Dukung Ketahanan Pangan dan Livelihood, Mahasiswa IPB University Susun Strategi Pengembangan Usahatani Hanjeli

by -

Disusun oleh: Sahaya Aulia Azzahra, Nabila Nur Septiani, Lailatun Nikmah, Zulfani Rahmah, Izumi Risma Ayuka, Dr. Kastana Sapanli, S.Pi, M.Si
(Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM, IPB University)

SEBAGIAN besar masyarakat akan mengernyitkan dahi jika men­dengar tentang tanaman hanjeli. Hanjeli atau Jalia atau Jali-jali (Coix la­cryma-Jobi L.) merupakan salah satu tanaman pangan dari suku Poaceae yang mirip dengan jagung namun memi­liki biji mirip dengan sorgum. Setiap bulir hanjeli mengandung 76,4 persen kar­bohidrat, 14,1 persen protein, 7,9 persen persen lemak na­bati, serta 54 mg per 100 gram kalsium sehingga hanjeli me­miliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada beras (Nurmala, 2011; Dewandari et al., 2021). Selain itu, zat ak­tif Coixenolide dalam hanjeli juga dapat menjadi antitumor dan antikanker sehingga han­jeli juga dapat dijadikan seba­gai tanaman obat (Zeng et al., 2021).

Di luar negeri, hanjeli telah dimanfaatkan menjadi ber­bagai produk seperti sup her­bal di Cina, bahan sereal di Taiwan, dan obat hipertensi di Jepang, teh, bahkan bir di Eropa (Irawanto et al., 2017; Histifarina et al., 2020; Yeh et al., 2021). Di Indonesia khus­usnya Jawa Barat, hanjeli ba­nyak diolah menjadi berbagai produk pangan seperti tapai, bubur, kolak, obat-obatan, dan sebagainya (Histifarina et al., 2020). Sebagai contoh, masy­arakat desa Waluran Mandiri, Kab. Sukabumi telah mengo­lah hanjeli untuk dijadikan rengginang, brownis, dodol, dan aksesori seperti gelang dan kalung. Semenjak da­hulu, masyarakat Desa Walu­ran Mandiri telah menanam hanjeli untuk melindungi tanaman padi mereka dari serangan hewan liar. Dodol hanjeli menjadi hidangan yang wajib disuguhkan pada acara pernikahan dan hajatan lain­nya, sehingga hanjeli juga telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat se­tempat. Namun sangat disayangkan, usaha tani han­jeli sempat terancam punah karena masyarakat setempat lebih memilih untuk menjadi penambang emas liar. Selain itu, sempat beredar mitos yang tidak berdasar sehingga mem­buat warga ketakutan untuk menanam hanjeli. Oleh ka­rena itu, pada tahun 2005, Desa Wisata Hanjeli hadir untuk melestarikan hanjeli sebagai kearifan lokal masy­arakat setempat.

Baca Juga  Manfaatkan Teknologi, IPB Ajak Pemuda Bertani

Selain untuk mengedukasi wisatawan tentang potensi hanjeli sebagai pangan alter­natif, pendirian Desa Wisata Hanjeli juga dapat menjadi sumber penafkahan (livelihood) masyarakat. Dalam satu musim panen, usaha tani hanjeli da­pat menghasilkan 3,5 ton (3500 kg) biji hanjeli dengan harga jual Rp. 4.500 per kilogramnya. Apabila dikalkulasikan, pe­tani mendapat penerimaan sebesar Rp. 15.750.000 per musim panen. Masyarakat setempat juga menjual produk olahan hanjeli seperti reng­ginang dengan harga Rp. 15.000 per bungkus, aksesori hanjeli seharga Rp. 10.000-35.000 per buah, beras hanjeli seharga Rp. 35.000 per kg, tepung han­jeli seharga Rp. 100.000 per kg, dan berbagai produk olahan lainnya sehingga meningkat­kan harga jual dan menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, desa wisata hanjeli juga dapat menghasilkan Rp. 6-8 juta per bulannya sehingga usaha tani hanjeli yang terin­tergasi dengan kegiatan wi­sata sangat berpotensi untuk menjadi sumber penafkahan (livelihood) masyarakat.

Baca Juga  Sehari 3 Bencana Melanda Bogor

Menurut masyarakat Desa Waluran Mandiri, budidaya hanjeli cukup mudah apabila dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya sebab han­jeli tidak memerlukan banyak pengairan, cocok ditanam pada berbagai jenis tanah, tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap penyakit, serta memberikan hasil tani yang berlimpah. Oleh karena itu, hanjeli akan sangat ber­potensi untuk dijadikan bahan pangan pengganti beras, sebab hasil tani yang melimpah ruah, kandungan gizi yang tinggi, budidayanya yang mu­dah, serta harganya yang ter­jangkau.

Berdasarkan permasalahan dan potensi tersebut, tim ma­hasiswa IPB University yang terdiri dari Sahaya Aulia Az­zahra dan Nabila Nur Septia­ni (Dept. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan), Lailatun Nikmah dan Zulfani Rahmah (Departemen Ilmu Ekonomi), dan Izumi Risma Ayuka (De­partemen Agribisnis) mela­kukan penelitian mengenai keberlanjutan usaha tani hn­jeli dalam mendukung keta­hanan pangan dan livelihood masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Ke­budayaan, Riset, dan Tekno­logi (Kemendikbudristek) RI melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dr. Kas­tana Sapanli, S.Pi, M.Si selaku dosen pendamping menya­takan bahwa “Penelitian ini menarik sebab menjadi me­gatrend Indonesia ke depan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi saran bagi lem­baga terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pariwisata, Bap­peda, dan sebagainya dalam menyusun strategi peng­embangan hanjeli. Harapan­nya, usaha tani hanjeli ini dapat menjadi pilot project bagi pengembangan hanjeli di wilayah lainnya di seluruh Indonesia sehingga dapat mendukung Indonesia men­capai ketahanan pangan dan livelihood masyarakat”.

Baca Juga  Pemdes Benteng Langsung Gandeng IPB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *