Bangun Typedream, Milenial RI Harumkan Ibu Pertiwi di AS, Enam Tahun Berjuang hingga Dipercaya Investor Asing

by -

Saling kenal saat berkuliah di kampus yang sama di AS, mereka membangun perusahaan rintisan di bidang website builder tanpa coding benar-benar dari nol. Kemudahan Typedream, kata sang CEO, seperti mengetik informasi di Google Docs.

KEBUTUHAN situs web kini tak hanya dirasa­kan perusahaan-perusahaan besar. Para pelaku usaha kecil dan menengah juga butuh memiliki website khusus untuk dija­dikan ‘toko’ mereka sendiri agar tak bergantung pada e-commerce. ­

Sayangnya, membuat web­site yang eye-catching tak semudah membalikkan tela­pak tangan. Dibutuhkan ke­mampuan pemrograman yang mumpuni. Sementara, tak semua orang memiliki kemam­puan tersebut. Kondisi itu pun memaksa mereka mengguna­kan tenaga web developer. Belum menghasilkan cuan, tetapi harus keluar biaya tinggi duluan.

”Kalaupun yang gratis, itu yang benar-benar simpel. Pakai template yang nggak terlalu bisa diedit juga,” kata Kevin Chandra saat berbincang dengan Jawa Pos pada awal bulan ini.

Peluang itulah yang kemu­dian ditangkap Kevin, Putri Karunia, Michelle Marcelline, Albert Putra Purnama, dan Anthony Harris Christian. Mereka akhirnya memutuskan untuk membuat Typedream, start-up yang bergerak di bi­dang website builder tanpa coding, tetapi dengan hasil menarik layaknya buatan pro­fesional.

”Kalau kami ngambil di tengah, ngambil gampangnya dan bagusnya,” tutur Kevin yang juga CEO (chief execu­tive officer) Typedream.

Kevin, Putri, Michelle, Albert, dan Anthony sama-sama lu­lus dari University of Southern California, Amerika Serikat. Dari sana, mereka mulai men­coba membuat project demi project sebelum membangun Typedream.

Baca Juga  On Fire

Kemudahan Typedream, jelas Kevin, seperti mengetik informasi di Google Docs. Namun, desain-desain temp­late-nya lebih beragam, baik dari sisi warna hingga pattern. Tidak jadul seperti desain website lama yang hanya diisi tulisan dan gambar.

Saat ini, ia mengklaim Ty­pedream sudah banyak di­gunakan di Amerika Serikat. Mereka juga menyasar market Uni Eropa dan India. Tak he­ran bila Typedream dilirik investor luar. Baru-baru ini, mereka juga mendapat pen­danaan tahap awal (seed fun­ding) dari Y Combinator, founder Makerpad Ben Tossell, mantan partner di Sequoia Capital Timothy Lee, Ekseku­tif WordPress Aadil Mamujee, serta founding engineer Twit­ter Blaine Cook Y Combinator merupakan perusahaan yang juga mendanai start-up besar seperti Airbnb.

Keberhasilan itu tak mereka tempuh dalam waktu singkat. Butuh enam tahun dari project ke project hingga akhirnya lima anak muda Indonesia ini berhasil mendirikan Ty­pedream. Asam garam sudah pernah mereka cicipi selama membangun perusahaan rin­tisan ini.

Terlebih, tak ada kenalan sebagai mentor hingga nol pengalaman ‘jualan’ ke pe­rusahaan-perusahaan di AS. Semuanya dimulai dari bawah. Typedream pernah ditawarkan ke sejumlah developer, tetapi ditolak karena mereka lebih menginginkan open-source.

”Yang lebih sedihnya lagi, Indonesia gak punya repre­sentative di US,” ungkap lu­lusan Fakultas Computer Science University of Southern California tersebut.

Baca Juga  34 Orang Gagal Nyaleg di Bogor

Apalagi di bidang start-up atau teknologi. ”Bahkan, dari segi makanan, orang-orang di sana lebih familier dengan makanan Vietnam, Korea Se­latan, hingga Jepang,” sam­bungnya.

Mereka juga harus berjudi dengan nasib ketika memu­tuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan masing-masing. Padahal, saat itu be­lum ada kepastian mereka bakal mendapat guyuran pendanaan dari Y Combina­tor. Terlebih, banyak pesaing yang ikut seleksi.

”Nekat aja. Untungnya, gak lama quit kerja, kami dapat funding,” kenang Michelle, lalu tertawa.

Selain itu, dukungan dari orang tua menjadi pegangan mereka hingga berani mengambil risiko besar ter­sebut. ”Apalagi kan kami imigran di sini. Kalau gak dapat Y Combinator, mungkin kami udah pulang ini,” ujar Kevin.

Namun, keputusan resign itu dinilai Albert menjadi langkah terbaik. Sebab, dulu, saat ma­sih harus kerja kantoran, me­reka pun harus gila-gilaan banting tulang. Setelah jam kantor, mereka harus kem­bali bekerja membuat coding untuk start-up yang mereka bangun. ”Kerja sampai jam 12 malam. Jadi, (resign) itu bikin kami punya waktu,” katanya.

Hal itu pun diamini Putri. Sebab, memiliki start-up sen­diri merupakan cita-cita me­reka sejak awal. Meski, sebe­lumnya tak ada satu ide yang pasti. Mengingat, mereka pun dulu hanya mengerjakan project-project semasa sama-sama berkuliah di University of Southern California. ”Tapi, kalau nggak sekarang, kapan lagi,” tegas perempuan asal Surabaya tersebut.

Baca Juga  Pacar Digorok, Leher Sendiri Ditusuk

Sebelum mendapat fund dari Y Combinator, mereka sempat mencoba menawarkan produk kepada investor In­donesia. Sayangnya, gayung tak bersambut. Pasar Indo­nesia, rupanya, memang be­lum berjodoh dengan keli­manya.

Terakhir, setelah mendapat fund dari investor luar ne­geri, mereka tetap berupaya memberikan suatu terobosan untuk masyarakat dalam ne­geri. Mereka mencoba mem­buat start-up untuk trading di Indonesia, tetapi ditolak. Padahal, aplikasi yang dibuat akan membuka kesempatan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki saham perusa­haan-perusahaan asing, teru­tama di US.

“Lalu, kami nanya, ’Kalau saham Indonesia, boleh?’ Boleh. Tapi, harus beli lisen­si dan ada depositnya. Mini­mal Rp 120 miliar,” jelas Kevin.

Mengetahui itu, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Meski mereka sudah memi­liki investor, tentu bukan perkara mudah menyampai­kan hal tersebut. Apalagi, bila dibandingkan dengan di AS, biaya membuat aplikasi serupa hanya membutuhkan dana sekitar USD 200 ribu atau sekitar Rp3 miliar. Karena itu, mereka memutuskan untuk tetap menjajal pasar AS di­banding dalam negeri.

Kendati begitu, mereka tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi negaranya. Meski, tak dilakukan dari Indonesia. ”Mengharumkan nama Indo­nesia gak harus dari Indone­sia, bisa dari mana saja,” tutur Michelle. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.