dikurangi jadwalnya juga nggak mungkin karena secara perhitungan, perencanaan itu harus segitu waktunya. Jadi dirasionalisasi dari Disdik, tidak akan terserap, mungkin diang­garkan di tahun depan,” pung­kas Henny. (ryn/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *