Selama Pandemi Lima Anak Alami Gizi Buruk

by -

METROPOLITAN – Kasus gizi buruk masih dijumpai di Kabupaten Bogor. Selama pandemi Covid-19 tercatat ada lima kasus gizi buruk. Salah satunya terjadi di wilayah se­latan Kabupaten Bogor.

Ketua Masyarakat Pejuang Bogor (MPB), Atiek Yulis, menuturkan, dalam kurun waktu Januari hingga Septem­ber 2021 ditemukan lima kasus gizi buruk. ”Empat ditangani MPB,” katanya, kemarin.

Menurut Atiek, gizi buruk di Kabupaten Bogor masih ditemukan, baik usia balita ataupun orang dewasa. Ia pun menekankan peran banyak pihak harus selalu dijalankan dengan baik, terutama Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. ”Peran lain yang sangat pen­ting yakni Bappedalitbang dan DPRD untuk anggarannya,” tuturnya.

Atiek memaparkan, untuk gizi buruk usia bayi sampai balita peran besar pencegahan ada di puskesmas. Kemudian secara teknis melalui posy­andu harus rutin sebulan sekali diadakan penimbangan dan pemeriksaan oleh bidan desa untuk bisa mendeteksi lebih dini.

Baca Juga  Selama Pandemi Puluhan Anak Jadi Korban Kekerasan

Menurutnya, kasus gizi buruk yang MPB temukan berada di lingkungan keluarga kurang mampu. Untuk itu, jika ada catatan balita dari keluarga yang ekonominya kurang, sebaiknya ada perhatian lebih dan ada pengajuan bantuan untuk ibu dan bayinya.

”Bisa diajukan ke Dinas Kesehatan melalui puskesmas tentang makanan dengan nutrisi dan gizi yang baik agar dikonsumsi setiap hari, se­perti lauk pauk dan susu tam­bahan. Pengecekan rumah yang ditempati juga harus sehat, bersih dan cukup ven­tilasi udaranya,” tuturnya.

Selain itu, tradisi pembe­rian nutrisi tambahan se­perti bubur kacang hijau, sayur sop dan lainnya jangan hanya diberikan kepada me­reka satu kali dalam sebulan. Sebaiknya diadakan pening­katan pemberiannya yang bisa dikonsumsi setiap hari untuk pencegahan gizi buruk. ”Sangat penting diadakan pencegahan agar si bayi tum­buh berkembang, normal dan sehat,” paparnya.

Baca Juga  Selama Pandemi, Jangan Biarkan Anak Terlantar di Rumah Sendiri

Saat ditemukan gizi buruk, Atiek menekankan, pemerin­tah dalam hal ini Dinas Kese­hatan harus turun tangan melalui puskesmas kemu­dian diadakan perawatan secara intensif.

”Jika ditemukan gizi buruk akut harus dibawa ke RS un­tuk dicek kesehatannya se­cara intensif. Setelah itu harus ada pemberian makanan tambahan setiap hari dan dalam pantauan puskesmas atau bidan desa, sampai di­pastikan balita tersebut sehat dan tumbuh normal serta tidak kekurangan makanan bergizi,” tambahnya.

Untuk gizi buruk usia de­wasa atau lansia peran besar adalah ketua Rukun Tetangga (RT) setempat yang harus mengetahui kondisi semua warganya, terutama jika ada warga yang ekonominya kurang atau tidak mampu harus se­gera antisipasi. ”Jangan sam­pai ada yang kelaparan dan tidak cukup gizi untuk dikon­sumsi. Segera laporkan ke RT dan RW berjenjang ke desa agar secepatnya mendapat bantuan makanan secara ru­tin. Lalu pendataan dimasuk­kan ke Data Terpadu Kese­jahteraan Sosial (DTKS), ke­mudian ke dinsos dan sete­rusnya,” bebernya.

Baca Juga  Setahun Pandemi, 390.731 Warga Kabupaten Nganggur

Sebelumnya, gizi buruk dialami bocah tiga tahun warga Kampung Cibolang, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Chika Aulia Putri. Saat ini Chika mendapatkan perawatan di rumah sakit se­telah difasilitasi pemerintah desa setempat.

Sekretaris Desa (Sekdes) Ciderum, Samsi Rijal, men­gatakan, pemerintah desa bekerja sama dengan IPSM kecamatan juga Koramil Ci­awi melakukan penanganan terhadap anak yang menga­lami gizi buruk tersebut.

Sementara itu, Danramil Ciawi, Mayor Inf Mulyadi, menuturkan, Koramil Ciawi memastikan agar anak pen­derita gizi buruk itu menda­patkan penanganan sampai sembuh. ”Iya kita bersama menangani sampai sembuh,” paparnya. (jal/c/els/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.