Ini Sikap Sentul City Terkait Perusakan Kantor Desa Bojongkoneng

by -
Foto: Radar Bogor

METROPOLITAN.id – PT Sentul City Tbk prihatin atas terjadinya perusakan sejumlah fasilitas kantor Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor oleh sejumlah massa, Sabtu (2/10).

Perusakan disebut terjadi karena adanya kekeliruan informasi soal penataan lahan yang sedang dilakukan Sentul City di Kampung Gunung Batu Kidul.

Head of Corporate Communication PT Sentul City Tbk, David Rizal Nugroho mengatakan, penataan lahan di Kampung Gunung Batu telah melalui koordinasi dengan pengurus RT,/RW dan desa setempat. Bahkan, ia mengaku penataan tersebut mendapat dukungan warga sekitar.

“Yang menjadi pertanyaan kami, justru aneh yang ngotot melakukan penolakan adalah warga kampung lain, denger-denger oknum warga Gunung Batu Babakan. Padahal kami bahkan belum sama sekali melakukan pengukuran tapal batas dalam rangka penataan lahan milik kami di kampung tersebut. Ada apa ini? Harus diusut tuntas.l,” ujar David, Senin (4/10).

Menurut David, pihaknya tidak meratakan rumah warga asli Bojongkoneng dengan alat berat. Sasaran pihaknya adalag warga pendatang yang menguasai tanah garapan dari mafia tanah yang kemudian mendirikan bangunan liar di atas tanah Sentul City.

Baca Juga  Pembangunan Infrastruktur Jadi Prioritas

“Kami tegaskan bahwa kami tidak menbuldozer rumah warga asli Bojongkoneng. Yang kami kejar adalah warga pendatang yang menguasai tanah garapan dari mafia tanah dan mereka mendirikan bangunan liar di atas tanah kami,” tegasnya.

Terkait perusakan fasilitas kantor desa oleh sejumlah orang, David mengaku prihatin dan menyesalkan aksi tersebut. Menurutnya, aksi anarkisme merupakan tindakan melawan hukum dan tidak dibenarkan secara hukum.

“Kami prihatin dan menyesalkan peristiwa anarkisme yang terjadi dan telah merusak fasiltas kantor Desa Bojongkoneng. Tindakan anarkisme merupakan tindakan melawan hukum, dimana hal ini tidak dibenarkan secara hukum. Maka dengan begini menjadi ranah aparat penegak hukum untuk melakukan penegakan hukum untuk menjamin kepastian hukum dan hilangkan keresahan di masyarakat,” tandas David.

Sebelumnya diberitakan, puluhan massa mendatangi kantor Desa Bojongkoneng, Sabtu (2/10). Beberapa di antaranya mengamuk men­cari kepala desa hingga merusak fasilitas kantor. Serpihan kaca pun berserakan akibat pecah dihajar warga.

Kades Bojongkoneng, Rusdi Anwar membenarkan adanya perusakan kantor Desa Bo­jongkoneng. Ia mengaku se­gera melayangkan surat la­poran kepada pihak kepoli­sian terkait perusakan terse­but.

Baca Juga  Nekat Manjat Marka Jalan Otista Bogor Sambil Pasang Spanduk Protes, Ngaku Ingin Ketemu Bima Arya

“Kaca depan pecah dan kursi pada acak-acakan. Ini jelas aksi perusakan kantor Desa Bojongkoneng sudah menginjak-injakan lambang negara. Dan segera saya buat laporan ke pihak kepolisian terkait masalah ini,” kata Rusdi Anwar, Sabtu (2/10).

Namun, Rusdi mengaku akan berkoordinasi terlebih da­hulu dengan pihak Pemerin­tah Kecamatan Babakanma­dang sebelum membuat laporan polisi.

“Masyarakat boleh meny­ampaikan pendapat tapi jangan sampai anarkis se­perti ini dan melakukan pe­rusakan kantor Desa Bojong­koneng. Ini sudah jelas menginjak-injakan lambang negara,” katanya.

Camat Babakanmadang Cecep Imam Nagarasid juga me­nyesalkan tindakan anarkis yang dilakukan sejumlah warga tersebut. Ia mengatakan, warga boleh menyampaikan aspirasi namun tidak dengan merusak kantor Desa Bojong­koneng.

“Sangat menyesali sekali. Boleh beraspirasi namun tidak boleh anarkis. Ini sudah ma­suk kategori perusakan. Dan kami akan serahkan sepenuh­nya kepada pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut,” tegas Cecep, Sabtu (2/9).

Sementara itu, kuasa hukum Rocky Gerung dan warga Bo­jongkoneng, Nafirdo Ricky mengaku tindakan warga yang merusak kantor Desa Bojongkoneng bermula dari adanya upaya penggusuran yang dilakukan pihak Sentul City terhadap lahan warga.

Baca Juga  Pembunuh Bocah Mungil Lampiaskan Nafsu Bejatnya Usai Korban Meninggal

“Kedatangan warga ke kan­tor desa itu adalah dipicu karena dari Jumat kemarin, dari pihak Sentul dan kemun­gkinan juga ada kades, mela­kukan pengukuran. Namun, sudah dicegat sama warga,” kata Nafirdo.

“Namun kemudian pada Sabtu sekitar jam 10–11-an itu, buldoser Sentul gerak lagi. Itu lahannya Pak Sudi­anto, namanya itu, diretakkan oleh pihak Sentul City ber­sama pasukannya itu. Kita nggak tahu pasukannya itu dari mana, cuma jumlahnya lebih banyak dari warga,” sambungnya.

Warga yang terdesak kemu­dian mendatangi kantor Desa Bojongkoneng untuk meminta bantuan. Namun Nafirdo menyebut saat didatangi warga, pihak desa justru me­larikan diri sehingga menyulut emosi warga.

”Warga minta bantuan ke kelurahan, namun petugas kelurahan malah lurahnya kabur dari tempat. Itulah yang menyulut emosi dari warga, sehingga sempat terjadi ke­ricuhan di Kelurahan Bojong­koneng. Karena lurahnya kabur nggak menghentikan beko-beko atau buldoser yang ada,” akunya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *