Dua Bayi Berjuang demi Punya Lubang Anus

by -

METROPOLITAN – Sekilas tak ada yang aneh dengan kondisi Hamzah Abdullah. Bayi pasangan suami-istri asal Kelurahan Puspanegara, Kecama­tan Citeureup, Kabupaten Bogor, itu terlihat sehat. Namun, siapa sangka jika selama ini Abdullah menderita kelainan kolostomi, yang artinya terlahir tanpa lubang anus.

Hamzah. Itulah panggilan kesayangan orang tuanya, Novita Dwi Anggraeni dan Zulfadhli. Saat lahir pada 2 Agutsus 2021, keduanya menyambut bahagia kelahiran putra ketiganya. ­

Awalnya, sang bidan men­gatakan bahwa bayinya sehat dan normal. Tetapi saat hendak keluar dari tempat persalinan, bidan yang menangani No­vita alias Umi mengungkapkan kenyataan pahit. Umi dimin­ta ikhlas menerima kondisi Hamzah yang rupanya lahir tanpa lubang anus.

”Bidan mungkin belum de­tail banget lihat si dede (Ham­zah, red). Orang lahir, biasanya orang itu dilihat dari fisiknya saja dan normal. Alhamdulil­lah. Tapi pas mau bayar, si dede dicek lagi sama bidannya. Baru ketahuan si dede tidak ada lubang anusnya,” tutur Umi kepada Metropolitan, Rabu (15/9).

Dengan keterbatasan eko­nomi, Umi dan sang suami khawatir anaknya tidak bisa mendapat perawatan di rumah sakit. Sebab, Hamzah harus segera mendapat penanganan khusus akibat kelainan yang dideritanya. Namun, berkat kebaikan orang-orang yang ada di sekitarnya, Hamzah langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) PMI Kota Bogor untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Baca Juga  MPASI Bayi 6-9 Bulan

”Karena kita juga bingung sudah tidak ada biaya. Masya Allah, bu bidan baik hati. Kata bu bidan, uangnya bawa saja dulu. Karena di rumah sakit itu pasti butuh banyak uang,” kenangnya.

Selama ini, Umi mengaku sudah terdaftar sebagai pe­serta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kese­hatan. Hanya saja, ia masih memiliki tunggakan empat tahun karena tidak pernah membayar premi tiap bulan.

”Waktu itu kami nekat saja kami bawa uang sebesar Rp1,6 juta. Karena si dede juga bu­tuh tindakan rontgen dan embel-embel lainnya,” ujar Umi sambil menangis.

Umi melanjutkan ceritanya. Ia mengaku bahwa Hamzah sempat mendapat perawatan selama tiga hari di RS PMI Kota Bogor setelah hari ke­lahirannya. Ia pun bersyukur lantaran banyak orang baik yang ingin membantu Ham­zah dalam membiayai putra bungsunya. ”Akhirnya, si dede itu dirawat tiga hari. Kalau tidak salah hari Rabu dioperasi, hari Sabtu kita pu­lang. Dengan jumlah yang segitu banyaknya biaya, ada hamba Allah yang baik yang membantu kita membayar tunggakan BPJS selama empat tahun itu untuk operasinya,” ungkapnya.

Saat ini, keadaan Hamzah terlihat sehat dan normal. Namun, setelah operasi stoma, Hamzah pun mau tidak mau harus BAB melalui perut un­tuk sementara. ”Kadang saya suka nggak kuat kalau lagi mandiin atau lagi ganti baju­nya. Saya selalu nangis, sedih melihat anak bungsu saya harus mengalami kelainan seperti itu,” ungkapnya.

Baca Juga  Selama Tujuh Hari, Mama Muda Buang 3 Bayi

Sebelumnya, Umi mengaku ada sahabatnya yang mem­buka donasi untuk kesembu­han Hamzah. Ia merasa kaget saat mengetahui banyaknya orang yang memberi donasi untuk buah hatinya.

”Total donasi Rp12 juta. Kita gunakan sebaik mungkin untuk Hamzah. Perjalanan Hamzah masih panjang, ma­sih ada operasi kedua untuk pembentukan lubang anusnya dan operasi ketiga untuk penutupan stoma di perutnya. Lalu masih harus menjalani terapi ring sampai usianya tiga tahun ke depan,” jelasnya.

Hamzah tak sendiri. Bayi Muhammad Arfan Alfarizki yang kini baru berusia 14 bu­lan juga mengalami hal ser­upa. Selain memiliki kelainan kolostomi, Arfan juga men­derita down syndrom, hipo­tiroid, serta penyakit jantung bawaan. Ibunda Arfan, Imaro­tul Firtiah, mengaku mulanya belum mengetahui kelainan yang Afran derita saat persa­linan Afran. Ia mengaku ma­rah dan sedih saat tiga hari usai persalinan baru diberi tahu bahwa Afran menderita kelainan kolostomi.

”Pas hari pertama dibilang normal, saya lega. Paginya itu, saya lihat Afran nggak BAB berwarna hitam, dan reflek minumnya juga kurang. Pas hari ketiga, dilihat anak saya. Dibilang anak saya kena penya­kit kuning. Ternyata dipang­gil lagi, ngga ada anusnya. Itu saya sedih. Hari ketiga baru ketahuan nggak ada anus. Saya lihat lah itu ke ruangan. Ter­nyata benar, itu nutup full kayak ada jaringan abu-abu. Makin ke sini, di rumah saya lihat makin kelihatan kulit nutup. Si anusnya nutup sem­purna,” ungkap perempuan 31 tahun itu.

Baca Juga  Bayi Mulai Rewel hingga Kekurangan Tenaga Medis  

Namun, lanjut Imarotul, saat ini kondisi Afran sehat dan terlihat ceria. Namun, lanta­ran memiliki down syndrom, IQ Afran dan tumbuh kembangnya terhambat. ”Baru bisa tengkurep sama baru bisa bolak-balik badan dan muter-muter. Sudah bisa ce­ria, diajak ngobrol sudah ada aksi dan reaksinya,” ujarnya.

Ia mengatakan, seharusnya Juni lalu Afran mendapatkan operasi ketiga. Yaitu penutu­pan stoma di perutnya. Namun sayang, dokter yang menanga­ni Afran terjangkit Covid-19 hingga operasinya harus dit­unda. Ditambah, pada akhir Juli kemarin dirawat karena infeksi saluran kemih yang dideritanya.

”Harus disunat. Kemarin saya lagi kondisi nggak ada uang sama sekali. Saya pinjam ke sana ke mari dapat Rp2 juta. Habis itu disunat, seka­rang sudah sembuh. Sekarang ditambah lagi napasnya grok-grok bunyi gitu. Makanya kemarin saya ke RS Thamrin, minta obat buat mandiri di rumah. Anusnya sekarang sudah ada lubang. Cuma kan mau penutupan stoma yang di perutnya itu disambung ke anusnya tertunda karena dok­ternya terpapar Covid-19,” tandasnya. (cr1/d/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.