Cek Kesehatan Pohon di Kebun Raya Bogor, Ini Rekomendasi Peneliti LIPI

by -

METROPOLITAN.id – Sejumlah peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pemeriksaan dan pengawsan pohon di kawasan Kebun Raya Bogor.

Pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan alat dan metode khusus untuk mengantisipasi terjadinya pohon tumbang akibat keropos terutama saat kondisi cuaca ekstrim yang terjadi di wilayah Bogor.

Koordinator tim analis kesehatan pohon dan peneliti di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset Inovasi Nasional, Rizmoon Nurul Zulkarnen mengatakan, kegiatan pemeriksaan tersebut rutin dilakukan untuk memeriksa kesehatan pohon dan koleksi pohon di Kebun Raya Bogor.

Dalam pemeriksaan itu, pihaknya menggunakan sejumlah metode yakni metode visual dengan menggunakan form khusus untuk menilai kerusakan yg terjadi yang dimodifikasi dari International Society of Arboriculture (ISA).

Bahkan dalam kasus tertentu peneliti biasanya menggunakan metode FHM atau Forest Health Monitoring. “Kedua metode itu esensinya sama yaitu untuk mendeskripisikan kerusakan yang terjadi pada akar, batang, dan tajuk percabangan,” kata dia.

Baca Juga  Kang Emil Nyatakan Dukungan Buat Airlangga Hartarto Jadi Capres 2024

Selain menggunakan metode visual, peneliti juga menggunakan alat yang bernama Picus Sonic Tomograph yang merupakan alat canggih buatan Jerman yang digunakan untuk mengetahui persentase kelapukan atau keropos yang terjadi pada pohon.

“Hingga triwulan ke tiga tahun 2021 ini sudah ada 185 pohon yang menjadi koleksi di Kebun Raya Bogor sudah dicek kesehatanya,” ucap dia.

Menurut dia dari hasil pengecekan kesehatan pohon tersebut pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi penanganan yakni berupa pemangkasan ranting, pemotongan batang, dan penebangan total (tebang habis) akan tetapi penindakan tersebut sangat dihindari karena ada kepentingan konservasi yang lebih utama.

“Namun, jika terpaksa karena ada aspek keselamatan nyawa, maka tindakan pemangkasan berat dengan menyisakan 4-6 meter batang utama atau tebang habis akan dilakukan,” imbuhnya.

Baca Juga  Fasilitas Pedestrian Bakal Diresmikan

Kemudian, pihaknya juga mekomendasi perbanyakan koleksi harus juga disertakan agar Kebun Raya Bogor tidak kehilangan materil koleksi.

Dengan pertimbangan rekomendasinya, kata dia, melihat objek tumbuhannya, bagaimana status konservasinya dan status koleksinya di kebun raya.

“Kami juga akan melihat lokasi tempat tumbuhnya juga menjadi pertimbangan dalam rekomendasi, jika lokasi tumbuhan sangat jauh di dalam dan jarang dilewati/dikunjungi oleh pengunjung,” kata dia.

Selain itu, pihaknya juga meminta pertimbangan tim kurator koleksi dalam menentukan pertimbangan rekomendasi jika diperlukan.

“Tim kurator beranggotakan senior-senior peneliti kebun raya yang notabene lebih paham dan mengerti kondisi koleksi tumbuhan kebun raya,” kata dia.

Sementara, ada lima zona di areal KRB yang harus dihindari oleh pengunjung. Lima lokasi itu adalah Jalan Astrid, Jalan Kenari 1, Jalan Kenari 2, sekitar kantor KRB, dan dekat Griya Anggrek.

Baca Juga  Tudang Sipulung, Cara Petani Sulsel Dongkrak Produktivtas

“Kita pasang pembatas di lima zona tersebut, agar pengunjung tidak mendekati lokasi itu atau menggelar acara di tempat tersebut,” kata dia.

Hingga kini, KRB memiliki koleksi 222 famili, 1.259 marga, 3.423 jenis, 13.563 spesimen yang ditanam di atas areal kebun seluas 87 hektar.

Adanya polusi udara, aktivitas manusia dan faktor biologi serta usia pohon-pohon di KRB yang makin meningkat diduga mengakibatkan penurunan kualitas pohon KRB.

Penurunan kualitas KRB dapat dilihat dari tingkat kerusakan yang diderita oleh pohon-pohon penyusunnya. Kerusakan yang terjadi dapat disebabkan oleh adanya penyakit, serangga hama, gulma, api cuaca, satwa maupun akibat kegiatan manusia. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published.