Jungkir Balik Aep Kopi Arjasari dari Jerat Tengkulak, Tinggal Menanti Sertifikat Belanda untuk Ekspor

by -

BUMDes Saraksa yang dimotori Aep Saepudin mengerek harga kopi petani sampai empat kali lipat. Mau setor berapa kilogram pun, semua dinaungi.

AEP Saepudin menuangkan kopi dari kemasan yang bertulisan Aras Coffee itu ke dalam gelas-gelas mini. ”Coba dicium,” ujarnya. Belum sempat kami bereaksi, dia sudah menyambar. ”Ku­at ya,” katanya.

Kami bertan­dang ke rumah Aep di Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (11/10) sore dua pekan lalu. Kopi yang dituangkan Aep adalah Java Preanger, kopi dataran tinggi Priangan. ­

Kopi itu tumbuh subur di Arjasari, di lahan-lahan per­tanian di kawasan kaki Gunung Malabar. Yang ditanam tanpa pupuk kimia.

Aep merupakan motor peng­gerak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Saraksa. Ba­dan usaha yang membawa­hkan Aras Coffee. Juga mitra merek kopi lainnya yang ber­basis di Arjasari. BUMDes Saraksa adalah badan usaha di bawah Desa Arjasari.

Aras Coffee yang mereka produksi sudah membidik pasar Eropa. Mereka tengah berusaha mendapat sertifikat ekspor ke Belanda. ”Kopi kami agak strong, langsung teb pas diminum,” ungkap Aep.

Teb yang dimaksud Aep adalah nusuk. Dan, memang itu yang kami rasakan. Aroma kopi itu memang kuat, nusuk. Apalagi setelah air panas dituangkan ke gelas-gelas mini yang dibawa pria kelahi­ran 11 Mei 1967 tersebut. Wangi kopi langsung menyebar ke mana-mana. Bersama kepu­lan asap yang menyembul-nyembul ke luar gelas.

Baca Juga  Heboh! Video 3 Cewek Salat Sambil Joget

Tidak banyak yang dicerita­kan Aep sore itu. Dia hanya meminta kami menghabiskan kopi buatannya. Sambil me­nyantap ubi rebus olahan istrinya. Lalu, dia mengajak kami datang ke tempat pen­golahan kopi milik BUMDes Saraksa. Tapi, tidak hari itu. ”Besok saya kasih lihat,” jan­jinya.

Benar saja, besoknya (12/10) Aep menyambut kami di pa­brik kopi. Di tempat yang sama, Firman, sekretaris BUM­Des Saraksa, hadir. Dia turut mengantar kami berkeliling tempat pengolahan kopi ter­sebut. Menunjukkan satu per satu mesin yang ada. Mulai mesin pencuci kopi, pengupas kulit kopi, pengering kopi, grader, sampai alat roasting. ”Total, ada 14 item mesin,” jelas Firman.

Seluruhnya berasal dari Ke­menterian Desa, Pembangu­nan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Bantuan itu mereka terima pada akhir 2018 dan langsung ditempatkan di tem­pat pengolahan kopi milik BUMDes Saraksa yang ber­diri di atas lahan seluas 140 meter persegi.

Letak pabrik itu tidak jauh dari Pasar Arjasari. Bisa dis­ambangi dengan berjalan kaki dari jalan raya yang mem­belah Kecamatan Arjasari. Kata Aep, pabrik itu juga belum lama berdiri. Pemerintah Desa Arjasari membangunnya setelah diyakinkan Aep. Sebe­lum aktif di BUMDes Saraksa, dia bertugas di Badan Permu­syawaratan Desa (BPD) Arja­sari. Kerjanya keliling desa.

Baca Juga  Tarif Tol Jakarta-Bandung Batal Naik

Lebih dari satu dekade ber­tugas di BPD, Aep melihat potensi besar saat petani di Kecamatan Arjasari mulai kenal kopi pada 2015. Sebe­lumnya, mereka lebih banyak menanam sayuran. Dari pe­merintah, mereka dapat bibit. Juga diberi izin menggarap lahan yang tersedia. Luasnya tidak tanggung-tanggung. Mencapai 250 hektare.

Hingga saat ini, lahan itu belum tergarap semua. Di samping belum terlalu lama mengenal kopi, teori-teori yang menyebut kopi terbaik berasal dari kebun di keting­gian 1.300–1.500 mdpl mem­buat petani kopi di Arjasari sempat minder. Sebab, lahan yang mereka garap berada di bawah 1.300 mdpl.

Namun, siapa sangka, di balik lokasi dengan keting­gian di bawah standar itu, mereka ternyata bisa men­ghasilkan kopi yang bercita rasa beda. Bahkan jika diban­dingkan dengan sesama Java Preanger dari Pangalengan dan Ciwidey, dua kecamatan yang juga berada di Kabupa­ten Bandung. Selain itu, ke­tinggian yang lebih rendah daripada Pangalengan dan Ciwidey menguntungkan pe­tani kopi di Arjasari. ”Kami lebih cepat panen,” ungkap Aep.

Dalam setahun, mereka bisa tiga sampai empat kali panen. Menurut dia, penye­babnya adalah suhu di Arja­sari sedikit lebih panas dari­pada suhu di Pangalengan dan Ciwidey. ”Nanti Januari kami sudah panen, mereka (pe­tani di Pangalengan atau Ci­widey, Red) mungkin Maret,” ujarnya.

Baca Juga  Selamat Hari Kopi,7 Manfaat Kopi Yang Harus Kamu Coba

Selain kelebihan yang sudah disebut Aep, Arjasari diberkahi area yang langsung tersorot sinar matahari. Kopi yang dibeli BUMDes Saraksa dari petani kopi Arjasari lebih se­ring dijemur daripada dike­ringkan.

Menurutnya, Oktober sam­pai Desember merupakan saat kopi dari petani sudah habis mereka olah. Sebab, mereka biasa panen raya pada per­tengahan tahun. Tepatnya pada Juni. Yang tersisa di pa­brik saat kami datang tinggal kopi stok yang belum sempat diproses.

Setelah dipilah dengan meng­gunakan mesin grading, biji-biji kopi itu langsung dijual. Ada pula yang kembali dip­roses. Termasuk yang di-ro­asting sebelum dikemas dan dipasarkan. Bahkan, tidak jarang BUMDes Saraksa men­jual produk mereka setelah kopi diproses sampai men­jadi bubuk dan dikemas dalam kemasan Aras Coffee.

Harganya jelas berbeda-beda. Semakin lama pengo­lahannya, semakin mahal. Seluruh bahan baku kopi itu dibeli dari petani kopi di Ar­jasari. Dengan harga yang jauh di atas harga tengkulak.

Sebelum pandemi, Aep me­nyebutkan bahwa BUMDes Saraksa membeli biji kopi dari petani Rp12 ribu per kilo­gram. Angka itu empat kali lipat dari harga tengkulak. Sebelum BUMDes Saraksa hadir, petani kopi di Arjasari menjual biji kopi kepada pembeli dari luar Arjasari. Tidak jarang, mereka menawar dengan harga sang­at rendah: Rp3.000 per kilogram. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.