Soal Penemuan Bunker di Terowongan Kuno Bogor, Komunitas Sejarah: Bukan Bunker, cuma Bak Penampungan

by -

Pegiat Sejarah dari Komunitas Bogor Historia, Eko Hadi, menjawab soal penemuan bangunan yang menyerupai sebuah bunker di terowongan kuno di bawah saluran air di sekitaran Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

MENURUTNYA, bangunan itu bukan sebuah bunker, melainkan semacam bak penampungan air. Hal itu ia ungkapkan ke Wali Kota Bo­gor, Bima Arya, saat melaku­kan pertemuan di Balai Kota Bogor, Jumat (3/9). “Banyak yang bilang bunker, tapi ke­simpulan kita melalui hipo­tesis bukan bunker tapi se­macam bak penampungan air,” kata Eko kepada wartawan, Minggu (5/9).

Ia menjelaskan, ada dua kemungkinan penguat pi­haknya yang menyatakan bangunan yang awalnya di­sebut bunker ini adalah bak penampungan air. Pertama, bangunan itu berdiri tepat di bawah depo kereta di Stasiun Bogor. Sementara pada zaman dulu kereta yang digunakan berjenis lokomotif uap, di mana bahan bakar utamanya adalah air dan batu bara.

Baca Juga  Pemkot Bogor Hentikan Penelusuran Terowongan Kuno, Bima Arya: 6 Petugas Mendadak Sakit

“Air ini berfungsi sebagai pendingin dan pencucian. Karena hasil riset kita, ruangan batu bara ketika digunakan terus menerus akan menjadi jelaga, kaya kerak dan selalu harus dibersihkan,” ujarnya.

Untuk itu, sambung Eko, ketika ruangan ini tidak rutin dibersihkan, maka volume pengisian batu bara akan se­makin mengecil kapasitasnya. Semisal yang tadinya bisa mengisi 10, karena tidak di­bersihkan jadi cuma muat 3.

“Dan itu membutuhkan sumber air, sedangkan sum­ber air tanah disana (Stasiun Bogor) kami belum mene­mukan,” imbuhnya. “Satu-satunya petunjuk (itu) adalah bak penampungan air, kita dapat informasi bagian atas­nya (bangunan itu terbuat) dari beton, artinya bisa di­buka. Tapi kita belum bisa menyimpulkan bahwa apa itu sebenarnya,” sambungnya.

Kemudian, tambah Eko, asumsi kedua pihaknya, bangu­nan ini merupakan bak kon­trol untuk pengendapan sam­pah. Artinya, ketika air masuk yang namanya sedimentasi, sampah hingga kotoran lain tertampung di bangunan itu. Sementara bak kontrol ini biasanya dibangun persis se­telah tikungan. Sama halnya dengan posisi bangunan yang awal disebut sebagai bunker ini.

Baca Juga  Balai Arkeologi Jabar Telusuri Terowongan Kuno Stasiun Bogor

“Biasanya bak pengontrol ini (dibangun) ada di tikungan, cenderung dibangun lurus dan nekuk. Dan lokasinya (bangunan) ini juga sama. Posisi sama di belokan juga,” bebernya.

“Pengalaman dan penga­matan di lapangan kurang lebih seperti itu, setelah di bak itu air bisa melewat. Ka­rena lengkungan arah air keluar kecil dibandingkan saat masuk seperti kita lihat di video, artinya banyak kemun­gkinan,” lanjutnya.

Meski begitu, untuk mem­perkuat apakah bangunan yang ditemukan Pemkot Bo­gor melalui Dinas PUPR ini merupakan sebuah bunker atau sebagai penampungan air, dalam waktu dekat tim akan mulai dibentuk untuk menelusurinya. “Minggu de­pan rencananya tim mulai duduk bareng. Tim ini ter­diri dari unsur pemerintahan, akademisi (dosen) dan ar­keologi,” terangnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bo­gor, Bima Arya, menyebutkan, enam petugas penggali tero­wongan kuno sebelum jatuh sakit secara berbarengan sempat menemukan bangu­nan yang menyerupai sebuah bunker. Bangunan ini ber­diri tepatnya di terowongan yang melintas dari arah Nyi Raja Permas menuju Depo Stasiun Bogor. “Ditemukan semacam bunker ternyata, ini terus digali, namun (ka­rena) yang menggali kemarin sakit, akhirnya dihentikan dulu,” kata Bima, Rabu (1/9).

Baca Juga  Temuan Terowongan Kuno di Bogor Mirip yang Ada di Klaten, Sukabumi dan Bekasi

Meski demikian, pihaknya sudah meminta jajarannya bekerja sama dengan pihak profesional yang biasa me­nangani urusan menggali terowongan dan goa. “Jadi kita akan gali lagi tapi bukan oleh penggali biasa, saya su­dah minta kerja sama karena di dalam itu ada semacam bunker,” katanya.

Adapun bangunan yang menyerupai bunker itu me­miliki kedalaman setinggi orang dewasa. “Kita akan fokus dulu ke situ. Saya sudah komunikasi dengan Unpak, ada fakultas teknik juga. Nan­ti kita akan lihat sama-sama dan turun ke situ,” imbuhnya. (rez/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *