Cek Kesehatan Pohon di Kebun Raya Bogor, Ini Rekomendasi Peneliti LIPI

by -

Sejumlah peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pemeriksaan dan pengawasan pohon di kawasan Kebun Raya Bogor (KRB). Pemeriksaan dilakukan dengan alat dan metode khusus untuk mengantisipasi terjadinya pohon tumbang akibat keropos, terutama saat kondisi cuaca ekstrem di wilayah Bogor.

KOORDINATOR Tim Ana­lis Kesehatan Pohon dan Pe­neliti di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset Ino­vasi Nasional, Rizmoon Nurul Zulkarnen, mengatakan, pe­meriksaan tersebut rutin dilakukan guna mengecek kesehatan pohon dan kol­eksi pohon di Kebun Raya Bogor.

Dalam pemeriksaan itu, pi­haknya menggunakan sejum­lah metode yakni metode visual dengan form khusus untuk menilai kerusakan yang dimodifikasi dari Internatio­nal Society of Arboriculture (ISA). Bahkan dalam kasus tertentu, peneliti biasanya menggunakan metode FHM atau Forest Health Monitoring. “Kedua metode itu esensinya sama, yaitu untuk mendeskrip­sikan kerusakan yang terjadi pada akar, batang dan tajuk percabangan,” katanya.

Baca Juga  Habis Curhat Bareng Bupati, Upah Naik 8,03 Persen

Selain menggunakan me­tode visual, peneliti juga meng­gunakan alat bernama Picus Sonic Tomograph yang mer­upakan alat canggih buatan Jerman yang digunakan untuk mengetahui persentase kela­pukan atau keropos yang terjadi pada pohon. “Hingga triwulan ketiga tahun ini ada 185 pohon yang menjadi ko­leksi di Kebun Raya Bogor sudah dicek kesehatannya,” ujarnya.

Dari hasil pengecekan kese­hatan pohon tersebut, pi­haknya memberikan sejum­lah rekomendasi penanganan berupa pemangkasan ranting, pemotongan batang dan pe­nebangan total (tebang habis, red). Namun penindakan tersebut sangat dihindari, karena ada kepentingan kon­servasi yang lebih utama. “Tapi jika terpaksa karena ada aspek keselamatan nyawa, maka tindakan pemangkasan berat dengan menyisakan 4-6 meter batang utama atau te­bang habis akan dilakukan,” terangnya.

Baca Juga  Selamatkan Pengunjung CCM

Lalu, pihaknya juga mere­komendasi perbanyakan ko­leksi harus disertakan agar Kebun Raya Bogor tidak ke­hilangan materil koleksi. Dengan pertimbangan re­komendasinya, melihat objek tumbuhannya, bagaimana status konservasinya dan sta­tus koleksinya di kebun raya.

“Kami juga akan melihat lokasi tempat tumbuhnya juga menjadi pertimbangan dalam rekomendasi, jika lo­kasi tumbuhan sangat jauh di dalam dan jarang dilewati/dikunjungi pengunjung,” ka­tanya. Selain itu, pihaknya juga meminta pertimbangan tim kurator koleksi dalam menentukan pertimbangan rekomendasi jika diperlukan. “Tim kurator beranggotakan senior-senior peneliti kebun raya yang notabene lebih pa­ham dan mengerti kondisi koleksi tumbuhan kebun raya,” katanya.

Sementara itu, ada lima zona di areal KRB yang harus dihindari pengunjung. Lima lokasi itu adalah Jalan Astrid, Jalan Kenari 1, Jalan Kenari 2, sekitar kantor KRB dan de­kat Griya Anggrek. “Kita pasang pembatas di lima zona terse­but agar pengunjung tidak mendekati lokasi itu atau menggelar acara di tempat tersebut,” katanya. Hingga kini KRB memiliki koleksi 222 famili, 1.259 marga, 3.423 je­nis, 13.563 spesimen yang ditanam di atas areal kebun seluas 87 hektare.

Baca Juga  Muspida Kabupaten Bogor Sepakat Damai

Adanya polusi udara, akti­vitas manusia dan faktor bio­logi serta usia pohon di KRB yang semakin meningkat, diduga mengakibatkan pen­urunan kualitas pohon KRB. Penurunan kualitas KRB da­pat dilihat dari tingkat kerusa­kan yang diderita pohon-pohon penyusunnya. Kerusa­kan yang terjadi dapat dise­babkan adanya penyakit, serangga hama, gulma, api cuaca, satwa maupun akibat kegiatan manusia. (rez/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.