Kiprah 8 Tahun Himpunan Pendonor Darah Apheresis, Ratusan Kali Tusuk Jarum

by -

Tingginya kebutuhan donor trombosit yang tidak sebanding dengan suplai membuat ‘perdagangan gelap’ kerap terjadi. Himpunan Pendonor Darah Apheresis hadir tanpa bayaran untuk memenuhi kebutuhan darah para penderita kanker, talasemia, dan penyakit hematologi lainnya

PERJALANAN itu memper­temukan Nurirwansyah Putra Bangun dengan Ilham. Balita pengidap hidrosefalus tersebut membutuhkan darah AB untuk operasi.

Namun, karena darahnya B, di tengah keterdesakan itu, Nur mencari-cari rekannya yang berdarah AB untuk donor trom­bosit bagi balita yang sedang dirawat di RSUP dr Mohammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan, tersebut. Berhasil.

”Kabar itu merambat ke te­tangganya. Dia bilang Mas Nur bisa bantu-bantu cari darah,” tutur Nur yang sehari-hari mengelola usaha event orga­nizer, lantas tertawa kecil.

Dari sanalah ide untuk meng­galang berdirinya Himpunan Pendonor Darah Apheresis berasal. Kebetulan, sejak 2012, Nur yang kala itu masih ma­hasiswa memang aktif mem­bantu masyarakat miskin yang berurusan dengan fasilitas kesehatan untuk pengobatan.

Sejak saat itu, Nur meman­tapkan diri untuk membantu memenuhi kebutuhan donor trombosit di Palembang. Apa­lagi, ia sadar belum banyak darah trombosit di kotanya yang diberikan kepada masy­arakat umum.

Berbeda dengan donor dar­ah merah biasa, donor trom­bosit atau apheresis jauh lebih spesifik. Pendonor harus me­menuhi syarat fisik, nilai Hb, nilai Ht, jumlah trombosit bila trombosit yang akan di­ambil, potensi kandungan penyakit menular, hingga uku­ran urat darah.

Selain itu, sistem pengambi­lannya berbeda. Untuk donor biasa, petugas mengambil darah secara utuh dan diberi­kan kepada pasien. Semen­tara itu, dalam donor aphere­sis, sistemnya menggunakan transfusi seperti cuci darah.

Hanya trombosit dan plasma yang diambil, sedangkan dar­ah merah dikembalikan ke tubuh. Karena itu, secara medis, bobot donor apheresis jauh lebih berat daripada donor biasa. Pengambilannya pun enam kali lebih lama daripada donor darah biasa. Jika donor biasa hanya memerlukan 10–15 menit, donor trombosit membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Tusukan jarum juga lebih besar.

Spesifikasinya yang tidak mudah itu membuat donor apheresis tidak banyak dila­kukan masyarakat. Padahal, kebutuhannya sangat tinggi.

Nur menceritakan, rendahnya donor apheresis memberikan efek domino. Kebutuhannya kerap dipenuhi di ‘pasar gelap’ oleh para calo. Bahkan, tak jarang ada pihak yang mengo­mersialkan dengan harga fan­tastis.

Berdasar informasi yang dida­pat, donor apheresis bisa di­hargai Rp2 juta–Rp3 juta. Bagi kalangan menengah ke bawah, itu sangat memberatkan. ”Ka­lau di kami, hitung-hitungan­nya dengan Yang di Atas saja (gratis),” tuturnya.

Hampir delapan tahun ber­jalan, Himpunan Pendonor Darah Apheresis yang didirikan Nur telah memiliki 167 ang­gota. Mereka semua yang ma­suk telah melalui skrining untuk memastikan kualitas darah dan kondisi fisiknya memenuhi syarat. Jika tidak, ia akan mengarahkan ke donor darah biasa.

Dalam sebulan, komunitas bisa memberikan hingga 30 pendonor apheresis kepada para penderita penyakit he­matologi seperti kanker, tala­semia, dan leukemia.

Karena intensitas yang ting­gi, banyak anggotanya yang sudah mendonorkan trombo­sit lebih dari seratus kali. ”Saya pun sudah lebih dari 150 kali donor,” kata lulusan ilmu hukum itu.

Saking seringnya tertusuk jarum, sebagian tangan Nur dan rekannya sudah keloid. Nur saat ini hanya bisa men­donorkan lewat tangan kirinya.

Mencari 167 anggota pendo­nor trombosit, lanjut Nur, buk­anlah perkara mudah. Apala­gi, banyak rumor negatif yang berseliweran. Misalnya, ber­bahaya bagi tubuh dan me­nimbulkan efek penyakit. Al­hasil, banyak kerabatnya yang menolak bila dihubungi Nur. ”Takut diminta darahnya,” ujarnya, lantas tertawa.

Namun, Nur punya cara ter­sendiri untuk menambah ang­gota. Biasanya, ia mengajak orang-orang yang diincar un­tuk datang ke rumah sakit melihat pasien. Di sana, ba­nyak rasa iba yang muncul sehingga terketuk untuk mem­bantu. ”Saya bilang pasien nggak butuh kasihan. Dia butuh donor darah,” tegasnya.

Selain kerabat, anggota datang dari keluarga pasien yang per­nah dibantu. Sadar akan sulit­nya mengakses donor trom­bosit, jelas Nur, banyak kelu­arga mantan pasien yang terketuk untuk membalas budi dengan berbuat baik ke­pada orang lain.

Cara kerja komunitas ini tidak terlalu struktural yang formal. Siapa pun bisa menghubungi anggota komunitas jika mem­butuhkan. Nanti Nur menca­rikan anggota yang bersedia. Sebab, ada jarak waktu dua pekan sebelum bisa melakukan donor ulang. Selain itu, meny­esuaikan kesibukan pribadi.

Berbeda dengan donor dar­ah biasa yang bisa distok hingga sebulan, donor darah trombosit harus fresh. Sebab, masa kedaluwarsa trombosit tidak lama. Hanya satu–dua hari. ”Jadi, kita sistem stand by saja,” tutur Nur.

Ia juga memastikan bahwa semua darah yang diberikan anggotanya gratis. Bahkan, kebutuhan untuk memulihkan kondisi fisik seperti asupan gizi ditanggung masing-masing. Sejak awal, komunitas ini me­mang berbasis sukarela.

”Kalau punya kegiatan, kami iuran. Kami nggak minta spon­sor, nggak minta pemerintah. Paling yang ekonomi berke­cukupan membantu lebih,” jelasnya.

Meski sudah berjalan cukup baik, Nur berharap semakin banyak orang yang mau me­nyumbangkan trombosit. Dengan stok pendonor yang bertambah, intensitas tiap ang­gota bisa berkurang. Sebab, meski secara medis dapat dila­kukan dua pekan sekali, prak­tiknya cukup berat. ”Paling tidak biar kami yang biasanya siklusnya donor dua pekan sekali jadi sebulan sekali,” tu­tur Nur.

Apalagi, cakupan permin­taan donor ke Nur saat ini tidak hanya datang dari Palembang, tapi juga kabupaten/kota di Sumatera Selatan dan pro­vinsi sekitarnya.

Di masa pandemi, lanjut Nur, komunitasnya juga aktif mem­berikan donor plasma konva­lesen bagi penderita Covid-19 yang mengalami gejala parah. Kebetulan, sebagian anggota juga berstatus penyintas Co­vid-19.

Meski tidak mudah, Nur puas atas apa yang dijalaninya. Baginya, memberikan perto­longan merupakan kesenangan tersendiri. Sebab, donor darah juga menjadi jalan baginya untuk mengenal dan menjiwai kemanusiaan secara universal. ”Kami nggak pernah berbi­cara ras. Itu yang paling enak. Pendonor kami lintas agama. Semua sepakat kemanusiaan,” ujarnya. (feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *