IBI Kesatuan Junjung Toleransi

by -

METROPOLITAN – Institut Bisnis dan Informatika Kesa­tuan atau IBI Kesatuan menga­dakan kuliah perdana bertajuk ‘Membangun Sikap Antiradi­kalisme bagi Mahasiswa Baru’ pada Sabtu (18/9) pekan lalu.

Kegiatan webinar dengan menyasar mahasiswa baru itu dilakukan secara hybrid sekitar 743 peserta via daring untuk Mahasiswa Baru TA 2021/2022 serta dosen dan peserta yang mengikuti se­cara offline sebanyak 60 orang.

Rektor IBI Kesatuan, Prof Moermahadi Soerja Djane­gara, menyampaikan bahwa tindakan radikalisme dapat dilakukan siapa pun dan di mana pun. Salah satunya sikap intoleran terhadap perbe­daan. “Pendidikan antiradi­kalisme ini penting diperke­nalkan kepada mahasiwa baru, karena sikap antiradikalisme merupakan pondasi penting dalam menjaga Kebhinekaan Indonesia,” kata Prof Moer­mahadi di Kampus IBI Kesa­tuan, Sabtu (18/9).

Baca Juga  TK Kesatuan Kota Bogor Jawara LSS se-Jabar

Karena itu, IBI Kesatuan merupakan kampus yang di­bangun oleh orang-orang berbagai agama, suku dan budaya. “IBI Kesatuan sang­at menjunjung toleransi,” tegasnya.

Sementara itu, Komisaris Utama PT Taspen (Persero), Komjen Pol (Purn) Suhardi Alius mengajak seluruh ma­hasiswa dalam mengantisi­pasi berkembangnya teror­isme di Indonesia untuk mendalami masalah ke­bangsaan yang tidak hanya menggunakan akal dan lo­gika, tetapi juga hati.

Sebab, hati merupakan aku­mulasi dari kejujuran kultur, nafas spiritual serta empati dan sebagai unsur untuk mengendalikan diri. “Peran signifikan ada pada pemimpin. Untuk mahasiswa yang akan menjadi calon pemimpin,” kata Suhardi yang juga man­tan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) periode 2016-2020. “Mari selalu asah knowleage dan skill kita. Tidak akan ada perubahan bila tidak dimulai dari diri kalian sendiri. Mari berperang untuk mampu membuat network dengan stake holder,” sambungnya.

Baca Juga  Yayasan Kesatuan Resmikan Monumen Pendiri Sekolah

Suhardi juga menjelaskan faktor-faktor penyebab ber­kembangnya radikalisme terorisme di dunia pendidikan serta ciri-ciri orang yang ter­papar paham radikalisme.

Ia menyebutkan beberapa ciri yang mencolok di anta­ranya antisosial, mengung­kapkan kritik yang berlebihan terhadap masyarakat secara umum serta kritis pada ulama dan organisasi moderat.

Di tempat yang sama, Dosen IBI Kesatuan dan Master of Ceremony mengatakan, per­kuliahan perdana ini meru­pakan agenda rutin dan men­jadi syarat wajib saat kelulu­san sebagai bekal awal men­jadi mahasiswa baru.

Untuk saat ini temanya membangun sikap antiradi­kalisme agar mereka dapat mencegah dan mengantisi­pasi sejak dini.

“Alhamdulillah, narasum­bernya kompeten dan memang mantan kepala BNPT. Hari ini dari kampus senang ke­datangan narasumbernya. Materinya dalam, sehingga mahasiswa akhirnya engeh serta antiradikalisme men­jadi PR bersama,” katanya.

Baca Juga  Sekolah Kesatuan Sasar 700 Pelajar untuk Vaksin

Menurutnya, poin yang di­berikan kepada mahasiswa yakni wawasan kebangsaan dan pemahaman teori anti­radikalisme secara umum. “Kemudian apa yang dilaku­kan semasa menjabat BNPT dan ternyata setelah pensiun masih tetap tergabung dalam kegiatan antiradikalisme,” ujarnya.

“Pemahaman itu yang me­mang sangat sesuai untuk mahasiswa. Untuk dosen da­pat banyak masukan,” sam­bungnya. Untuk diketahui, IBI Kesatuan rencananya memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) awal Oktober. (jp/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *