BOR Hanya 5 Persen, Kota Bogor Pertahankan Operasional RS Perluasan hingga Asrama IPB dan Pusdiklatwas BPKP Ciawi

by -
ILUSTRASI Petugas di RS Lapangan saat beroperasi beberapa waktu lalu. (Dok. Prokompim Kota Bogor)

METROPOLITAN.id – Hingga pekan terakhir September, kasus Covid-19 Kota Bogor cenderung melandai, yang berdampak pada Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur Covid-19 di berbagai Rumah Sakit (RS) rujukan juga semakin kecil.

Meski begitu, Wali Kota Bogor Bima Arya tetap mengingatkan dan mewanti-wanti terhadap perkembangan pandemi Covid-19. Sebab menurutnya, gelombang ketiga pandemi Covid-19 sangat mungkin terjadi di akhir tahun 2021 nanti.

“Jadi jangan lengah jangan abai. Menurut para epidemiolog, sangat mungkin terjadi gelombang ketiga di akhir tahun 2021 kalau kita nggak waspada. Kalau kita menerima varian baru setelah delta ini,” katanya kepada Metropolitan, baru-baru ini.

Dari data hingga Kamis (30/9), jumlah keterisian tempat tidur pasien Covid-19 di Kota Bogor hanya terisi 41 orang atau setara 5 persen dari total 818 bed yang tersedia. Bahkan keterisian di berbagai fasilitas perluasan pun nihil pasien, seperti di RS Perluasan GOR Pajajaran, Pusdiklatwas BPKP Ciawi hingga Asrama IPB.

Baca Juga  Ada Peningkatan Kasus Covid-19 di Jawa-Bali, Jangan Lengah!

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dr Sri Nowo Retno, pihaknya masih tetap meminjam fasilitas seperti Pusdiklatwas BPKP Ciawi, Asrama IPB hingga operasional RS Perluasan di GOR Pajajaran meskipun kasus Covid-19 semakin rendah. Dengan alasan salah satunya untuk antisipasi lonjakan kasus tiba-tiba seperti yang sudah-sudah hingga antisipasi kemungkinan gelombang ketiga.

“Kita dipinjamkan selama kita membutuhkan, unlimited sebetulnya, jadi ketika nanti memang kasus benar-benar terkendali, kita masih cukup. Di BPKP juga dipinjam selama kita membutuhkan, unlimited juga lah, masih dipakai. Kan lebih baik kosong tapi tersedia daripada terisi,” paparnya.

Selain itu, kata dia, 21 RS rujukan juga masih berkomitmen untuk menjaga jumlah kapasitas yang disediakan. Meskipun belakangan ini RS meminta untuk mengurangi bed yang dikonversikan untuk pasien Covid-19. Sebab pandemi Covid tidak bisa diprediksi karena bisa saja tiba-tiba melonjak.

Baca Juga  Tingkatkan Wawasan Pariwisata, Disparbud Gelar Pelatihan

“Saya sampaikan tahan dulu. Ya tidak apa kalau memang banyak umum non-Covid, tapi ketika Covid tinggi lagi ya mereka harus cepat konversi lagi. Ini sudah sepakat dengan semua. Kalau kemarin kita sempat sediakan 1.200-an bed, sekarang tinggal sekitar 900, kita pertahankan itu,” jelasnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *